The Largest 100, Para Pencetak Omset Terbesar @ mesin kasir

Inilah barisan peraih omset (revenue) terbesar pada 2007. Prestasi ini dicapai sebagian berkat kepiawaian mereka mengelola bisnis, dan sebagian lagi berkat faktor eksternal yang menguntungkan. Bagaimana agar pencapaian ini bisa berkesinambungan?

“2007 ended on a strong note, with Astra achieving record earnings.” Itulah sebagian catatan bernada bangga yang ditorehkan Michael D. Ruslim, Presdir Grup Astra, mengomentari laporan keuangan 2007 kelompok usaha yang dipimpinnya. Ya, Michael memang patut bangga. Di ujung tahun bukunya yang berakhir pada 31 Desember 2007, omset Astra naik 26% (dibanding tahun sebelumnya) menjadi Rp 70,18 triliun. Dan yang lebih penting, laba bersih (net income)-nya naik fantastis 76%, sekaligus mencatatkan rekor baru sebesar Rp 6,5 triliun. 

Dengan revenue Rp 70 triliun lebih itu, Astra juga membuktikan diri sebagai perusahaan terbesar di Tanah Air dari segi omset. Kelompok usaha yang dibidani oleh William Soeryadjaya ini malah mengungguli PT Telkom, BUMN telekomunikasi yang asetnya lebih besar. Selain mereka berdua, secara umum nama-nama besar yang hinggap di peringkat atas daftar The Largest 100 (dari segi omset yang dicapai pada 2007) adalah pentolan bisnis rokok (HM Sampoerna dan Gudang Garam); consumer goods (Indofood dan Unilever); pertambangan dan energi (Inco dan Bumi Resources); serta alat berat (United Tractors) – lebih lengkapnya silakan lihat: Tabel. 

Prestasi Astra memang terkait dengan kondisi bisnis otomotif yang cukup sumringah pada 2007. Lihat saja, pasar mobil nasional tumbuh 36% menjadi 434 ribu unit. Penjualan Astra meningkat 28% menjadi 223 ribu unit, meskipun pangsa pasarnya turun dari 55% (2006) menjadi 52%. Sementara itu, pasar sepeda motor nasional juga tumbuh 6% menjadi 4,7 juta unit. Kendati masih dominan – lantaran persaingan yang amat ketat di bisnis ini – penjualan Astra drop 9% menjadi 2,1 juta unit, dengan pangsa pasar turun dari 53% menjadi 46%. Secara keseluruhan, di sektor bisnis otomotif, laba usaha Astra mencapai R 1,7 triliun, atau dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. 

Kinerja sektor nonotomotif Astra – yang pada garis besarnya terdiri dari bisnis jasa finansial, agrobisnis, dan alat berat – pada 2007 juga kinclong. Laba usaha sektor ini meningkat 100% menjadi Rp 6,8 triliun. Lagi-lagi, didukung kondisi pasar. Sebagai contoh, jasa finansial ini memetik untung dari pertumbuhan pasar otomotif. Volume dana yang disalurkan oleh FIF dan Astra Credit Company tumbuh 11% menjadi Rp 20,7 triliun. 

Dukungan pasar terhadap kinerja penjualan dirasakan pula oleh PT Telkom, yang duduk di peringkat kedua dengan revenue Rp 59,44 triliun (tumbuh 15,88% dibanding tahun sebelumnya). Menurut Rinaldi Firmansyah, Presdir Telkom, bisnis utama Grup Telkom mencakup empat macam, yakni: fixed line (telepon kabel); seluler (Telkomsel); fixed wireless (TelkomFlexi); dan broadband multimedia (Speedy dan semacamnya). “Bisnis seluler memberi kontribusi pendapatan terbesar pada total pendapatan Grup Telkom,” ungkap Rinaldi. Hal ini disebabkan meningkatnya pengguna jasa seluler Telkomsel (Kartu Halo, Simpati, dan As) yang per September 2007 mencapai 44,45 juta pelanggan, atau meningkat 36,9% dibanding posisi September 2006. Bahkan, pada saat diwawancarai, Rinaldi menyebut pelanggan Telkomsel sudah mencapai 55 juta. Sebagai angsa bertelur emas, Telkomsel mengontribusi lebih dari 40% total pendapatan Telkom.

