Pasar Tradisional Kuasai 79% Omzet Ritel @ Mesin Kasir

Pasar tradisional menguasai 79,8% omzet ritel nasional 2008, menyusut dibandingkan 2002 yang mencapai 82,9%. Omzet total ritel nasional 2008 sebesar Rp 95,3 triliun atau bertumbuh sekitar 21,1% dibandingkan 2007. Demikian hasil survey The Nielsen Company terhadap tren belanja di sektor ritel nasional. Survey tersebut mencakup 54 item produk konsumsi olahan baik pangan maupun nonpangan (fast moving consumer goods/ FMCG). Menurut Retailer Service Director The Nielsen Indonesia Yongky Surya Susilo, pasar tradisional mencatat pertumbuhan yang baik.

Pasar Tradisonal, masih belum diperhatikan dengan serius

Pasar Tradisonal, masih belum diperhatikan dengan serius

Tahun lalu, kata dia, pasar tradisional menikmati pertumbuhan sekitar 19,6% dibandingkan 2007. Dia optimistis, pasar tradisional terus bertumbuh jika pengelolaan dan fisik pasar dibenahi. Selama ini, lanjut Yongky, pasar tradisional menghadapi kendala kondisi fisik dan manajemen yang kurang profesional. Untuk itu, ujar dia, pasar tradisional harus segera direvitalisasi. Misalnya, dengan membenahi keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berlokasi di sekeliling pasar tradisional. “Pasar tradisional tidak akan pernah mati dan pasti tetap bertumbuh. Pasar tradisional mempunyai keunggulan yakni produk-produk segar. Selain itu, tidak selamanya produk yang dijual di ritel modern lebih murah karena di pasar tradisional pembeli berkesempatan untuk menawar harga yang lebih murah,” jelas Yongky di Jakarta, akhir pekan lalu. Selain itu, lanjut dia, jika pasar tradisional sudah dipoles, masyarakat akan lebih memilih berbelanja ke tempat tersebut guna menghindari impulse purchase (rangsangan membeli) di pusat perbelanjaan modern. “Mereka tidak perlu membeli barang yang tidak direncanakan sebelumnya,” kata dia. Terkait pengelolaan, ujar Yongky, dapat diserahkan kepada swasta. “Sudah terbukti, ada pasar tradisional yang dikelola swasta ternyata berhasil. Secara pelan-pelan, kunjungan ke ritel modern yang ada di sekitarnya semakin sepi,” tutur Yongky. Revitalisasi Pasar Sementara itu, Kepala Bagian Perencanan dan Program Sekretarian Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Set Ditjen PDN) Departemen Perdagangan (Depdag) Harda Hanawa menjelaskan, saat ini pelaksanaan revitalisasi pasar tradisional menggunakan dana Rp 215 miliar dari stimulus fiskal 2009. “Saat ini tinggal menunggu Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA),” kata dia, di Jakarta, akhir pekan lalu. Ia menjelaskan, dana tersebut dialokasikan untuk program rehabilitasi dan revitasiliasi 20 pasar tradisional yang di antaranya terdapat di Tapanulia Utara (Sumatera Utara), Demak (Jawa Tengah), dan Bone (Sulawesi Selatan). “Katanya, dana stimulus itu dicairkan April 2009. Setelah itu, mulai dilakukan lelang untuk pelaksana. Ditargetkan, pada Oktober 2009 sudah selesai dan pasar yang sudah direvitalisasi itu sudah beroperasi. Sehingga, dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya,” kata Harda. Selain itu, lanjut dia, Depdag juga mempunyai program revitalisasi pasar tradisional yang nantinya menggunakan dana tugas perbantuan dan dana alokasi khusus. “Mekanismenya, pemerintah daerah (pemda) mengusulkan upaya revitalisasi kepada dinas yang membidangi perdagangan di daerah. Kemudian, dinas melaporkan kepada kami,” ujar dia. Secara terpisah, Ketua Komisi VI DPR Toto Daryanto menilai, dana stimulus untuk pengembangan pasar tradisional tidak besar dan tidak berdampak signifikan mendorong perekonomian masyarakat. Karena itu, lanjut dia, pemerintah seharusnya mempunyai program berkesinambungan, sistemik, dan konsisten.(eme) Investor

Artikel Menarik Lainnya:

Izin Minimarket Milik Warga Wajib Jadi Skala Prioritas PEMDA
Akhirnya Skype Pun Jatuh Ke Tangan Microsoft
Pemerintah: Harga BBM Tak Boleh Naik Lagi
Opsi Kenaikan Harga BBM: Naik Bertahap Sampai Menyentuh Angka 8.100

Leave a Comment