Raksasa ritel asing segera membanjiri kota kota di Indonesia @ mesin kasir

Oleh : Sudarmadi/Siti Ruslina, Eddy D. Iskandar

Dengan potensi pasar yang mencapai Rp 50 triliun per tahun dan jumlah penduduk di atas 220 juta jiwa yang terus bertambah, bisnis ritel di Indonesia amat menggoda. Tak mengherankan, kini banyak pemain baru yang hadir dan ingin mencicipi bisnis ini di Tanah Air. Tak terkecuali, pemain ritel asing.

Ya, sejumlah ritel asing ternama di negeri masing-masing dikabarkan akan segera memasuki Indonesia, menyusul pemain asing yang lebih dulu hadir seperti Giant, Carrefour, Debenheim dan Sogo. Nama-nama baru yang dikabarkan segera hadir: Tesco, Jasco, Isetan, Seven-Eleven, Seibu dan Central. Ritel perkakas Ikea pun dikabarkan segera membuka gerai di Jakarta. Bahkan, ritel terbesar di Amerika Serikat yang dulu pernah masuk di Indonesia bersama Grup Lippo tetapi gagal, WalMart, kabarnya juga tertantang mencoba kembali peruntungannya di Indonesia. “Saya tahu siapa saja yang akan masuk (ritel asing), tapi semuanya belum ada kepastian kapannya,” ujar Handaka Santoso, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia yang juga Presdir Senayan City.

Berdasarkan penelusuran SWA, ada sejumlah ritel yang positif akan masuk. Antara lain, Central Retail Corporation (Central). Peritel besar asal Thailand ini sudah menandatangani memorandum of understanding dengan salah satu pengelola properti besar, Grand Indonesia, yang dikembangkan Grup Djarum. Namun, berdasarkan penelusuran SWA, Central masuk di Indonesia tidak dengan pola joint partnership dengan Grup Djarum, karena Grup Djarum lebih sebagai pemilik properti dan Central sebagai penyewa jangkar (anchor tenant). Central juga tidak bergandengan dengan Grup Hero sebagaimana gosip yang berkembang, melainkan dengan Ipung Kurnia sebagai pribadi (tidak atas nama Hero).

Isetan, peritel papan atas yang cukup dikenal di Asia Tenggara dan mempunyai gerai di Orchard Road, Singapura, juga siap masuk. Isetan sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu peritel lokal. Namun, sejauh ini belum jelas siapa mitra lokalnya. Kabar yang berkembang, kalau bukan Grup Agung Sedayu (Sugianto Kesuma), kemungkinan Mitra Adi Perkasa. Grup Pakuwon yang dikomandani Alexander Tedja kabarnya juga sempat meminang Isetan, tetapi lamaran raja properti Surabaya itu bertepuk sebelah tangan.

Selain Isetan dan Central, Seven-Eleven juga siap masuk. Namun, sejauh ini belum ketahuan siapa mitra lokalnya. Mungkin saja akan menggandeng Grup Charoen Pokphand, karena di Thailand jaringan convenient store itu dikembangkan grup ini. Nama lain yang juga disebut-sebut adalah Jasco, dept. store asal Jepang, yang mungkin akan hadir di Mall of Indonesia. Maklum, mal besar hasil patungan Grup Artha Graha dan Grup Agung Sedayu ini memang mempunyai dua wing yang cukup besar. “Mereka ingin punya dua dept. store. Makanya mencoba meminang Jasco dan Seibu,” ungkap Handaka. Akan tetapi, sejauh ini belum diketahui apakah dua peritel Jepang itu akan hadir dengan membuka kantor sendiri atau menggandeng mitra lokal seperti Central.

Sementara itu, kabar kehadiran salah satu peritel kelas atas asal Inggris, Tesco, hingga saat ini baru sebatas gosip bisnis. Memang, tiga tahun lalu mereka sudah berencana masuk, bahkan sempat punya kantor perwakilan. Namun, karena krisis, tidak jadi masuk ke Indonesia, malah ke Malaysia dulu. Toh, seorang pelaku bisnis ritel mengabarkan, sebenarnya manajemen Tesco sudah sepakat akan hadir di Indonesia, hanya tahun 2006 belum mungkin. Demikian juga Wal-Mart, yang waktu krisis hengkang dari Indonesia, sampai kini belum ada kepastian apakah mereka akan hadir di Tanah Air dengan kembali menggandeng Lippo atau justru maju sendiri.

Stefanus Ridwan, Ketua Asosiasi Pusat Belanja Indonesa (APBI), mengakui wajar bila akan banyak ritel asing yang masuk ke Indonesia. “Bukan hanya toko, bioskop pun akan masuk ke Indonesia. Namun, masih terbentur dengan masalah perizinan,” kata Ridwan. Masuknya ritel-ritel asing baru ke Indonesia, tidak bisa dimungkiri, juga dipicu maraknya pembangunan mal. Saat ini ada 22 proyek pembangunan pusat belanja yang hampir selesai konstruksinya, dari 39 proyek pusat belanja yang terdaftar di APBI. Dengan dibangunnya banyak mal, otomatis banyak penyewa yang dibutuhkan. Dari sinilah mulai bermunculan ritel-ritel asing yang kemudian dipinang pengusaha lokal.

Walhasil, persaingan di bisnis ritel pun makin panas saja.

(swa)

Artikel Menarik Lainnya:

Setelah Mc Donald Dikelola Sosro Akankah Coca-Cola Dipinggirkan?
Bagaimana Melihat Jiwa Kewirausahaan Dalam Diri Kita
AC-FTA Berpotensi Ciptakan 7,5 Juta Penganggur Baru
Izin Minimarket Milik Warga Wajib Jadi Skala Prioritas PEMDA

No Comments

  1. Thanks. Artikel yg bermanfaat u/ dibaca

Leave a Comment