Bisnis fixed wireless yang dimasuki Telkom juga tumbuh signifikan. Per September 2007 pelanggan TelkomFlexi mencapai 5,6 juta, sedangkan pada 2006 masih 3,6 juta. Bahkan ketika diwawancarai, sudah mencapai 6,2 juta pelanggan (dengan target hingga akhir 2008 mencapai 8,1 juta pelanggan). Adapun “si bungsu”, bisnis broadband multimedia, kini telah memiliki 500 ribu pelanggan – di luar pelanggan Internet dial up yang mencapai sekitar 700 ribu pelanggan. 

Prestasi Telkom diikuti pemain telekomunikasi lainnya, PT Indosat. Perusahaan yang duduk di peringkat 10 dari segi omset ini berhasil mendongkrak omsetnya sebesar 34,72% dari Rp 12,2 triliun pada 2006 menjadi Rp 16,48 triliun pada 2007. Dan seperti halnya Telkom, driver utama bisnis Indosat juga dari jasa seluler (dengan kontribusi 70%-75%), khususnya dari penambahan pelanggan Mentari dan IM3. Bahkan, menurut Johnny Swandi Syam, Dirut Indosat, jumlah pelanggan selulernya hingga 30 Juni 2998 sebanyak 32,4 juta, atau tumbuh 62,1% dibanding periode yang sama tahun lalu dengan pelanggan 20 juta. Boleh dibilang, hal itu bisa dicapai karena didorong oleh promo yang digeber IM3 dan Mentari.

Pertumbuhan omset mengesankan dicatat pula oleh PT Indofood Sukses Makmur, yakni sebesar 26,97% dari Rp 21,9 triliun (2006) menjadi Rp 27,8 triliun (2007). Perlu diketahui, Indofood memiliki empat kelompok usaha, yakni: grup produk konsumer bermerek (mi instan, bumbu masak, snack, dan sebagainya); grup tepung terigu (PT Bogasari Flour Mills); grup agrobisnis (kelapa sawit termasuk yang baru diakuisisi PT Lonsum, kakao, dan tebu/gula); serta grup distribusi. 

Menurut Franky Welirang, Wapresdir Indofood, pertumbuhan bisnis Indofood sebagian besar berkat pertumbuhan organik. “Dalam arti, sejalan dengan pertumbuhan pasar dan harga komoditas,” ujarnya. Ia mengakui, pertumbuhan penjualan dari sisi volume relatif kecil. Jadi, kontribusi lonjakan omset lebih disebabkan kenaikan harga jual komoditas di tingkat global. Menurutnya, pertumbuhan harga jual terbesar terjadi di kelompok komoditas seperti agrobisnis khususnya sawit (crude palm oil/CPO) dan tepung terigu. “Perkebunan yang paling menonjol lonjakannya. Bisa dilihat di tahun 2007, harga CPO meningkat drastis,” katanya. Belakangan memang ada kenaikan harga CPO dari US$ 300/ton menjadi US$ 800-1.200/ton. 

Namun, pada 2007 itu, tampaknya tak ada perusahaan yang mengalami pertumbuhan revenue sefantastis PT Inco, yang berbisnis di tambang nikel. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Valley (Brasil) dan Sumitomo (Jepang) ini punya keunggulan lantaran mengelola lahan konsesi yang cukup luas, yakni 218 hektare, dan didukung fasilitas pengolahan nikel yang cukup canggih. Bisnis Inco memang captive, karena menyuplai produksinya berupa produk biji nikel olahan ke Sumitomo dan Valley.

Arif S. Siregar, CEO Inco, mengakui keberhasilan perusahaan yang dipimpinnya meningkatkan revenue selama dua tahun terakhir, karena diuntungkan kondisi makro manakala harga komoditas nikel mencapai puncaknya pada 2007, yakni US$ 52 ribu per metrik ton. Pada 2007, Inco menghasilkan 76.800 metrik ton. Tak heran, laba bersihnya mencapai US$ 1,2 miliar – hampir separuhnya diberikan kepada pemerintah sebagai penerimaan negara. Toh, diakui Arif pula, sekarang ini (ketika diwawancarai) harga nikel justru sedang turun drastis, mencapai US$ 21 ribu/metrik ton.

