8 Bulan Krisis Ekonomi, Ritel Jepang Terus Merosot

Salah satu Gerai Ritel di Jepang

Salah satu Gerai Ritel di Jepang

Penjualan ritel di Jepang pada April 2009 turun 2,9% dibanding periode sama tahun lalu, penurunan bulan kedelapan secara berturut-turut. Hal ini dipucu oleh sikap konsumen yang berhati-hati di tengah penurunan jumlah lapangan kerja dan pendapatan.

Kendati demikian, Kementerian Ekonomi, Perdaganganm, dan Industri Jepang, Kamis (28/5) mengungkapkan, penurunan penjulan ritel bulan lalu itu lebih kecil dibanding angka penurunan pada Maret 2008 yang direvisi menjadi 3,8%. Sejumlah ekonom yang di survei Bloomberg News memprediksi penurunan 3,3%.

Khusus peritel-peritel besar—termasuk di dalamnya supermarket dan department store—menurut data pemerintah, tingkat penurunan penjualan jauh lebih besar yaitu 6,7% dibanding periode sama pada 2008. Ini merupakan penurunan bulanan ke-13 yang terjadi secara terus-menerus.

Data-data ini semakin menegaskan bahwa dampak resesi terburuk sejak Perang Dunia II yang dialami Negeri Matahari Terbit ini semakin meluas, hingga merambah dunia pekerja dan tumah tangga.

“Belanja konsumsi terlalu lemah untuk mendukung pemulihan ekonomi dan ini berdampak buruk terhadap pasar tenaga kerja. Ekonomi Jepang tetap akan rawan akibat minimnya permintaan domestik,” ujar Kyohei Morita, chief economist Barclays Capital di Tokyo. Di Tokyo, yen kemarin diperdagangkan pada 95,79 per dolar Amerika Serikat (AS), pukul 9:37 pagi, dari sebelumnya 95,63. Sedangkan indeks Rata-rata Saham Nikkei 225 turun 0,1%.

Seperti sejumlah negara tetangganya di Asia, ekonomi Jepang telah mengalami kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya, akibat pemintaan global yang merosot. Krisis yang bermula dari krisis keuangan di AS ini telah memaksa sejumlah industri seperti Toyota Motor Corp dan Sony Corp menunda sebagian produksi, memangkas ribuan pekerja, dan mengurangi gaji.

Gerai Swalayan di Jepang

Gerai Swalayan di Jepang

Beberapa hari yang lalu, produsen kamera Nikon Corp mengungkapkan, pihaknya akan memangkas 1.000 pekerjanya yang mayoritas berada di Jepang. Ini merupakan bagian dari upaya  perusahaan tersebut untuk menghemat biaya tahunan hingga 8 miliar yen (US$ 84 juta).

Pemangkasan biaya perusahaan yang agresif dan prospek permintaan global yang membaik membantu sejumlah perusahaan untuk bertahan. Produksi industri diprediksi meningkat pada bulan-bulan mendatang dan data ekspor Jepang pada April lalu menunjukkan adanya perbaikan. Bahkan, bank sentral Jepang pekan lalu juga memperbaiki proyeksi ekonomi negara tersebut.

Persoalan Sensitif

Meskipun pemangkasan biaya akan menguntungkan bagi perusahaan, namun bagi para pekerja hal itu merupakan persoalan yang sensitif dan bisa menimbulkan kegelisahan. Tingkat pengangguran di Jepang pada Maret lalu meningkat menjadi 4,8%, tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir. Angka ini diperkirakan semakin tinggi ketika data pengangguran April diumumkan hari ini (Jumat 29/5).

Perdana Menteri Jepang Taro Aso dilaporkan tengah menyiapkan pengeluaran pemerintah dalam jumlah yang besar untuk menghidupkan kembali ekonomi. Untuk itu, pemerintah menyiapkan paket stimulus baru senilai US$ 150 miliar yang terdiri atas program peningkatan daya beli konsumen yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Jepang.

Pemerintah Jepang juga memutuskan untuk mengambil sejumlah langkah lain termasuk insentif untuk membeli peralatan dan mobil hemat energi serta membantu para penganggur dan kelompok bisnis kecil. (ap/bloomberg, investor)

Artikel Menarik Lainnya:

70% Konsumen Kurangi Pengeluaran @ Mesin Kasir
Inilah 10 Perusahaan Penuggak Pajak Terbesar
Diprediksi Industri Retail Marak Dengan Dibukanya 1000 - 1500 Gerai
Pedagang Kecil Dilatih Bisnis Ritel Oleh Aprindo

Leave a Comment