Rupiah Melemah, Waralaba Asing Resah @ mesin kasir
SURABAYA - Depresiasi rupiah terhadap USD bakal berdampak negatif terhadap perkembangan bisnis waralaba asing di Indonesia. Pasalnya, beberapa komponen biaya bisnis tersebut menggunakan mata uang AS, seperti royalty fee dan bahan baku yang harus diimpor. Situasi ini bakal mengerus pendapatan waralaba dan bisa menghambat ekspansi usaha.
”Royalty fee selama ini dibayar dalam bentuk USD. Sementara pendapatan dalam rupiah, sehingga harus dikonversi. Dengan kenaikan ini, maka pendapatan akan semakin berkurang,” kata Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Amir Karamoy saat dihubungi Jawa Pos kemarin (27/10). ”Demikian juga dengan adanya kewajiban beberapa bahan baku yang harus diimpor.”
Menurutnya, pewaralaba yang memegang hak franchise asing akan semakin kesulitan kalau rupiah terdepresiasi lebih dari Rp 11 ribu per USD. ”Memang, kondisi saat ini tidak seperti 1997-1998, dimana saat itu nilai tukar rupiah terhadap USD terjun bebas sehingga sekitar 80 persen franchise asing tutup. Jika nilai tukar menjadi Rp 10 ribu, franchisee masih bisa bertahan,”jelasnya.
Meski begitu, sejumlah franchisee mulai melakukan antispiasi kalau nilai tukar USD terhadap rupiah terus melonjak. ” Franchisee mulai memikirkan untuk appeal pada franchisor untuk mendapatkan kelonggaran. Entah dengan menetapkan batasan nilai tukar USD untuk royalty fee, atau lonjakan pembayaran royalty fee akibat perubahan nilai tukar dihitung sebagai utang dan bisa ditunda pembayarannya kalau situasi sudah membaik,” saran dia.
Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar sependapat kalau waralaba akan menunggu untuk melakukan ekspansi, bahkan mengurangi jaringannya. ”Tapi bukan tutup. Sebab Indonesia merupakan pasar yang dianggap mulai berkembang,” ujar dia. (aan/bas)