Menurut Aviliani, melihat nama-nama yang masuk peringkat atas perusahaan terbesar dari segi omset, sebagian besar memang memiliki pasar yang sangat potensial. Pengamat ekonomi dan bisnis dari Indef ini mencontohkan, pertumbuhan Telkom dan Indosat dari waktu ke waktu terus signifikan. “Apalagi, mereka mengembangkan variasi produk dan fitur. Secara tidak sadar masyarakat akan terus mengonsumsi dan sekaligus menambah pendapatan mereka,” ungkapnya. 

Begitu pula dengan industri pertambangan yang memasukkan wakilnya seperti Bumi Resources dan Inco. “Harga batu bara lagi bagus-bagusnya, sehingga mereka mendapatkan keuntungan luar biasa,” ujarnya sambil mencontohkan Bumi Resources. Lalu, industri rokok – yang diwakili HM Sampoerna dan Gudang Garam – pasarnya sudah begitu besar. Apalagi, lanjut Aviliani, makin banyak orang Indonesia yang stres larinya ke rokok, sehingga permintaan rokok terus bertambah. Adapun Indofood, disebutkan Aviliani, punya keunggulan karena produk mi instannya sudah bisa menggantikan nasi, dan bahkan telah berhasil masuk ke pasar internasional. 

Khusus mengenai Astra, Aviliani menilai grup usaha ini bukan cuma kuat di sektor otomotif, tapi juga telah masuk ke industri perkebunan, onderdil, hingga jasa leasing. “Mereka melakukan pengembangan vertikal dan horisontal,” ujarnya seraya mencontohkan penjualan mobil menggunakan jasa leasing dari Astra Credit Company. “Sukses Astra karena mendiversikasi perusahaan, bukan cuma produk,” katanya.

“Jadi, saya melihat pada daftar 10 besar itu, pasarnya memang besar dan mereka sudah jadi pemain kelas dunia,” tutur Aviliani. Yang tak kalah penting, ia menilai kontribusi Top 10 perusahaan beromset terbesar ini terhadap ekonomi makro dan perputaran ekonomi cukup besar, khususnya di bidang manufaktur. “Sebab, di Indonesia relatif tidak ada lagi pemain baru di bidang manufaktur,” katanya terkesan agak kecewa.

Michael Tjoajadi, Direktur Schroder Investment Management, punya penilaian hampir senada, yakni bila melihat 10 perusahaan teratas dalam daftar, cukup mewakili semua sektor besar yang jadi driver pembangunan. Namun, ia menyebutkan daftar The Largest 100 ini bisa digunakan untuk memproyeksi sejauh mana perusahaan-perusahaan tersebut menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB). 

Nah, jika dikaitkan dengan PDB, pengeluaran konsumsi (swasta dan pemerintah) masih memegang kontribusi terbesar yakni 63,77%, disusul investasi 22,77%, dan net export 10,45%. “Ini berarti konsumsi masih menjadi driver utama pembangunan,” cetusnya. Tak mengherankan, menurut Michael, jika saham Astra, Telkom, Sampoerna, Gudang Garam, dan Indofood, menduduki lima besar. “Karena mereka berbasis consumer goods,” katanya. Akan tetapi, buru-buru ia mengingatkan, sebenarnya pemeringkatan berdasarkan omset ini belum cukup untuk menilai prospek saham perusahaan itu di masa mendatang. Alasannya, masih banyak variabel ukuran kualitatif dan kuantitatif yang harus dipertimbangkan pula. 

Toh, Aviliani berani menilai, untuk mereka yang duduk di jajaran peringkat atas, kenaikan omset mereka umumnya sejalan dengan kapitalisasi pasar, profitabilitas, dan harga saham. “Walaupun harga sahamnya naik-turun, itu hal yang wajar karena masih tergolong stabil. Masyarakat melihat adanya keberlanjutan pada perusahaan-perusahaan ini,” ucapnya menyimpulkan. Franky yang ditanya soal melorotnya harga saham Indofood hingga Rp 1.900/lembar (26 Agustus 2008) tentu setuju dengan pendapat Aviliani. “Kinerja nilai saham kami masih bagus kok. Melihatnya rata-rata setahun dong, jangan cuma nilai pasar kemarin,” katanya. 

