Aprindo:Indonesia Masuk Dalam Incaran Peritel Asing @ Mesin Kasir
Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi peritel modern asing. Potensi pasar cukup besar mengingat jumlah penduduk Indonesia merupakan keempat terbesar di dunia.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin J Mailool di sela diskusi tentang hasil Asia Retail Congress 2009 yang berlangsung di Mumbai, India pada 3-4 Februari 2009.


Selain itu, kata dia, peraturan ritel di Indonesia tidak melarang penetrasi investor asing menjadi salah satu daya tarik dan perlu didukung. Hal itu, lanjut Benjamin, karena mau tidak mau Indonesia telah menjadi bagian globalisasi dunia dan ikut serta dalam World Trade Organization (WTO).
“Saya tidak akan terkejut jika Wallmart, Casino, Tesco Central Thailand mengincar Indonesia. Dengan masuknya Lotte ke Indonesia, menjadi tanda bahwa saat ini Indonesia masuk dalam radar rencana ekspansi mereka,” kata Benjamin di Jakarta, Kamis (12/2).
Dia menjelaskan, banyak faktor yang menentukan posisi peritel bakal menjadi pemimpin pasar di Indonesia termasuk membutuhkan waktu yang tidak sekejap.
Menurut Benjamin, hal itu dipengaruhi dari sisi penjualan dan ekspansi toko. Selain itu, kata dia, juga tergantung strategi yakni akusisi atau internal growth.
Aturan Kondusif
Pada kesempatan yang sama, tokoh ritel nasional Hari Darmawan mengatakan, guna mendukung potensi Indonesia sebagai basis bisnis ritel yang besar, pemerintah harus menciptakan iklim bisnis yang kondusif. Hari menuturkan, hal itu dapat tercermin dari kebijakan-kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah.
“Pemerintah harus memahami posisi para pelaku bisnis ritel. Pemerintah harus menempatkan diri sebagai pebisnis sebelum memutuskan suatu kebijakan meski mereka sebenarnya adalah regulator. Sehingga, kebijakan-kebijakan itu tidak menimbulkan polusi bagi iklim usaha ritel nasional,” kata Hari yang meraih Retail Leadership Award pada saat Asia Retail Congress 2009.
Dia menambahkan, kebijakan-kebijakan ritel di Indonesia sebaiknya ditata agar sinkron, konsisten, dan memahami esensi bisnis ritel. “Dari kongres di Mumbai, terlihat bahwa pada titik itu Indonesia mengalami ketertinggalan. Contohnya, meski ada kebijakan yang mengatur, India mampu membangun 300-400 mal per tahun, sementara Indonesia hanya sekitar 30 mal,” kata Hari.
Padahal, lanjut dia, nyawa bisnis ritel ditentukan oleh keseimbangan posisi oleh peritel, pelanggan, dan pemerintah. “Jadi, mau di bawa ke mana arah perkembangan bisnis ritel Indonesia,” kata Hari.
Hal senada disampaikan oleh pengamat ritel nasional Hidajat dan Direktur Humas dan Komunikasi PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk Setiyadi Surya.
“Membangun usaha dan menjadi besar tidak mudah serta membutuhkan kerja keras. Karena itu, kami berharap kebijakan-kebijakan bisnis di Indonesia tidak menambah beban bagi kami pelaku ritel,” kata Setiyadi.
Sementara itu, Hidayat menyoroti tingkat suku bunga kredit bank bagi sektor ritel di Indonesia. Menurut dia, seharusnya perbankan memberikan tingkat bunga kredit yang lebih rendah kepada sektor ritel dibandingkan manufaktur. Sehingga, lanjut dia, ritel dapat berkembang pesat dan mampu menampung semua hasil manufaktur serta mendistribusikannya kepada pelanggan.
Di sisi lain, dia juga mengatakan, pentingnya kebijakan yang kondusif bagi dunia usaha. “Yang penting, jangan atur aturan main perdagangannya karena itu adalah mekanisme pasar,” kata Hidayat.
Artikel Menarik Lainnya:
Struktur Barcode EAN13 penerapan untuk ritel @ mesin kasir
Surabaya Jadi Surga Belanja@mesinkasir
Appsi: Pasar Tradisional Harus Dikelola Secara Profesional
Tingkat Hunian Meningkat Di Pusat Perbelanjaan
Tags: aprindo, asing, Berita Bisnis, bisnis eceran, distribusi, ekonomi, hipermarket, kasir, mesin kasir, mini market, pasar, pengusaha, perdagangan, ramayana, retail, ritel, ritel asing, ritel indonesia, ritel modern, sektor riil, supermarket, swalayan, ukm, usaha kecil
