Omzet Ritel Modern Capai Rp 77 Triliun @ mesin kasir
Omzet penjualan bisnis ritel modern nasional diperkirakan bertumbuh sekitar 5-10% pada 2009 menjadi Rp 73,5-77 triliun dibandingkan 2008 yang ditaksir Rp 70 triliun.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool, target itu dapat tercapai jika peritel konsisten menjaga cash flow agar efektif. Selain itu, perusahaan harus realistis dan hati-hati berekspansi meski tetap optimistis menghadapi 2009.
“Kami juga berharap pemerintah tidak menerbitkan kebijakan yang justru mengganggu kinerja dunia usaha dan iklim bisnis di Indonesia. Kebijakan pemerintah seharusnya pro pasar dan tidak mengintervensi kebebasan bertransaksi antardunia usaha,” kata Benjamin kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Selain itu, lanjut dia, sebelumnya pemerintah sudah memberikan stimulus berupa insentif penurunan suku bunga Bank Indonesia dan harga bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan itu, ujar dia, perlu didukung dengan stimulus untuk mendorong likuiditas konsumen dengan menurunkan suku bunga kredit konsumsi. Sementara itu, tutur Benjamin, kebijakan-kebijakan tata niaga diharapkan tidak berdampak negatif pada distribusi barang dan kreatifitas sektor usaha.
Di sisi lain Benjamin mengakui, 2009 merupakan tahun yang penuh tantangan akibat terpaan krisis finansial yang menggoncang sektor riil. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor riil nasional, lanjut dia, berdampak negatif pada kemampuan membeli konsumen.
Pasokan Properti
Selain itu, lanjut dia, sektor ritel modern nasional menghadapi tantangan dari sektor properti menyusul kredit properti yang tidak lancar. Akibatnya, kata dia, beberapa mal menunda pembangunan dan operasi sehingga peritel juga menunda ekspansi gerai baru.
Dia menuturkan, hambatan juga datang dari lini pemasok yakni kekhawatiran terjadinya keterlambatan pasokan barang. Sehingga, kata dia, peritel di lini depan rantai peredaran barang terpaksa berhati-hati dan pesimistis menjalani tahun 2009.
“Selanjutnya bagaimana masalah dan tantangan itu diatasi? Karena itu, kami wait and see menghadapi 2009,” kata Benjamin.
Secara terpisah, Corporate Communication Director PT Matahari Putra Prima Tbk (Matahari) DannyKojongian mengatakan, penjualan pada 2008 diperkirakan bertumbuh 17-22% menjadi Rp 11,5-12 triliun dibandingkan 2007 yang sebesar Rp 9,8 triliun. Dia menuturkan, angka itu lebih tinggi dibandingkan target perusahaan pada awal 2008 yang senilai Rp 11,3-11,5 triliun.
Sementara itu, kata dia, belanja modal perseroan pada 2009 ditargetkan sebesar Rp 600 miliar. Menurut Danny, dana itu dialokasikan untuk membukan gerai baru dan meningkatkan kinerja perusahaan sepanjang 2009.
“Tahun ini (2009) kami hanya akan membuka 3-4 gerai baru untuk departement store dan fokus merealisasikan target membuka 38 gerai Times Bookstores. Saat ini, lima dari target itu sudah direalisasikan pada 2008,” kata Danny, beberapa waktu lalu.
Pada 2009, Matahari agresif berekspansi di divisi Times Bookstores karena prospek bisnis buku di Indonesia masih besar. Hal itu, kata dia, tampak dari antusias konsumen dari atas kehadiran lima gerai pertama Times Bookstores pada 2008.