Lantas, bagaimana agar mereka bisa mempertahankan atau meningkatkan kinerja omsetnya? “Mereka harus menekankan sustainability daripada hanya mengejar angka yang kemudian turun,” Aviliani menyarankan.

Tampaknya, perusahaan-perusahaan dengan nama besar ini cukup ngeh. Mereka sadar tak mungkin terus bersandar pada nasib baik, seperti lonjakan harga komoditas yang mereka produksi.

Telkom contoh yang bagus. Perusahaan pelat merah ini menyadari, lantaran kondisi persaingan yang makin ketat di industri telekomunikasi, pertumbuhan yang di tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai dua digit mungkin akan menurun. Karena itu, menurut Rinaldi, untuk mengoptimalkan bisnisnya Telkom hendak melakukan sinergi antaranak usahanya. Misalnya untuk menyediakan layanan triple play yang menggabungkan layanan suara, Internet dan TV sebagai hasil sinergi dari anak-anak usaha Telkom. Selain itu, Telkom juga punya strategi defending the legacy, growing the new wave. Dengan strategi ini, Telkom siap melakukan ekspansi bisnis ke jasa broadband, layanan teknologi informasi (TI), data & multimedia, dan sebagainya – baik secara organik maupun nonorganik (akuisisi). Sebagai contoh, Telkom sudah mengakuisisi PT Sigma Cipta Caraka untuk memperbesar bisnis TI-nya di bidang keuangan. Menurut Rinaldi, agar tetap berkesinambungan, Telkom sudah menyiapkan dana investasi Rp 23,5 triliun sebagai capital expenditure –termasuk untuk akuisisi. 

Contoh lainnya ditunjukkan Inco dengan berekspansi ke beberapa lokasi pertambangan baru guna meningkatkan kapasitas produksinya. Maklum, bulan madu harga jual tinggi sudah lewat, karena kini harga nikel dunia turun drastis hingga US$ 21 ribu/metrik ton (dari sebelumya mencapai puncaknya pada 2007, yakni US$ 52 ribu/metrik ton). Selain itu, Inco tengah menyelesaikan pembangunan fasilitas suplai hydropower ketiga, sehingga tak lagi tergantung pada penggunaan BBM ataupun sulphur oil untuk kegiatan eksplorasi ataupun eksploitasinya. Kalau ini berjalan, tentu akan ada penghematan besar-besaran. 

Adapun Indofood belakangan terlihat makin rajin ekspansi bisnis. Termasuk dengan cara akuisisi, seperti dilakukannya pada perusahaan perkebunan sawit Lonsum dan perusahaan gula Laju Perdana Indah. “Indofood itu total food solution company yang terintegrasi penuh,” ujar Franky mengungkap prinsip bisnis perusahaannya. “Kami bisa stabil karena terintegrasi. Misalnya saja, grup agrobisnis dan grup tepung terigu menjadi jaminan pasokan buat grup produk bermerek.” 

Aviliani mengingatkan, kebanyakan perusahaan Indonesia punya kebiasaan buruk jarang melakukan inovasi. “Jangan nanti ketika sudah jatuh baru memikirkan inovasi,” katanya mewanti-wanti.

Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar, Tutut Handayani, Fadlly Murdani, Afiff Maulana Dewanda. Riset: Sofyan Eko Putra.
Astra:
Sukses Berkat Kembangkan Mata Rantai Bisnis

Yuyun Manopol & Fadlly Murdani

Detik-detik penantian kami akhirnya berbuah jua. Sesosok pria paruh baya dengan kemeja putih dan kacamata minus plus wajah seriusnya keluar dari ruang rapat direksi di kantor Astra International di Sunter, Jakarta, pagi itu. Sebuah bisikan masuk ke kuping kami. “Bapak hanya punya waktu 7 menit,” kata seorang pria di bagian kehumasan Grup Astra. Pria yang dinanti itu memang istimewa: Michael D. Ruslim, Presiden Direktur PT Astra International, perusahaan induk Grup Astra. Di bawah kepemimpinannya, Astra berhasil mencetak omset (revenue) Rp 70,18 triliun pada 2007 atau tumbuh 26,44% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan pencapaian ini, Astra tercatat sebagai perusahaan publik beromset terbesar di Tanah Air. 

