Tahan Banting, Ritel Terkendala SDM @ mesinkasir


SURABAYA – Bisnis ritel diyakini sebagai salah satu sektor yang tahan banting. Bahkan, sektor ini diperkirakan terus tumbuh setiap tahun, termasuk di tengah gejolak ekonomi saat ini.

”Tahun ini, untuk ritel kategori consumer goods, pertumbuhannya mungkin bisa 13-15 persen,” kata Ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Jatim Abraham Ibnu Sabtu (10/1).

Menurut dia, pertumbuhan itu juga didukung oleh penambahan outlet. Dari 125 perusahaan ritel yang menjadi anggota Aprindo Jatim saat ini, telah berdiri 1.740 outlet. Itu meliputi hypermarket, supermarket, minimarket, dan department store.

Dengan pertambahan jumlah outlet itu, tutur dia, kebutuhan sumber daya manusia atau tenaga kerja juga meningkat. Satu minimarket butuh 10-15 tenaga kerja. ”Belum lagi outlet yang lain. Kebutuhannya bisa lebih besar,” terangnya.

Namun, dia mengakui pengembangan usaha ritel tak cuma mempertimbangkan investasi dan pemilihan lokasi. Tapi, juga terkait dengan penyerapan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Perusahaan ritel sering kesulitan mencari tenaga kerja yang memenuhi standar dan andal.

Demi mengatasi masalah tersebut, Aprindo Jatim bekerja sama dengan Institut Bisnis Manajemen dan Teknologi (IBMT) Appletree Campus mendirikan lembaga khusus untuk mendukung perusahaan ritel. Lembaga yang dinamai The Indonesia Center for Retailing (ICR) itu berupaya mencetak tenaga trampil di bidang ritel.

”Dukungan lembaga ini (ke sektor ritel) lebih ke arah pengayaan sumberdaya manusia,” kata Tjong Budisantoso, executive director ICR. Lembaga yang berlokasi di kawasan Diponegoro itu secara resmi diluncurkan Sabtu (10/1).

Lembaga itu membidik pemula (lulusan SMA) yang ingin belajar tentang bisnis ritel. Selain itu, juga staf perusahaan ritel yang ingin meningkatkan karir maupun pemilik ritel skala kecil dan menengah yang ingin mengembangkan usaha.

Program pendidikan bersifat jangka pendek dan berlangsung 3,5 bulan hingga dua tahun. Kurikulum pendidikannya hasil proses benchmarking dengan asosiasi dan retail institute dari Australia, Selandia Baru, dan Singapura.

”Proses pendidikan sengaja dibuat pendek supaya bisa memenuhi permintaan. Kebutuhan tenaga ritel cukup besar,” kata Abraham. Pengajarnya adalah praktisi dan akademisi di sektor ritel.

Source : JAWAPOS.Com

Artikel Menarik Lain:

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply