Prospek Saham Sektor Ritel Menjelang Pemilu @ Mesin Kasir

Pemilu sebentar lagi. Bagi emiten di sektor ritel, pesta demokrasi tersebut merupakan hari yang ditunggu-tunggu. Maklum, seperti Pemilu yang sudah-sudah, saat seperti ini biasanya penjualan makanan, minuman, serta pakaian naik pesat.

Kenaikan penjualan tersebut, salah satunya didorong oleh uang yang digelontorkan parta-partai politik ke masyarakat. Tapi, untuk pemilu kali ini, emiten ritel harus siap-siap gigit jari.

Walau pun Pemilu tinggal sebulan lagi, tanda-tanda dana yang bakal dikucurkan partai-partai politik belum juga nampak. Krisis global tampaknya telah membuat donatur partai politik menjadi pelit. Sehingga dana yang mampu dihimpun partai semakin terbatas. Akibatnya, ya itu tadi, duit yang dikucurkan ke masyarakat pun menjadi seret.

Sungguh, kini bisnis ritel sedang menghadapi ancaman berat. Sebab, dalam keadaan krisis seperti sekarang, tak mudah bagi bisnis ritel untuk menggenjot penjualan. Tanda-tanda ini sudah terlihat sejak kuartal IV 2008. PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) contohnya. Selama tiga bulan, penjualan Ramayana hanya mencapai Rp 804 miliar atau 86% dari target.

Kinerja Matahari juga tak bagus-bagus amat. Parahnya lagi, Matahari dibebani kerugian valas. Tak heran bila Matahari terpaksa menutup bebertapa gerainya. Seorang analis menilai, langkah yang diambil Matahari sudah tepat.

Alasannya, mempertahankan gerai yang merugi berpotensi memperburuk kinerja perusahaan. “Antara biaya dan pendapatan belum tentu setimpal. Sebab, daya beli makin menurun,” imbuhnya.

Banyaknya sentimen miring itulah yang membuat saham-saham di sektor ini berpotensi tertekan. Hanya saja, seorang pengamat melihat bisnis ritel masih memiliki prospek cerah.

Terbukti, kendati tahun lalu krisis mulai melanda Indonesia, sektor ini masih mencatat pertumbuhan. Atas dasar itulah ia menyarankan pemodal yang hendak berinvestasi jangka panjang menyisihkan sebagian uangnya di efek sektor ritel ini.

Tertarik? Sebaiknya pertimbangkanlah dengan lebih dingin. Sebab, kata seorang kepala riset, kalau untuk investasi jangka panjang, masih banyak saham lain yang jauh lebih menarik.
Perlambatan ekonomi telah menekan berbagai sektor, termasuk industri ritel. Namun, mendekati pelaksanaan pemilu 2009, ada secercah harapan bagi saham PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS). Seperti apa potensinya?

Pada perdagangan Kamis (26/2) saham RALS diperdagangkan stagnan di level 470 per lembarnya. Padahal di awal 2009, RALS masih ditransaksikan di kisaran Rp 490 per unitnya.

Analis Samuel Sekuritas Ike Rahmawati memprediksi pemulihan saham RALS akan terjadi pada kuartal kedua 2009, seiring berlangsungnya pemilu. Hal ini mengingat derasnya aliran dana pada masa kampanye dapat digunakan untuk mendorong pembelanjaan termasuk retail.

Ia pun menyarankan agar investor mencermati perkembangan sektor ini lebih lanjut. “Maintain hold dengan target harga Rp 650 per saham,” katanya dalam riset yang dipublikasikan, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, beberapa faktor masih akan menekan pergerakan RALS, seperti turunnya daya beli masyarakat luar Jawa, turunnya SSG (same store growth) dan pengurangan pembukaan department store.

Pada 2009 perseroan hanya akan membuka 6 gerai, turun dibandingkan 2008 yang sebanyak 10 gerai. “Indikator ekonomi seperti CCI (Consumer Confidence Index) sebenarnya masih berada dalam level pesimistis, selain itu turunnya inflasi juga sulit mendorong daya beli masyarakat,” ujarnya.

Seperti diketahui, total pendapatan RALS sepanjang 2008 mencapai Rp 5,5 triliun, sedikit di bawah target perseroan sebesar Rp 5,6 triliun. Sedangkan indikasi gross margin mencapai 27,4%.

Penurunan kinerja RALS yang signifikan terjadi pada kuartal empat 2008, terutama bulan Desember, dimana store sales growth (SSG) hanya mencapai 6.5% dari 8,2%. “Merosotnya kinerja ini selain akibat faktor seasonality, juga karena melemahnya daya beli masyarakat di luar Jawa yang menopang penjualan RALS selama ini,” katanya.

Seperti diketahui, pendapatan utama bagi masyarakat luar Jawa tergantung dari produk komoditas. Seiring turunnya harga komoditas, maka penghasilan mereka pun berkurang, dan daya beli menurun.

Memasuki 2009, outlook ekonomi masih negatif. Kinerja RALS pun mengendur sehingga perseroan membukukan SSG minus 2,1%. Namun, RALS masih mampu mencatatkan penjualan Rp 336,5 miliar, di atas target Rp 321,1 miliar. “Kami memperkirakan hingga kuartal pertama 2009, performa gerai RALS masih terpojok,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ike berharap, kenaikan harga komoditas, tingkat konsumsi dan ekspektasi masyarakat, dapat menjadi motor penggerak bagi RALS dalam mencapai target 2009 sebesar Rp 5,8 triliun. “Apalagi posisi neraca keuangan dan fundamental RALS yang kuat dapat menjadi daya tarik tersendiri,” tukasnya.

RALS merupakan salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia yang mengoperasikan department stores, Ramayana, Robinson dan Cahaya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Adapun earning per share (EPS) RALS 2009 Rp 51, price to earning (PE) sebanyak 9,2 kali, dan price book value (PBV) sebanyak 1,6 kali.

Saham sektor ritel lain yang disarankan adalah PT Mitra Adiperkasa (MAPI). Dengan EPS Rp 45, PE sebesar 6,7 kali dan PBV sebanyak 0,4 kali, Ike memberi rekomendasi hold dengan target harga Rp 440 per lembarnya. Kemarin saham MAPI terpantau stagnan di level Rp 300 per lembarnya

Artikel Menarik Lainnya:

Ritel Raksasa Semakin Mendominasi Bisnis Eceran Indonesia @ mesin kasir
Dampak CAFTA Dibuka Hand Phone Murah Cina pun Banjiri Pasar Indonesia
Ritel Ternyata Menggiurkan Bagi PT Pan Brothers, Tbk
Wow! Naik Kereta Api Gunakan Kartu Isi Ulang BNI

Leave a Comment