Bagi Astra, 2007 memang tahun penuh makna. Maklum, pada tahun itu Astra mencatat laba bersih tertinggi dalam sejarah beroperasinya dengan nilai Rp 6,52 triliun atau meningkat 76% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencetak Rp 3,71 triliun. 

Torehan prestasi ciamik tampaknya masih berlanjut. Sebab, pada semester I/2008, Astra mencatat laba bersih Rp 4,75 triliun atau naik 81% dari periode yang sama pada 2007. Hal ini terjadi karena lonjakan laba dua anak usahanya, yakni Astra Agro Lestari (AAL) sebesar Rp 1,6 triliun dan United Tractors Rp 1,2 triliun. Dengan kata lain, keduanya memberi kontribusi lebih dari separuh total laba Grup Astra. Tak mengherankan, dominasi otomotif dalam menyumbang pendapatan dan laba ke grup tergeser oleh gabungan keduanya. Sebagai catatan, AAL yang berbisnis sawit baru-baru ini meningkatkan produksinya sebesar 20% menjadi 494 ribu ton.

Hal yang sama terukir pada kinerja omset. Pada semester I/2008 total omset Grup Astra (dalam hal ini diwakili Astra International sebagai holding company) mencapai Rp 46,27 triliun atau tumbuh 46% dibandingkan semester I/2007 yang menggaet Rp 3,34 triliun. 

Michael mengungkapkan, kemampuan perusahaan yang didirikan William Soeryadjaya pada 20 Februari 1957 ini dalam meraih omset terbesar karena beberapa hal. Pertama, Astra mengembangkan empat bidang usaha dengan mata rantai bisnisnya sekaligus, yakni otomotif, agrobisnis, peralatan berat & pertambangan, serta infrastruktur. Contohnya, otomotif dengan rantai bisnisnya mulai dari komponen, produksi, pemasaran, distribusi, pembiayaan, asuransi dan layanan pascajual. Hal serupa juga terjadi pada bidang usaha yang lain. Sebutlah, agrobisnis (AAL). Perusahaan yang didirikan pada 9 Juli 1973 dan awalnya fokus memproduksi singkong ini memiliki mata rantai mulai dari penanaman bibit kelapa sawit (sejak 1984), pemrosesan menjadi minyak sawit mentah (CPO) sampai pengapalan. Rantai bisnis berikutnya adalah peralatan berat dan pertambangan (Grup United Tractors) yang dirintis pada 1973 sebagai distributor link belt Komatsu dan crane Tadano. Lalu, mata rantai yang sedang dijajaki, yaitu infrastruktur. “Dengan portofolio seperti ini, jika ada satu yang turun, yang lain bisa menunjang,” ujar Michael, kelahiran 29 November 1953.

Faktor kedua, “Mata rantai ini membuat kami lebih kompetitif dari cost structure,” ujar penyandang MBA dari University of Wisconsin, Madison (AS) ini. Adapun yang ketiga, karena Astra memahami pasar. Ia mencontohkan sepeda motor. Astra mampu melihat daya beli masyarakat dan kemudian membuat segmentasinya. 

Hal ini diamini Aviliani, pengamat ekonomi-bisnis dari Indef. Menurutnya, Astra memiliki kemampuan pengembangan secara vertikal dan horisontal. Contohnya, Astra menjual mobil dan menyediakan leasing-nya melalui Astra Credit Company. Setelah itu, jika pembeli tidak bisa membayar, mobil bisa dikembalikan dan disewakan oleh TRAC (sekarang Astra Rent A Car) yang merupakan perusahan rental mobil Astra. Di sini, Aviliani melihat Astra sukses mendiversifikasi perusahaan, bukan hanya produk. 

