FOPPI tingkatkan pasar mandiri & koperasi @ Mesin Kasir

Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) akan terus meningkatkan jumlah pasar mandiri dengan menyewa lahan dan mendirikan koperasi untuk mengantisipasi maraknya penggusuran pedagang kecil dengan dalih peremajaan pasar. Demikian diungkapkan Ketua Dewan Penasehat FOPPI Salahuddin Wahid pada satu konferensi pers seusai bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla kemarin. Selain Salahuddin juga turut hadir pada pertemuan itu Presiden FOPPI Sujianto dan jajaran pengurus lainnya. “Pedagang digusur dan tempat penampungan mereka tidak layak dan akhirnya kami mendirikan pasar mandiri,” ujar Salahuddin. Dia menyebutkan sejauh ini sudah ada empat pasar mandiri yang didirikan organisasi itu. Salah satunya adalah pasar mandiri Negeri Bunga dan Ikan Hias Barito yang merupakan kumpulan pedagang bekas pasar Barito Jakarta Selatan yang tergusur. Pasar mandiri lainnya adalah Plasa FOPPI di kawasan Blok M yang juga merupakan kumpulan pedagang pasar yang sebelumnya tergusur. Dengan menyewa lahan, ujarnya, Pemda DKI Jakarta tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk pasar tradisional tersebut. Adapun pendirian koperasi bertujuan untuk menaikkan daya tawar pedagang terhadap para pemasok barang. Dia juga mengeluhkan Perpres No.112/2007 yang tidak mengatur jarak antara pasar tradisional dengan hipermarket sehingga membuat pedagang tradisional kalah bersaing dan semakin tergusur. “Negara kapitalis saja mengatur itu, masak negara Pancasila tidak begitu,” ujar Salahuddin. Presiden FOPPI Sujianto mengeluhkan tidak dilibatkannya pedagang oleh pemda ataupun kontraktor yang menggarap pembangunan pasar kepada Wapres. “Pedagang tergusur, pembangunan oleh swasta tidak melibatkan pedagang,” ujar Sujianto, seusai audiensi di Kantor Wapres. Di era pasar bebas, nasib pedagang kecil di pasar tradisional justru kian terpinggirkan. Dengan dalih pemakaian tempat habis, peremajaan, atau terbakar, pembangunan pasar tak pernah melibatkan pedagang. Pemda atau pengembang dengan seenaknya menggusur pedagang lama. Ironisnya, setelah dibangun, harga kios menjadi tak terjangkau lagi oleh pedagang. Persoalan serupa terjadi di sejumlah kota lainnya di Indonesia. Sujianto mencontohkan harga kios di pasar Blok M yang kini mencapai Rp 60 juta per meter persegi.(yn) Sumber: Bisnis.com

Artikel Menarik Lainnya:

Tipe-tipe Barcode Scanner yang sudah Discontinue @ mesin kasir
Pasar Tradisional VS Pasar Modern "Perang" @ Mesin Kasir
Carrefour Akan Beli Supermarket Rusia @ Mesin Kasir
Inilah 40 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes Terbaru (Update)

Leave a Comment