Barcode DNA Kayu untuk Lacak Pembalakan Liar @ Mesin Kasir

Barcode DNA Kayu untuk Lacak Pembalakan Liar
sumber: Kompas, 23 November 2007
dikutip dari posting : http://yudosudarto.blogspot.com

BarcodeDNA_kayu
Penindakan hukum kasus pembalakan liar kerap kali terkendala pembuktian asal-usul kayu. Teknologi genetika sebenarnya sangat memungkinkan untuk membantu penyidikan aparat hukum. Hal ini diungkapkan AYPBC Widyatmoko, doktor dan peneliti pada Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta saat “Ekspose Hasil-hasil Penelitian”, Rabu (21/11) di Manokwari, Papua Barat.
Ia mengatakan, pembuktian secara genetika dapat menerangkan lokasi penebangan. Namun, langkah ini membutuhkan bank data DNA lengkap yang mencakup tiap-tiap jenis/spesies kayu di setiap daerah dan populasi. Bank data diperoleh dari pencatatan DNA pada spesimen daun yang secara genetika memiliki persamaan DNA dengan kayunya.
Ahli pemuliaan tanaman ini menjelaskan, penyidik hukum memiliki banyak cara untuk mengetahui jenis kayu, seperti metode kimia, anatomi, hingga teknologi terbaru, yaitu menggunakan barcode. Dari metode-metode ini, hanya sistem barcode yang dapat memberikan hasil spesifik. Meski demikian, barcode yang dipasang dua tahun sebelum penebangan pada tiap individu dapat diterapkan jika perusahaan kayu memiliki tata usaha yang baik. Hal ini juga dapat digunakan untuk melacak asal- usul kayu. Adapun penelusuran genetika merupakan metode yang tak terbantahkan dan tak dapat dimanipulasi.


“Gen dalam populasi akan tersimpan secara utuh pada tanaman jika tidak ada campur tangan manusia atau perubahan drastis pada lingkungan. Masing- masing individu/klan punya karakter DNA tersendiri. Populasi yang berbeda kemungkinan memiliki struktur genetik berbeda,” ujarnya.
Widyatmoko mengakui, teknologi genetika untuk penanganan pembalakan liar memiliki kelemahan, yaitu ekstraksi DNA dari materi kayu kadang-kadang sulit didapat dari ekstrak kayu yang telah mati. Belum lagi biaya yang lebih mahal.
Mahfudz, juga peneliti dari BBPBPTH Yogyakarta, mengatakan pembalakan liar dan konversi hutan menyebabkan kayu merbau sulit didapat di daerah asalnya. Tanaman bernilai ekonomi tinggi ini tersebar luas di dunia, dan di Indonesia terdapat di hutan di Sumatera hingga Papua. Kayu ini pula yang sering diselundupkan.
Tekanan terhadap pohon yang memiliki waktu pertumbuhan sangat lambat ini cukup besar. Di Papua, potensi jenis merbau rata-rata terhadap semua jenis kayu perdagangan di Papua mencapai 34,75 persen. Di Papua, merbau masih mudah ditemui. Namun, diimbau agar pengelolaannya dilakukan serius agar tidak mengalami degradasi seperti terjadi di luar Papua.

Artikel Menarik Lainnya:

Pemerintah Revisi Pertumbuhan Ekonomi 4,7 Persen
Rupiah Kumpulkan Sentimen Positif@mesinkasir
Penjualan Nestle kembali turun @ mesin kasir
Indomaret Segera Buka 100 Toko Premium Tahun Ini

Leave a Comment