Wanita ini juga menilai Astra mampu melihat peluang dan mengambil penetrasi pasar yang berbeda dari produk intinya. Contohnya, lewat usaha perkebunan dengan bendera AAL dan ternyata berhasil. Yang menarik, lanjutnya, Astra memliki kemampuan menciptakan sistem kemitraan dengan usaha kecil, baik di usaha perkebunan maupun otomotif. “UMKM binaan Astra membuat paku, mur, dan semacamnya, lalu Grup Astra yang membeli. Jadi, Grup Astra tidak hanya memberi modal, tapi juga membeli hasil produk UKM tersebut,” paparnya.

Mengenai pengembangan usaha, Astra pun tampaknya tak mengharamkan langkah non-organik. Sebagai contoh, Grup Astra melalui anak usahanya Astratel Nusantara yang bermitra dengan Citigroup Financial Products mengakuisisi 54% saham PT Marga Mandala Sakti (operator jalan tol ruas Tangerang-Merak sepanjang 72,45 km). Aksi korporat pada 1 Agustus 2005 ini menjadi pintu masuk Grup Astra ke bisnis jalan tol. Tak cukup di situ, pada 2006, dengan mitra yang sama, Astratel mengakuisisi 49% saham PAM Lyonnaise Jaya untuk mengoperasikan persediaan air bersih di bagian barat Jakarta. 

Intertel Nusaperdana mengakuisisi 34,91% saham milik Toyofuji Logistic Indonesia pada 2005. Aksi ini membawa Grup Astra memasuki bisnis logistik kendaraan untuk ekspor-impor. “Kami melihat, bagi negara berkembang, infrastruktur merupakan prasyarat untuk perputaran roda ekonomi,” ujar Michael, yang diangkat menjadi komandan Grup Astra pada 26 Mei 2005. Dan ia menegaskan Grup Astra harus berpartisipasi dalam pembangunan dan roda ekonomi. “Bisnis ini akan kami besarkan, tapi tidak menggantikan bisnis yang lain,” ujar sarjana teknik industri dari University of California, Berkeley (AS) ini. 

Keseriusan ini juga dilakukan Astra di bidang perbankan. Menurut Senior VP Corporate Communication Environment Social Responsibility & Security Astra Arief Istanto, keputusan Astra masuk ke Bank Permata adalah langkah jangka panjang. ”Ini bukan sekadar memenuhi portofolio atau karena akan dijual lagi,” katanya. Kepemilikan Grup Astra di Bank Permata saat ini mencapai 44,51%. 

Yang patut dicatat, meskipun meraih rekor omset tertinggi di antara perusahaan-perusahaan publik terbesar di Indonesia, Astra tidak membukukan laba terbaik. Berdasarkan perhitungan SWA, posisi pencapaian laba bersih Astra hanya berada pada posisi ke-4 di bawah Telkom, Inco dan Bumi Resources. Menurut Michael, pendapatan memang tidak berbanding langsung atau sama dengan gross profit atau net profit. ”Ini tergantung bidang usaha,” ujarnya. Ia mencontohkan kinerja agrobisnis dan pertambangan yang tumbuh besar karena harga komoditas sedang tinggi. Adapun di bidang otomotif, karena harga baja naik 60% , maka langsung dibebankan kepada pembeli. ”Jadi, apa yang terjadi di otomotif karena cost structure-nya sudah meningkat. Bukan karena kami tidak efisien, tapi karena harga baja, alumunium, dan harga material lainnya sedang tinggi-tingginya,” katanya sambil menyinggung pengaruh kondisi ekonomi global terhadap harga baja. Namun, ia memastikan, relatif lebih kecilnya laba di Grup Astra bukan karena ekspansi. 

Menurut Michael, margin adalah medium term. ”Sama seperti kami memperluas pabrik Daihatsu Motor, pasti hasilnya tak bisa dilihat hari ini. Tapi baru 6 bulan atau dua tahun ke depan,” ujarnya memberi contoh. Ia menyebutkan, jika tak ada investasi, pasti tak ada pembangunan. Di sisi lain, lanjutnya, dalam berbisnis Astra selalu melihat dari tiga hal yaitu short term, medium term dan long term-nya. ”Kalau hanya mau jual-beli barang, itu short term saja. Tapi, pasti tak ada pembangunan industrinya,” katanya. Ia juga memastikan, Astra tak akan berinvestasi dari hulu sampai ke hilir jika tak ada dampak positifnya. Contohnya, menciptakan lapangan kerja di luar investasinya. 

