Tarif Sewa Mal Bakal Segera Naik @ Mesin Kasir
Dampak krisis global yang terus berkecamuk, bakal segera menghantam bisnis persewaan ruang mal. Untuk sementara ini, pengelola mal memang belum menaikkan tarif sewa ruang. Selain karena kemampuan penyewa (tenant) melemah, juga karena masa kontrak penyewa banyak yang belum berakhir. Tapi, jika kontrak habis, tidak tertutup kemungkinan pengelola menaikkan tarif sewa. Direktur Utama PT Summarecon Agung, Johannes Mardjuki bilang, harga sewa mal milik Summarecon masih berkisar 20 dollar AS sampai 100 dollar AS per meter persegi (m2). “Kami belum ada rencana menaikkan harga, karena masih melihat kemampuan penyewa,” katanya, Kamis (12/3). Saat ini, Summarecon mengelola Mal Kelapa Gading (MKG) 1 sampai MKG 5 di Kelapa Gading, dan Summarecon Mal Serpong (SMS) di Serpong. Johannes bilang, selama ini pihaknya masih mematok tarif sewa ruang mal-malnya dalam mata uan dolar AS. Namun, kursnya tidak mengikuti kurs pasar. “Kami menggunakan kurs 1 dollar AS sama dengan Rp 7.000. Tujuannya, agar lebih meringankan penyewa,” ujarnya. Senayan City juga menerapkan kebijakan sama.

Handaka Santosa, Chief Executive Officer (CEO) Senayan City menegaskan tidak akan menaikkan tarif sewa dulu. “Setidaknya, sampai rata-rata kontrak habis lima tahun mendatang,” ungkapnya. Dengan tarif sewa berkisar Rp 150.000 sampai Rp 900.000 per meter per segi per bulan, dan penyewa terikat kontrak selama lima tahun, Handaka bilang, tidak mungkin pihaknya serta merta menaikkan tarif sewa. Meski begitu, tak ada jaminan tarif sewa ruang perbelanjaan tak akan naik tahun ini. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan bilang, pada dasarnya, kenaikan bisa dilakukan khususnya bagi penyewa yang telah habis masa kontraknya. “Pengelola wajar menaikkan tarif untuk mengimbangi pengeluaran pemeliharaan mal yang membengkak,” ujarnya. Ridwan memperkirakan, jika ada kontrak baru dan ada perpanjangan kontrak, maka harga sewa ruang pasti naik. “Kenaikan rata-rata berkisar 2 dollar AS per meter persegi,” katanya. Johannes bilang, jika ingin menaikkan tarif, pihaknya memilih menaikkan komponen biaya layanan (service charge). “Kenaikan bisa terjadi misal, jika tarif listrik naik,” katanya. Bahkan, bisa jadi, jika kenaikan tarif sewa terus ditahan, pengelola bakal terus mendongkrak service charge. Umumnya, penyewa mal melakukan kontrak sewa antara tiga sampai lima tahun dengan skema pembayaran 20 persen dibayar di muka dan sisanya dicicil. Saat ini, rata-rata tarif sewa ruang di mal mulai 15 dollar AS – 100 dollar AS per meter per segi per bulan. Hanya saja, menurut Ridwan, kenaikan tarif service charge dan sewa ini tidak akan membuat pengelola bernapas lega. Sebab, selama ini, patokannya adalah menggunakan nilai tukar dolar AS yang notabene sudah ada di level Rp 12.000. “Padahal, patokan kurs pengelola mal rata-rata masih di Rp 5.000 sampai Rp 8.000, ” ujarnya. (Yudo Widiyanto/Kontan)
