Rupiah Semakin Menguat Diprediksi bisa mencapai level 10.000 @ Mesin Kasir

Menurut Barclays Capital, rupiah Indonesia kemungkinan akan perkasa ke level terkuatnya terhadap dolar dalam enam bulan ke depan. Hal ini dipicu adanya perbaikan perekonomian global sehingga mendorong para investor asing untuk membeli aset-aset di Indonesia.
Dalam laporannya yang dirilis hari ini, Barclays juga menulis, rupiah yang saat ini menjadi mata uang dengan penguatan paling besar di antara sepuluh mata uang lainnya di luar Jepang, juga diprediksi akan terapresiasi lebih besar lagi dengan adanya prospek terpilihnya kembali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu 9 April lalu.

Beberapa Hari Terakhir Rupiah Terus Menguat Terhadap Dollar Amerika

Beberapa Hari Terakhir Rupiah Terus Menguat Terhadap Dollar Amerika

“Skenario dasar kami bisa jadi akan mendorong masuknya arus modal ke Indonesia,” jelas Analis Barclays Sailesh Jha dan Shyam Ramachandran.

Kedua analis juga memprediksi, mata uang Garuda tersebut akan menguat menembus level 10.000 dalam enam bulan ke depan. Sebelumnya, Barclays sempat memprediksi, posisi rupiah akan berada pada level 15.500. Sedangkan dalam tiga bulan ke depan, rupiah akan mencapai level 11.500 versus prediksi sebelumnya di level 14.500.

Prediksi yang dipatok Barclays lebih bullish dibanding nilai tengah ramalan 20 analis yang disurvei Bloomberg yang mematok angka 12.000 pada akhir kuartal tiga mendatang.

Ketidakpastian rate membuat transaksi perdagangan resah

Ketidakpastian rate membuat transaksi perdagangan resah

data yang dihimpun Bloomberg, pada pukul 11.00 waktu Jakarta, rupiah menguat 1,9% menjadi 10.903 per dolar. Ini merupakan penguatan paling besar sejak 7 Januari lalu. Dengan demikian, sepanjang bulan ini saja, rupiah sudah menguat sebesar 6%.

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank menguat tajam, mulai mendekati angka Rp 11.000 per dolar, akibat pembelian rupiah oleh pelaku pasar berlanjut meski masih dibayangi oleh krisis keuangan global.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar melonjak menjadi Rp 11.090/11.100 per dolar dibanding penutupan hari sebelumhya Rp 11.350/11.365 atau naik 260 poin. Analis Valas PT Bank Himpunan saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, mengatakan, eforia pasca pemilihan umum yang berjalan lancar dan aman merupakan faktor utama menguat rupiah.

“Akibat sentimen positif yang cukup kuat maka rupiah diperkirakan akan dapat mencapai angka Rp 11.000 per dolar dalam pekan ini,” ucapnya.

Rupiah, menurut dia juga mendapat dukungan dari masuknya dana jangka pendek investor asing yang ditempatkan di pasar saham dan obligasi. Karena itu transaksi saham di pasar modal cukup besar akibat kenaikan harga saham yang terjadi hampir disemua sektor, katanya.

Ia mengatakan, namun kenaikan rupiah kemungkinan akan dihambat oleh kekhawatiran atas krisis keuangan global yang masih tak menentu.

“Kami optimis kenaikan rupiah itu bisa mencapai angka Rp11.000 per dolar AS akan tertahan oleh krisis keuangan yang semakin berat,” ujarnya.

Rupiah mempelopori menguatnya mata uang regional terhadap Dollar Amerika

Rupiah menguatnya dibanding mata uang regional terhadap Dollar Amerika

Pasar saat ini lanjut dia, akan memfokuskan diri terhadap pemilihan calon presiden (Capres) pada Juli mendatang, karena ini merupakan moment yang paling penting bagi pemerintahan baru.

Ia juga menekankan apakah pemerintahan baru dapat membawa pertumbuhan ekonomi lebih baik dan dapat mengatasi krisis keuangan global yang masih tak menentu.

Sementara itu, pengamat pasar uang, Edwin Sinaga mengatakan, rupiah sepanjang pekan ini diperkirakan akan dapat mencapai angka Rp 11.000 per dolar AS.

Sentimen positif pasca pemilihan umum calon legislatif DPR, DPRD dan DPD yang lancar dan aman merupakan modal yang kuat untuk mendorong rupiah ke arah san, ucapnya. Karena itu, pemerintahan baru yang akan muncul apakah dapat membawa perbaikan yang lebih berarti sehingga rupiah terus menguat.

Apabila pertumbuhan ekonomi semakin membaik maka rupiah diperkirakan pada akhir tahun ini akan dapat mencapai angka Rp 10.000 per dolar AS, tuturnya./ant/itz/Kontan/Republika

==============================================================
Ritel AS Menekan Mata Uang Asia

Rupiah Beruntung dibanding mata uang lainnya yang melemah

Rupiah Beruntung dibanding mata uang lainnya yang melemah

Anjloknya penjualan ritel Amerika Serikat (AS) membuat mata uang Asia keok. Pasalnya, hal ini mendorong para investor untuk mencari tempat investasi yang lebih aman dibanding emerging market.

Hari ini, won milik Korea Selatan dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan diantara sepuluh mata uang regional lainnya.

“Ini merupakan sesuatu yang wajar jika bursa AS mengalami sedikit penurunan. Sebenarnya pergerakan mata uang Asia sangat tergantung pada kejadian-kejadian yang terjadi pada bursa AS dan risiko yang bakal terjadi secara umum,” jelas Thomas Harr, Senior Currency Standard Chartered Bank di Singapura.

Catatan saja, pada pukul 12.48 waktu Seoul, won keok 1,5% menjadi 1.343,45, yang merupakan pelemahan terbesar pada minggu ini. Sementara, ringgit melemah 0,9% menjadi 3,6174 dan dolar Taiwan melemah 0,4% menjadi NT$ 33,759. Pelemahan juga terjadi pada baht Thailand sebesar 0,4% menjadi 35,53.

Di negara lain, peso Filipina melemah 0,5% menjadi 47,91, dolar Singapura melemah 0,4% menjadi S$ 1,5048 dan dong Vietnam keok 0,1% menjadi 17.778. Sementara itu, rupiah Indonesia menguat tipis 0,1% menjadi 10.885.
Barratut Taqiyyah Bloomberg

Artikel Menarik Lainnya:

BlackBerry Tidak Gubris Permintaan Pemerintah
Gawat!! Beberapa Bank Kebobolan Uang Palsu, Masyarakat Resah
Hatta: Malaysia Merupakan Investor Kelima Terbesar di Indonesia
Sharp XE-213 ECR Yang Bisa Melakukan Pending Transaksi Penjualan

Leave a Comment