Selain itu, menurut Michael, setiap bisnis Astra selalu melihat 3W-nya: winning concept, winning system dan winning team. Artinya, sebelum memasuki sebuah bisnis baru, Astra harus tahu dulu apa yang diperlukan dan apa strateginya agar Astra lebih unggul daripada yang lain. Hal ini dikenal dengan winning concept. Setelah itu, winning team yang ditujukan untuk membuat tim yang efisien. Artinya, jika ada dua step, kenapa harus 6 step. Adapun yang terakhir, winning system. ”Jangan sampai bisa membuat motor tapi tak bisa jual, itu tidak nyambung. Atau sebaliknya, bisa jual tak bisa buat,” katanya memberi contoh seraya memprediksi ke depan kontribusi otomotif (dari nilai rupiahnya) tetap yang terbesar. ”Tapi dari segi growth saya tak tahu, karena otomotif memiliki banyak sekali peraturan baru dan harga materialnya sering naik,” ujarnya.

Riset: Rohmad Purnadi.
Strategi Telkom Agar Terus Tumbuh

Di tengah perang tarif yang cenderung berefek negatif, Telkom meraup laba tertinggi di antara perusahaan-perusahaan terbaik di Tanah Air. Apa strateginya agar tetap sustain? 

Yuyun Manopol & Tutut Handayani

“To become a leading infocom (information & communication) player in the region.”

Itulah salah satu visi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom). Visi yang jelas tak ringan, karena di Asia Tenggara, Asia atau Asia Pasifik sudah eksis sejumlah jawara di industri yang sama. Namun untuk Indonesia, Telkom memang memukau. Pada SWA100 kali ini, Telkom tercatat sebagai perusahaan dengan laba bersih tertinggi, yakni senilai Rp 12,86 triliun, atau tumbuh 16,82% dibandingkan tahun 2006 sebesar Rp 11 triliun. Prestasi ini sekaligus memantapkan posisinya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Tanah Air. 

Tak hanya itu, perusahaan yang didirikan pemerintah kolonial Belanda pada 1882 dan awalnya berbentuk badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegram ini juga tercatat sebagai perusahaan publik beraset terbesar, yakni senilai Rp 82,06 triliun, atau naik 9,21% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 75,13 triliun. Pada sisi omset, Telkom yang pada 2007 membukukan penjualan Rp 59,44 triliun menempati peringkat kedua terbesar setelah PT Astra International. Omset ini naik 15,88% dibandingkan 2006.

“Kami mengembangkan sejumlah anak perusahaan untuk mengoptimalkan bisnis,” ujar Rinaldi Firmansyah, Presdir Telkom. Selain itu, Rinaldi berusaha menciptakan sinergi antar-anak perusahaan untuk menggenjot pendapatan. Pada semester I/2008, perusahaan yang memiliki 15 anak perusahaan ini mampu meningkatkan pendapatan 6% dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, ada empat bisnis utama yang selama ini memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan Telkom, yaitu: fixed line (telepon kabel), seluler (Telkomsel), fixed wireless (Telkom Flexi), dan broadband multimedia. Kontributor terbesarnya adalah bisnis seluler, yang menyumbang 40% pendapatan. 

Diungkapkan Rinaldi, pengguna jasa Telkomsel — Kartu Halo, Simpati dan As — per September 2007 mencapai 44,45 juta pelanggan, naik 36,9% dibandingkan posisi September 2006. Posisi sekarang, 55 juta pelanggan. Pencapaian ini semakin memantapkan posisi Telkomsel di pasar seluler Indonesia dengan pangsa pasar lebih dari 50%. 

Pasar fixed wireless dengan produk Telkom Flexi juga mengalami pertumbuhan signifikan. Per September 2007 tercatat 5,6 juta pelanggan yang kini meningkat menjadi 6,2 juta pelanggan. Target sampai akhir 2008: lebih dari 8,1 juta pelanggan. 

Sayangnya, pasar fixed line menurun cukup drastis. ”Budaya menelepon masyarakat kan sudah berubah. Kini mereka jarang memakai telepon kabel,” ujar Rinaldi. Menurutnya, saat ini Telkom banyak berkonsentrasi pada broadband dengan memanfaatkan jaringan fixed line. Alasannya, Telkom punya keunggulan yang tidak dimiliki operator lain, yaitu jumlah pelanggan fixed line yang mencapai 9 juta sambungan kabel. 

Bisnis masa depan Telkom, Rinaldi menjelaskan, adalah pelayanan data dan Internet alias broadband multimedia. Telkom telah mengakuisisi PT Sigma Cipta Caraka, perusahaan teknologi informasi yang dikenal punya spesialisasi di bidang jasa keuangan khususnya perbankan. Telkom bakal mengakuisisi 6 perusahaan TI semacam Sigma, yang akan digunakan untuk mendorong pertumbuhan pelanggan korporasi di sektor keuangan, perbankan, pendidikan, perdagangan dan manufaktur. 

Sebagai catatan, jumlah pelanggan broadband Telkom saat ini 500 ribu, di luar pelanggan dial-up Internet yang mencapai 700 ribu. Rinaldi berharap pelanggan korporasi mampu meningkatkan pendapatan sebesar 20% sampai akhir 2008.

Untuk mengembangkan diri agar tetap sustain, Telkom menyiapkan dana investasi Rp 23,5 triliun sebagai capital expenditure-nya. Dana ini digunakan untuk berbagai macam investasi, termasuk akuisisi perusahaan. 

Adapun strategi yang akan ditempuh Telkom adalah growing the new wave. Ini adalah strategi ekspansi ke broadband, business enterprise, jasa TI, data serta multimedia yang tumbuh secara organik dan non-organik dengan cara akuisisi. Dikatakan Rinaldi, bisnis broadband Telkom tumbuh secara organik dengan cara membangun infrastruktur dan kapabilitasnya. Per Juni 2008 broadband di-upgrade menjadi 1 Mb per detik dari sebelumnya 384 Kb per detik, dan hasilnya sudah bisa dirasakan di seluruh kota provinsi di Indonesia. Selain itu, yang tadinya hanya bisa diakses melalui suara sekarang sudah bisa melalui video atau gambar (diluncurkan 17 Agustus 2008). 

Dalam upaya memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham, khususnya pada tahun buku 2007, Telkom memberikan special dividend sebesar 15%, di luar cash dividend yang mencapai 55%. Alhasil, total net income yang dibagikan dalam bentuk dividen mencapai 70%. ”Ini merupakan persentase dividend pay out terbesar selama ini,” ujar Rinaldi.

Total revenue Telkom sampai akhir 2008 diperkirakan tumbuh 10% dengan nilai lebih dari Rp 60 triliun, sedangkan aset akan mencapai Rp 80 triliun. Rinaldi memastikan segmen seluler tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar, disusul fixed line, fixed wireless dan broadband. ”Tapi di masa depan bisnis broadband akan menjadi dominan.”

Perang tarif di jasa seluler Indonesia, diakui Rinaldi, berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Akibatnya, pertumbuhan perusahaan tidak bisa lagi mencapai dua digit seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut Ari Pitoyo, Director Head of Equity Research PT Mandiri Sekuritas, pada 2007 dan beberapa tahun sebelumnya, Telkom selalu mengalami pertumbuhan laba yang positif. Namun, akibat perang tarif yang sangat ketat sepanjang 2008, banyak pelaku pasar modal yang menduga laba Telkom akan melemah atau negatif. Lalu, apakah saham Telkom akan tetap diburu? ”Kalaupun tetap diburu, ada faktor lain yang membuat saham Telkom menjadi pilihan investor, misalnya prospek industri dan reputasi perusahaan,” kata Ari.

Sebagai gambaran, pada awal Agustus 2008, harga saham Telkom sebesar Rp 7.650/lembar dengan kapitalisasi sebesar Rp 154,2 triliun. Pada 25 Agustus harga saham terkerek 1,3% menjadi Rp 7.750 sehingga kapitalisasinya menjadi Rp 156,2 triliun.  Oleh : Joko Sugiarsono

Artikel Menarik Lain:

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply