Neo-Liberal, Boediono Menepis Tuduhan Pada Dirinya
Calon wakil presiden Boediono yang akan berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjawab kerisauan banyak mengenai pandangan ekonominya yang selama ini dinilai neoliberal. Hal tersebut dikatakannya saat memberikan pidato dalam deklarasi pasangan dengan slogan SBY Berbudi di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, Jumat (15/5) malam.
“Perekonomian Indonesia tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas,” ujar Boediono. Ia menyatakan selalu diperlukan intervensi pemerintah untuk mendukung perekonomian dengan aturan yang jelas dan adil.
Untuk itu, Boediono melanjutkan, diperlukan lembaga pelaksana yang efektif. Meski demikian, menurut Boediono, negara tidak boleh banyak campur tangan dalam perekonomian karena akan mematikan aktivitas bisnis. “Tetapi pemerintah juga tak boleh tidur, untuk itu perlu pemerintahan yang bersih,” ungkap Boediono.
Menurutnya, pemerintah yang bersih tidak dapat dicapai hanya lewat retorika, tetapi harus dimulai dengan teladan pemimpinnya. Ia juga mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak dikotori oleh suap dan tidak mau memperdagangkan kekuasaan. “Tidak mencampuradukkan kepentingan republik dengan kepentingan bisnis keluarga,” ungkap Boediono.
Bukan Neoliberal
Dalam pidato tanpa teks, Boediono mengisyaratkan bahwa dia bukan pejabat negara yang mendukung praktik ekonomi neoliberal. Hal itu tercermin dari pernyataannya mengenai perekonomian nasional.
Indonesia,kata Boediono, tidak bisa hanya menyerahkan perekonomian kepada pasar bebas. Pengembangan ekonomi di Indonesia masih membutuhkan peran pemerintah. “Butuh peran negara, tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pasar bebas.
Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil, untuk itu perlu lembaga pelaksana yang efektif. Itu yang harus dilakukan negara,” tegas Boediono.
Kendati demikian, negara juga tidak boleh berperan terlalu jauh karena akan mematikan kreativitas. “Negara nggak boleh banyak campur tangan karena akan mematikan kreativitas. Tapi tidak boleh tidur juga,” tandas Boediono
Penjajah Asing
Boediono juga menegaskan sikapnya yang tidak terlalu tergantung kepada negara lain. Penegasan itu dia kaitkan pula dengan spirit Proklamator Bung Karno yang pada awal XX lalu, menyampaikan pidato anti penjajahan asing. “Di Bandung, awal abad XX, Bung Karno menggugat penjajahan. Sekarang, di abad XI, kita juga harus menggugat penjajahan dari luar,” ujar dia. Boediono optimistis Indonesia bisa berdiri sendiri, tanpa bergantung kepada bangsa lain.
Sebelum Boediono berpidato, SBY menyampaikan alasan dirinya memilih mantan Menko Perekonomian itu sebagai cawapresnya. Selain figur pribadi, alasan itu juga menyangkut kemampuan Boediono.
“Saya nilai Pak Bud sebagai muslim yang lurus, teknokrat yang keras bekerja, dan sebagai menteri perekonomian yang jauh dari keinginan cari muka. Di atas segalanya, Pak Bud tidak punya konflik kepentingan, baik ekonomi maupun politik,” ujar SBY.
SBY mengaku telah mengenal Boediono selama sepuluh tahun. Perkenalan itu terjadi ketika mereka sama-sama bekerja di kabinet. Di mata SBY, Boediono adalah sosok yang tidak grasak-grusuk.Menurut dia, Boediono adalah sosok yang jujur, sederhana, dan bertanggung jawab.
SBY optimistis Boediono mampu mendampinginya untuk melanjutkan kepemimpinannya pada periode 2009-2014. Jika mereka terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode mendatang, ia berkeyakinan Boediono akan mampu mendampinginya hingga akhir masa jabatannya. “Beliau juga akan mampu membangun pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab” papar dia.
Tauladan
Optimisme membangun pemerintahan yang bersih, langsung dijawab oleh Boediono. Pemerintahan bersih, kata dia, tidak hanya bisa diwujudkan melalui pidato, tetapi membutuhkan suri tauladan. “Pemeritahan yang bersih harus dimulai dari tauladan kepemimpinan. Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak dikotori suap, tidak memperdagangkan kekuasan, dan tidak mencampuradukkan kepentingan republik dan bisnis keluarga,” papar dia.
