Matahari Ganti Parisian Jadi Matahari New Generation
Peritel nasional, PT Matahari Putra Prima Tbk (Matahari) mengubah merek Parisian menjadi Matahari New Generation sejak Januari 2009. Vice President Corporate Communication Matahari Roy N Mandey mengatakan, pergantian itu dilakukan karena perseroan ingin memperkuat posisi Matahari di pasar kelas menengah atas melalui Matahari New Generation.

Sebelumnya, Matahari meluncurkan Parisian sebagai salah satu merek ritel yang ditargetkan menyasar pasar kelas premium. Pada saat diluncurkan tahun 2008, Parisian ditargetkan menjangkau konsumen melalui 20 gerai baru selama tiga tahun dengan rencana total investasi US$ 400-500 juta.
Pada tahun yang sama, Matahari juga merilis Matahari New Generation dan hingga akhir 2008 membuka lima gerai di Jakarta. Menurut Roy, Matahari berencana membuka empat gerai baru Matahari New Generation pada 2009 meski harus menunggu keputusan pembukaan pusat perbelanjaan.
“Kami tidak mempailitkan Parisian hanya mengganti merek. Hal itu karena pada awal diluncurkan, perusahaan tidak memunculkan citra Matahari ke dalamnya sehingga konsumen bingung. Merek Parisian menjadi tidak familiar karena itu kami kembalikan dia ke pasar yang sebenarnya sudah kami garap yakni Matahari New Generation,” kata Roy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (13/1).
Dia menambahkan, konsep Matahari New Generation tetap fokus memasarkan produk lifestyle premium yakni sepatu dan kosmetika. Menurut dia, hingga kini sebesar 80% produk yang dijual di Matahari New Generation merupakan produk impor.
“Namun, kami tetap menjual produk lokal dengan kualitas ekspor,” kata Roy. Selain itu, lanjut dia, Matahari tetap fokus menggarap pasar kelas menengah yang menjadi bisnis utama perusahaan melalui Matahari Department Store (MDS).
“Hal itu merupakan keunggulan kami dan sebagai bagian langkah progresif perusahaan. Dan saat ini, konsumen Matahari mempunyai pilihan yakni MDS dan Matahari New Generation yang menyasar dua kelas berbeda,” ujar Roy.
Tumbuh 15%
Secara terpisah, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, sektor ritel nasional dapat bertumbuh hingga 15% pada 2009 menyusul dampak positif penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Penurunan harga BBM mempunyai imbas tapi kecil. Saya yakin hal itu bisa berdampak pada pertumbuhan sektor ritel tahun 2009 yakni berkisar 12-15 persen. Tergantung sektor mana yang bisa bersaing,” kata Ketua Pelaksana Harian Aprindo Tutum Rahanta di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan, penurunan harga BBM cenderung berdampak bagi peningkatan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Hal itu, lanjut dia, kemudian berimbas kepada sektor ritel.
“Setidaknya, harga jual produk akan ikut turun dan mereka bakal menikmati hasilnya. Penurunan harga BBM yang paling nyata meningkatkan daya beli masyarakat yang melemah akibat krisis sekarang ini,” kata Tutum.
Selain itu, dia mengatakan, penurunan harga BBM diikuti oleh tarif angkutan. Di sisi lain, Tutum mengatakan, dampak krisis finansial berimbas negatif bagi sektor ritel. “Jalan yang diambil jika tidak mengurangi buruh yang ada, ya menutup usaha,” tukas dia.
Karena itu, lanjut dia, sinergi penurunan harga BBM diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan yang diprediksi mulai meningkat pasca pemilu 2009. (eme)
