PERITEL TAHAN EKSPANSI, Pelemahan Rupiah Guncang Industri @ mesin kasir
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level US$ 12.000 per dolar AS berdampak buruk pada sektor manufaktur, khususnya yang mengandalkan bahan baku impor, yakni otomotif, elektronik, farmasi, makanan minuman, dan jamu.
Padahal, sektor menufaktur tengah terimpit pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan suku bunga, dan turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor menyusul krisis ekonomi global. Pemerintah diminta secepatnya mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan sektor riil, sebelum kondisi terburuk yakni pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terjadi.
Demikian rangkuman pendapat Wakil Ketua Kadin Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan Rachmat Gobel, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin J Mailool, Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunarjo, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo, Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, Sekjen Electronic Marketer Club (EMC) Handojo Soetanto, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer Charles F Saerang, dan Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk Deden E Sutrisno secara terpisah di Jakarta, Selasa (28/10).
Pengusaha berharap, BI bisa menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp 9.000 – 10.000 per dolar AS. “Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah berpengaruh pada cash flow perusahaan. Misalnya industri elektronik kan butuh bahan baku impor, harganya pasti berubah,” kata Rachmat Gobel yang juga menjadi ketua Gabungan Elektronik (Gabel).
Saat ini industri elektronik nasional masih membutuhkan bahan baku impor sekitar 30% dari total komponen. Tingginya ketergantungan bahan baku impor terjadi karena masih adanya disharmonisasi tarif bea masuk. Bea masuk produk jadi justru lebih rendah dibandingkan bahan baku. “Ini yang perlu dibenahi pemerintah segera,” kata Rahmat.
Handojo menilai, pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan memicu kenaikan harga jual produk elektronik hingga 15%. “Kita masih nunggu, kalau sampai bulan depan rupiah masih di atas Rp 10.000 per dolar AS, harga jual barang elektronik akan dinaikkan 10-15% pada pertengahan November,” ujarnya.
Sedangkan Bambang Trisulo menilai, kinerja industri otomotif akan tertekan menyusul melemahnya rupiah. Sebab, sekitar 20-40% komponen mobil yang diproduksi di Tanah Air masih diimpor, seperti gir mobil dan karburator. “Kalau rupiah dibiarkan melemah terlalu lama, harga jual pasti dinaikkan. Dampaknya, target penjualan mobil bisa tidak tercapai,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra. Menurut dia, ADM belum berencana menaikkan harga jual guna merespons melemahnya nilai tukar rupiah mengingat perseroan baru menaikkan harga jual per 1 Oktober sebesar 1%. “Kami akan terus monitor perkembangan rupiah dan akan mengambil keputusan untuk jangka panjang,” tandasnya.
Peritel Tahan Ekspansi
Sementara itu, pengusaha yang tergabung dalam Aprindo cenderung menahan ekspansi menyikapi pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Pelaku usaha ritel terus mencermati perkembangan dampak krisis global, termasuk pelemahan rupiah. “Untuk tahun depan, kami harus berhati-hati agar tidak salah langkah, tidak perlu terlalu agresif, dan melihat situasi yang ada,” kata Benjamin J Mailool.
Di sisi lain, lanjut dia, dalam menghadapi kondisi tersebut peritel lebih memprioritaskan likuiditas dan cash flow perusahaan. “Kami harus melakukan berbagai efisiensi dan konsolidasi sebagai antisipasi krisis ini,” jelasnya.
Meski demikian, dia optimistis pertumbuhan omzet ritel sebesar 20% pada tahun ini bisa tercapai. Menurut dia, pertumbuhan omzet ritel nasional diprediksi mencapai Rp 70-72 triliun atau naik sekitar 20% dari sebelumnya yang hanya Rp 60 triliun. “Tahun depan pertumbuhan omzet ritel kemungkinan tak sampai 20%,” tuturnya.
Direktur Pengelola PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Pudjianto menambahkan, pihaknya tidak akan menaikkan setoran waralaba hingga tahun depan untuk mempertahankan kelangsungan gerai-gerainya. “Yang penting waralaba tetap untung dan kami pun untung,” ujarnya.
OGB Terancam Langka
Sedangkan di sektor farmasi, pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan memicu kenaikan harga jual. Di sisi lain, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kelangkaan obat generik berlogo (OGB) karena produksi obat jenis itu bakal berkurang. Anthony Ch Sunarjo menjelaskan, jika pelemahan rupiah terus berlanjut, produsen farmasi akan memproduksi produk yang masih mempunyai marjin laba aman.
Akibatnya, beberapa obat, terutama OGB, menjadi langka di pasar lokal. “Harga OGB diatur oleh pemerintah dan cenderung rendah. Jika harga bahan baku terus melonjak akibat pelemahan rupiah, marjin produsen OGB pasti tergerus, bahkan mungkin merugi. Hal itu karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jual. Jadi, rasionalisasi harga OGB jelas harus segera dilakukan. Itu demi kepentingan masyarakat dalam mengakses obat yang terjangkau,” kata Anthony.
Menurut dia, sekitar 90% bahan baku farmasi masih diimpor dari Tiongkok, India, Eropa, dan Amerika. “Kalau sudah melampaui batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS, itu sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” tuturnya.
Deden E Sutrisno mengakui, pelemahan rupiah memberatkan perusahaan farmasi nasional karena hampir 90% bahan baku diimpor dan menggunakan transaksi dalam dolar AS. Apalagi, produsen farmasi tidak dapat langsung menaikkan harga jual, sebab menyangkut kepentingan masyarakat. Untuk itu, lanjut Deden, pihaknya menyambut rencana Menteri Kesehatan (Menkes) untuk meninjau kembali harga obat di Indonesia.
Berbeda dengan Deden, Charles F Saerang yang mewakili eksportir jamu mengatakan, di pelemahan rupiah terhadap dolar AS menguntungkan eksportir. “Jika posisi rupiah semakin melemah, nilai transaksi penjualan di pasar tujuan ekspor melonjak. Itu berarti peluang bagi eksportir untuk meningkatkan nilai omzet,” katanya.
Saat ini, lanjut Charles, Nyonya Meneer mengekspor produk jamu berupa kapsul ekstrak dan produk kesehatan tradisional ke Taiwan, Malaysia, Arab Saudi, Belanda, dan Hongkong. Dia menjelaskan, meskipun kontribusinya terhadap biaya produksi 10-15%, kenaikan harga bahan baku yang mengikuti lonjakan dolar AS memberatkan produsen, apalagi harga jual tidak tak mungkin dinaikkan mengingat daya beli masyarakat sudah sangat rendah. (naf/dry)

nice artikel….
thanks ya infonya…
sangat bermanfaat
artikel yang menarik…bisnis elektronik..boleh juga tuch..