Omzet Makanan Minuman Diprediksi Tembus Rp 493 Triliun

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memperkirakan, nilai omzet industri makanan dan minuman (mamin) nasional pada 2009 bakal menembus Rp 493 triliun atau meningkat 12% dibandingkan tahun lalu.


Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan menjelaskan, pihaknya memproyeksikan omzet mamin pada 2008 mencapai Rp 440 triliun atau bertumbuh 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pada 2007, nilai omzet sektor ini mencapai Rp 383,01 triliun.

Pertumbuhan omzet itu, kata dia, dipicu oleh kenaikan harga jual produk. “Pada 2009, harga jual akan menurun dan kembali ke posisi semula sebelum melonjak pada Januari-Agustus 2008. Artinya, harga kembali normal. Lonjakan harga 2008 tidak normal karena dipengaruhi bubble akibat spekulasi bursa yang berdampak pada harga komoditas,” kata Thomas usai Gapmmi member gathering di Jakarta, Jumat (9/1).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor mamin pada hingga September 2008 diperkirakan mencapai US$ 1,84 miliar, sedangkan ekspor senilai US$ 2,24 miliar. “Dengan kebijakan pengetatan impor dan posisi mamin sebagai kebutuhan primer, kami menilai, industri mamin nasional masih aman. Memang ada penurunan, tapi tetap optimis bisa bertumbuh 12% pada 2009,” ujar dia.

Dia menambahkan, memanfaatkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 44/M-DAG/PER/10/2008 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu (Permendag) yang diubah menjadi Permendag No 56/M-DAG/PER/12/2008, industri mamin nasional menargetkan dapat mensubtitusi produk mamin impor dengan produk dalam negeri.

“Sekitar 30-40% ditargetkan dapat disubtitusi oleh produk dalam negeri dalam enam bulan mendatang karena Indonesia hanya mempunyai waktu hingga dua tahun ke depan. Untuk itu, kami mengharapkan konsistensi dukungan pemerintah dalam hal pengamanan pasar dalam negeri dan kebijakan stimulus.

Selain itu, sektor pertanian harus memulai bertanam sejak sekarang,” kata dia.

Dia menambahkan, menyusul arahan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang mengutamakan ketahanan pangan dan energi, Gapmmi fokus agar sektor pangan menjadi motor perbaikan ekonomi Indonesia pada tahun ini. “Pada 2007, konsumsi pangan di Indonesia mencapai 47% dari total konsumsi masyarakat. Itu bagus meski kami berharap bisa lebih rendah dari 40% karena menunjukkan pola konsumsi yang mengutamakan kualitas,” kata Thomas.

Pada kesempatan yang sama, Bendahara Gapmmi Yusuf Hady mengatakan, omzet roti dan kue nasional bakal tumbuh 8-9% pada 2008. Sementara itu, kata dia, pertumbuhan omzet roti dan kue 2009 diperkirakan tidak setinggi 2008, yakni sekitar 4-5%. “Pasar potensial roti dan kue di Indonesia mencapai Rp 8 triliun. Akibat terpaan krisis, kami memperkirakan orang-orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) bakal beralih menjadi pengusaha kecil dan mikro di industri roti dan kue,” kata Yusuf.

Dia mengatakan, saat ini jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) roti dan kue di Jakarta sekitar 200 perusahaan. Menurut dia, dengan modal investasi Rp 20-30 juta, seseorang dapat membuat perusahaan dengan omzet Rp 30-40 juta per bulan.

Terkait harga, lanjut dia, menyusul penurunan harga bahan baku roti dan kue seperti tepung terigu dan gandum, produsen belum berencana menaikkan harga jual.

Terkait Trading Term

Sementara itu, terkait aturan persyaratan perdagangan (trading term) yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) RI No 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, Thomas mengatakan, hal itu dikembalikan kepada anggota masing-masing asosiasi sektor terkait. (eme)

Artikel Menarik Lainnya:

BBM (Bensin dan Solar) Turun Diharapkan Akan Menggairahkan Sektor Riil @ mesin kasir
Daftar Pejabat Pemerintahan Paling Bersih (Bagian III)
Wow...10.000 UKM Asuhan Semen Gresik Raup Omzet 700M!
Tidak Ada Kata " Krisis " Bagi Orang Kreatif

Leave a Comment