Tingkat Kepercayaan Konsumen Bakal Naik @ Mesin Kasir

Lembaga survey The Nielsen Company menyatakan, tingkat kepercayaan konsumen bakal naik dan mencapai puncak pada pemilihan Presiden Republik Indonesia, September 2009.

Menurut Retailer Service Director The Nielsen Indonesia Yongky Surya Susilo, tren yang sama terjadi pada saat pemilihan Presiden RI tahun 2004. Dia memperkirakan, faktor eksternal seperti situasi politik, berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan konsumen.

Dia menjelaskan, berdasarkan survey Nielsen, tingkat kepercayaan konsumen saat pemilihan Presiden RI 2004, mencapai puncak hingga 49%. Sementara itu, lanjut dia, tingkat kepercayaan konsumen kemudian menurun dan mencapai titik terendah hingga 13% pada kisaran Desember 2007-Agustus 2008.


Survey tentang Tren Ritel dan Perilaku Belanja 2009 tersebut dilakukan terhadap 2.029 orang dewasa di lima kota besar Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Medan. Dia menerangkan, responden dihadapkan pada pertanyaan tentang kondisi perekonomian dalam enam bulan ke depan.

“Apakah memburuk atau membaik? Jawaban akan mempengaruhi tingkat kepercayaan. Dari hasil survey diketahui, tingkat kepercayaan konsumen terus naik sejak Agustus 2008 hingga mencapai 30% pada Januari 2009,” kata Yongky di Jakarta, belum lama ini.

Semakin Matang

Menanggapi hal itu, Sudhamek AWS, CEO Tudung Group menilai, konsumen Indonesia semakin matang secara politis. Mereka, lanjut dia, tidak melihat pemilu sebagai sesuatu yang menakutkan lagi tapi, sebagai pesta demokrasi yang penuh dinamika.

“Secara psikologis, orang pada saat tidak dihinggapi rasa khawatir yang berlebihan dan sekaligus melihatnya sebagai suatu pesta, optimisme akan berkembang. Di situlah, confidence index (CI) naik,” tutur Sudhamek, baru-baru ini.

Sementara itu, ungkap dia, dari segi suplai juga terjadi shortage karena pembatasan impor. Dia berharap, perbaikan segi suplai dan permintaan yang membaik dapat membuat perekonomian domestik tetap bergairah meski terjadi kelesuan di dunia.

“Kita hidup dalam alam persepsi. Oleh sebab itulah, media, para pejabat, ekonom, dan tokoh masyarakat jangan mudah membuat pernyataan yang membuat masyarakat menjadi pesimis. Fakta di luar memang jelek tapi, Indonesia adalah ekonomi domestik yang masih tumbuh sektor konsumsinya,” pungkas Sudhamek.

Di sisi lain, Yongky menuturkan, sebanyak 74% produsen produk konsumsi di Indonesia optimistis mengalami pertumbuhan penjualan pada 2009 dibandingkan 2008. Untuk itu, kata dia, promosi menjadi salah satu upaya guna meningkatkan penjualan.

Menurut dia, berdasarkan survey terhadap 150 orang Key Account Manager 40 produsen produk konsumsi di Indonesia, sekitar 42% mengakui tidak akan menambah biaya promosi, sedangkan 15% memilih mengurangi.

“Sementara itu, 43% di antaranya yakin akan menaikkan biaya promosi pada 2009 dibandingkan 2008. Bentuk promosi yang dianggap paling cepat mengembalikan modal dan menghasilkan keuntungan adalah dengan cara trade promotion yakni melalui kegiatan oleh produk terkait. Sebanyak 59% di antara responden mengakui hal itu,” pungkas Yongky. (eme) Investor

Artikel Menarik Lainnya:

Support Franchisor merupakan Nyawa bagi Franchisee @ Mesin Kasir
Desain Mode Branded Gucci Ternyata Memakai Tenun Indonesia
[Program Kasir EPM] Fitur Mudah Cetak Label Harga Ke Barcode Printer
Belanja Online? Siapa Takut!

Leave a Comment