Omzet Rp 109 Triliun, 2009, Sektor Ritel Tumbuh 15% @ Mesin Kasir
Pertumbuhan sektor ritel nasional yang mencakup modern dan tradisional diperkirakan mencapai 15% menjadi Rp 109, 59 pada 2009 dibandingkan 2008 yang sebesar Rp 95,3 triliun. Perkiraan 2009 menurun dibandingkan realisasi 2008 yang bertumbuh hingga 21,1% dibandingkan 2007 yang tumbuh 15,2%. Ritel modern menikmati pertumbuhan hingga 23,6% pada 2008, sedangkan ritel tradisional bertumbuh sekitar 19,6%. Sementara itu, pada Januari 2009, sektor ritel nasional bertumbuh sekitar 13% dibandingkan periode sama 2008.
Demikian data survey The Nielsen Company terhadap tren belanja di sektor ritel nasional. Survey dilakukan terhadap 54 item produk konsumsi olahan baik pangan maupun nonpangan (fast moving consumer goods/ FMCG). Retailer Service Director The Nielsen Indonesia Yongky Surya Susilo menjelaskan, ritel modern masih menjadi penggerak pertumbuhan ritel nasional. Hal itu,kata dia, tampak dari pertumbuhan ritel modern yang sebesar 17,9% pada Januari 2009 dibandingkan Januari 2008. Sedangkan ritel tradisional bertumbuh sekitar 10,2% pada Januari 2009 dibandingkan periode sama 2008. Menurut Yongki, ritel modern disokong oleh makanisme distribusi yang lebih baik dan promosi. “Terutama, karena ada impulse business model di sektor ritel modern. Dan pertumbuhan juga disokong oleh ekspansi yang dilakukan oleh para peritel modern,” kata Yongky, saat pemaparan hasil survey di Jakarta, Kamis (19/3). Dia memperkirakan, ritel modern pada 2009 bertumbuh sekitar 20% menjadi Rp 43,8 triliun dibandingkan 2008. Sementara itu, lanjut dia, ritel tradisional diprediksi bertumbuh sekitar 12% pada 2009 menjadi Rp 163,2 triliun dibandingkan 2008. “Perkiraan itu untuk penjualan sebanyak 55 item FMCG yang disurvey oleh Nielsen. Sementara itu, kami mengestimasi total pasar ritel nasional termasuk modern dan tradisional bertumbuh 13-15% pada 2009,” tutur Yongky. Private Label Selain itu, Yongky memaparkan, guna memenuhi kebutuhan pelanggan dan menambah marjin peritel modern, kemunculan private label diperkirakan bakal terus bertumbuh. Hal itu, kata dia, karena pelanggan terbagi atas segmen yang berbeda yakni mengutamakan merek atau lebih mempertimbangkan faktor harga. Tren private label, kata dia, juga bakal bertambah dipicu oleh kebijakan pemerintah berupa Peraturan Menderi Perdagangan No 53/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. “Kebijakan tersebut dapat semakin mendorong kemunculan private label. Sebab, jika suppliernya macam-macam, peritel modern memilih lebih baik memunculkan private label. Namun, demi memberikan pilihan bagi pelanggan terhadap produk yang lebih murah tetap menjadi pertimbangan utama,” jelas Yongky. Hal itu, kata dia, karena produk private label lebih murah dari produk bermerek lainnya. Harga produk private label lebih murah, ujar dia, karena tidak membutuhkan promosi dan brand positioning yang menuntut biaya besar. Private label adalah merek yang dikeluarkan oleh peritel modern sedangkan produknya dipesan dari pemanufaktur atau pemasok. “Sehingga, jika produsen atau pemanufaktur lalai memperkuat posisi mereknya, produk private label dapat mengancam pangsa pasar mereka. Saat ini, peredaran produk private label di Indonesia baru sekitar 2% dari penjualan,” kata Yongky.
Tren lain, lanjut dia, konsep ritel modern yang mulai mengalami perkembangan yakni kemunculan midi market dengan luas rata-rata 400 m2. “Pemerintah perlu segera mengubah definisi mengenai konsep-konsep gerai di sektor ritel modern. Sebab, tidak ada standar untuk format gerai ritel modern. Selain itu, juga akan muncul konsep baru untuk format hipermarket. New generation formats mulai bermunculan,” ujar Yongky. Secara terpisah, Corporate Affair Director PT Carrefour Indonesia Irawan Kadarman, mengatakan, pihaknya mempunyai private label di semua divisi produk Carrefour. “Kami bekerja sama dengan usaha kecil dan menengah (UKM) guna menyuplai produk-produk ke Carrefour untuk dijadikan sebagai private label. Di semua gerai di Indonesia, bekerja sama dengan produsen yang ada di sekitar demi efisiensi biaya distribusi,” kata Irawan kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis. Dia menambahkan, private label belum berkonstribusi signifikan bagi penjualan dan pencapaian marjin. “Private label lebih difokuskan untuk pelanggan yang bukan mengutamakan merek dan mencari alternatif pilihan harga,” pungkas Irawan. ***Damiana N Simanjuntak Investor


