Definisi Ulang Bisnis Ritel di tengah Peluang Bisnis H @ mesin kasir
Definisi Ulang Bisnis Ritel di tengah Peluang Bisnis Hari Raya
DATANGNYA hari raya selalu ditunggu dengan gembira oleh pebisnis ritel.
Bisa dipastikan, penjualan mereka akan mengalami siklus puncak pada
saat-saat seperti itu. Paling tidak, di Indonesia, Hari Raya telah dan
akan diselenggarakan selama tiga bulan berturut-turut, yakni hari raya
Lebaran , Natal 25 Desember, dan Tahun Baru Imlek

Seperti biasa, gerai hypermarket seperti Carrefour, Giant, Alfa, Makro,
menjadi lokasi favorit berbelanja pelanggan kelas menengah. Sementara,
kalangan lebih bawah lagi masih mengandalkan gerai toko di pasar
tradisional.
Namun, tak semua kategori produk bisa laris manis pada saat-saat seperti
itu. Pakaian, makanan, dan minuman, khususnya kue dan roti, penjualannya
melesat. Barang-barang elektronik seperti kulkas, mesin cuci, televisi,
pertumbuhannya lumayan. Sementara, penjualan produk kosmetik umumnya
tetap pelan.
Kecenderungan tersebut tak hanya terjadi di negeri ini, tetapi juga
menjadi tren global di AS, Inggris, Jepang, dan Hong Kong. Bahkan, studi
yang dilakukan McKinsey beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa kategori
ritel seperti department store telah mencapai tahap yang mencemaskan,
karena pangsa pasar pemain utamanya mengalami kemerosotan lebih dari 10
persen.
Yang diperlukan saat ini adalah suatu cara baru untuk menarik perhatian
pelanggan yang memiliki kebiasaan berbeda dari generasi sebelumnya. Asal
tahu saja, kini banyak pelanggan yang mempraktikkan apa yang disebut
laser shopping.
Artinya, pelanggan baru memutuskan memasuki gerai ritel untuk membeli
produk tertentu dengan harga tertentu, setelah membandingkan harga dan
kualitas secara on-line di Internet.
Bagi kebanyakan pelanggan, department store hanya dikunjungi pada saat
menyelenggarakan acara banting harga (sale). Akibatnya, makin sering
department store menggelar acara banting harga, sekalipun struktur biaya
tidak mendukung hal itu. Sehingga, tidak sedikit department store yang
kemudian tutup.
Lebih Nyaman
Robert Blattberg, pengajar masalah ritel pada Sekolah Manajemen Kellog
di Northwestern University, Chicago, AS, tidak melihat lagi adanya masa
depan cerah bagi department store. Ia menduga akan banyak department
store yang keluar dari bisnis, seperti halnya gelombang kematian “mom
and pop shop” ketika department store mulai hadir di pasar dulu.
Perannya akan digantikan dengan toko diskon yang lebih mengandalkan pada
pakaian bisnis kasual ketimbang pakaian formal dalam jumlah besar yang
menjadi andalan department store.
Michael Silverstein, peneliti pada Boston Consulting Group, mengatakan
jumlah department store di AS memang sudah berlebihan jumlahnya. Ketika
penjualan menurun, maka kesempatan memperoleh keuntungan menghadapi
ancaman berat. Menurut Silverstein, ia melihat peluang pertumbuhan bagi
penjualan barang-barang mewah.
Membuat department store yang lebih nyaman dipandang dapat mengembalikan
pelanggan berkunjung ke gerai. Federated Department Store, yang memiliki
gerai Bloomingdale’s dan Macy’s di New York, menggunakan strategi yang
mereka sebut sebagai reinvent. Di dalamnya, termasuk menyediakan kereta
belanja kelas atas, membangun lorong di gerai yang lebih lebar, sehingga
pengunjung menjadi lebih leluasa bergerak serta memasang peralatan
pengecekan harga otomatis.
Lain lagi yang dilakukan department store lainnya yakni Sears & Roebuck
yang menggarap pasar pinggir kota. Sears tak menyebut perusahaan sebagai
jaringan department store melainkan sebagai sebuah broadbased retailer.
Proyek percontohan Sears dinamakan Sears Grand, yang untuk pertama
kalinya dibuka di Salt Lake City, Utah, dengan luas 19.500 meter
persegi. Dalam waktu dekat gerai Sears Grand akan dibuka di beberapa
lokasi untuk bertempur secara head to head dengan toko diskon atau toko
gudang seperti WalMart.
Cara lain untuk menekan kerugian yang dilakukan department store adalah
menghilangkan produk-produk yang memiliki perputaran lambat maupun
menyediakan jalur produk yang lengkap. Pilihan tersebut diambil Sears
dan JC Penney yang mengeluarkan kosmetik dari daftar jualan gerainya.
Direncanakan kosmetik akan dikembalikan ke gerai setelah dikemas bersama
majalah mode, produk kecantikan, dan pakaian wanita.
Produk Pilihan
Gagasan agar produk lebih dekat dengan pelanggan dilakukan Sears Grand
dalam menjual kulkas maupun freezer. Selain menjual produk tadi, Sears
Grand juga menyediakan isinya, seperti susu, jus, dan es krim. Sears
juga memiliki merek-merek kuat dalam peralatan pertukangan Craftsman dan
peralatan rumah tangga Kenwood. Bekerja sama dengan Land’s End, sebuah
perusahaan katalog dan penjualan lewat Internet, Sears mampu melayani
kebutuhan 870 gerainya di seluruh penjuru AS.
Bila department store pada akhirnya meninggalkan mal-mal di pinggiran
kota, siapa lalu yang akan menggantikannya? Kemungkinan yang akan
mengisinya adalah toko diskon seperti WalMart dan Target. Alasannya,
menggunakan mal lebih cepat, murah, dan tidak mengundang masalah dari
penduduk setempat, yang biasanya menentang pembangunan gerai ritel baru.
Namun, biaya logistik untuk model toko gudang di beberapa lantai mal
biasanya menjadi lebih mahal.
Target, yang berpusat di Minneapolis, AS, bersaing ketat dengan WalMart
tak hanya dalam hal harga murah, tetapi juga menyediakan produk pilihan
untuk kalangan atas. Harga sebuah jaket, misalnya, 30 persen lebih murah
daripada yang ditawarkan sepuluh tahun yang lalu.
Dengan pelbagai strategi jitu, bisnis ritel seperti department store
akan mampu bertahan lebih lama dan tak sekadar mengandalkan
peristiwa-peristiwa hari raya untuk meraup untung.