Ciri lain yang muncul dari pemerintahan bersih adalah komitmen pemberantasan korupsi. “Sebab, korupsi bukan hanya tidak bermoral, tetapi juga melanggar keadilan,” tandas dia.
Bagi Boediono, menjadi cawapres SBY adalah sebuah kehormatan bagi siapapun. “Kehormatan bukan karena kedudukan, tetapi kehormatan karena ikut dalam cita-cita yang luhur,” tuturnya.
SBY dan Boediono meminta dukungan rakyat serta mitra partai koalisi untuk maju dan memenangi pemilihan presiden. Mereka mengajak partai politik yang berkoalisi dengan Partai Demokrat untuk mendorong terbentuknya pemerintahan presidential yang kokoh dan amanah. “Mari kita bekerja untuk rakyat dengan program pro rakyat dan membentuk kabinet yang terus bekerja, bukannya berpolitik sendiri-sendiri. Kabinet adalah forum untuk bekerja, bukan untuk berpolitik,” tegas SBY.
Terkait pemilihan presiden/wakil presiden, SBY tidak ingin mengumbar janji. SBY lebih banyak memaparkan keberhasilannya dan menyatakan komitmen kepemimpinan. “Jika terpilih kembali, saya akan bekerja dengan mencurahkan hati, pikiran, sabar, tegar, dan berikhtiar, termasuk berbagai cercaan dan hinaan,” tegas dia. SBY juga berkomitmen untuk tidak tergoda oleh harta dan benda.
Calon Wakil Presiden (cawapres) dari Partai Demokrat, Boediono menyatakan bila terpilih nanti akan melakukan langkah pertama peningkatan ekonomi dengan merumuskan strategi terbaik.”Saya optimistis perekonomian Indonesia ke depan akan membaik,” kata Boediono setibanya di Stasiun KA Bandung, Jumat siang.
Ekonomi kerakyatan terutama pada sektor perdagangan usaha kecil dan menengah (UKM) perlu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan pengusaha besar.
“Walaupun ada mekanisme pasar bebas, tetapi pedagang kecil perlu mendapat perhatian lebih,” kata pakar Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Dr Rizal, Minggu.
Ia mengatakan peraturan menteri perdagangan dan menteri perindustrian tentang perdagangan ritel tidak ada perbedaan antara pedagang kecil dan pedagang besar. “Kemampuan keduanya berbeda jadi seharusnya penanganannya juga berbeda,” ujarnya.
Rizal mengatakan, revitalisasi pasar tradisional harus segera dilakukan misalnya dengan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada selama ini.
Infrastruktur pasar yang sangat buruk menyebabkan para konsumen tidak mau mendatangi pasar tradisional. “Untuk hal ini perlu menteri koperasi, usaha kecil dan menengah yang pro pasar,” jelasnya.
Lebih lanjut Rizal mengatakan para pedagang tradisional harus meningkatkan pengetahuan manajemennya, misalnya pengetahuan tentang tehnik pencahayaan, pengaturan display, dan lainnya yang menarik akan berdampak atraktif dalam menarik konsumen.
Untuk menumbuhkembangkan orientasi kewirausahaan peritel, lanjutnya maka proses pembelajaran yang terjadi pada aktivitas kesehariannya merupakan bahan masukan yang penting dan dikombinasikan dengan teknik manajemen yang tepat.
Sehingga untuk mengembangkan orientasi pasar, kata dia, peritel diharapkan dapat mampu mengelaborasi berbagai informasi dan pengetahuan yang didapatkan baik dari jejaring yang dimiliki maupun media-media sosial.
Elaborasi informasi dan pengetahuan ini, ujar Rizal Yang juga staf ahli ekonomi SBY ini, diharapkan mampu menjadi dasar pengambilan keputusan dalam memberikan layanan yang terbaik dibutuhkan konsumen.
Kita nantikan saja kalau begitu,
Referensi” Antara/Investor/Kompas/Kontan



butuh tas payet cantik dengan harga terjangkau ?
silahkan kunjungi kami di :
http://taspayetcantik.wordpress.com
Maaf, keterangan Rizal adalah staf ahli ekonomi SBY pada artikel ” Neo-Liberal, Boediono Menepis Tuduhan Pada Dirinya” adalah keliru adanya, sehingga sekirianya berita tersebut dapat diralat oleh adminstrator ini.
salam
Rizal