
Banyaknya investor asing dan nasional yang besar-besar masuk ke Kota Medan justru menjadi ancaman kota metropolitan di Sumut ini menjadi kota buruh.
Pemimpin Bank Indonesia (BI) Medan Romeo Rissal Panjialam mengatakan hal itu pada acara ‘BMPD Nite’ yang digelar santai di kolam renang Garuda Plaza Medan Kamis [12/02] malam.
Gubsu H Syamsul Arifin, SE bersama Asisten II Ekbang Drs Djaili Azwar hadir pada acara serius tapi dikemas santai ini yang membuat para peserta dari kalangan perbankan, termasuk Kabid Ekonomi dan Moneter BI Medan Maurids H Damanik juga lebih rileks. Apalagi diakhir acara disuguhi durian Bangkok yang lezat dengan iringan musik keyboard. Romeo menjelaskan retail raksasa seperti hypermart, carrefour, Indomaret, Alfamaret yang menyebar masuk ke pasaran Medan mengkhawatirkan kondisi kota ini ke depan. Untuk Indomaret saja di Sumut ada 40 dari rencana sekira 300. Secara nasional Indomaret ada 2.000.

Menurutnya, memang retail raksasa itu menguntungkan secara ekonomi. Pemerintah dapat memetik pajak dari sana, tenaga kerja banyak pula terekrut. Tak bagusnya karena investor itu pusatnya di Jakarta. Sedangkan dari sisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), justru menjadi ancaman yang pada gilirannya mereka hanya menjadi buruh di retail raksasa tersebut. Jadi kedatangan retail raksasa itu bukan mau memajukan ekonomi rakyat Sumut
Tasikmalaya sebagai contoh, dulunya kota bisnis para UKM, tapi setelah retail raksasa masuk, kota itu sekarang menjadi kota buruh. Masyarakat di sana banyak yang bekerja di retail raksasa dan meninggalkan UKM-nya.
“Kita tidak mau Medan seperti Tasikmalaya menjadi kota buruh. Oleh karena itu, perbankan perlu lebih memperhatikan dan fokus terhadap UMKM ini,” tegasnya.
Menurut Romeo, fungsi perbankan harus kembali kepada intinya yakni sebagai intermediasi di mana bank mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali melalui kredit ke sektor riil. Jadi bank jangan bermain di ‘alam ghaib’, kalau tak pandai-pandai malahan bisa hancur.
Romeo menilai sekarang banyak bank yang bermain di alam ghaib seperti bermain derivatif sampai 4 miliar dolar AS. Tiga perusahaan kalah bermain valuta asing tapi bank justru memproteksi nasabahnya.
Adalagi delapan perusahaan datang ke BI Medan, mereka main 20 juta dolar AS hingga 40 juta dolar AS. Untuk Sumut sendiri ada empat bank asing dan bank milik asing yang terlibat dalam permainan itu. “Jadi bank kembalilah kepada fungsinya sebagai intermediasi, tidak melakukan kegiatan di luar fungsinya,” tegas Romeo.
Ia menyarankan fokus ke UMKM lebih penting mengingat 80 persen ekonomi Sumut basisnya UKM. Oleh karena itu, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi rakyat, diperlukan beberapa upaya.
Tahun ini sampai Maret ada 50 ‘BMTMart’ yang menyebar di beberapa tempat dengan menjual produk kerajinan rakyat. Namun yang baru mau ikut ada 39 BMT. Intinya jangan menjual produk nasional saja, melainkan harus produk lokal. Soal lokasi, tidak sulit karena anggota BMT banyak seperti di Berastagi anggotanya ada 5.000. Di Sumut sendiri ada 180 BMT.
Selain itu, meluncurkan ‘Kampoes Digital’ sebagai pusat UMKM yang nanti akan mencetak 300 wirausahawan baru. Satu UMKM mendapat bantuan Rp8 juta.
oleh:berita sore








1 tanggapan kepada “Retail Besar Menjamur, Medan Terancam Jadi Kota Buruh @ Mesin Kasir”
ADA Grosir
Juni 9th, 2009 pukul 10:11
saya sendiri lebih menyukai belanja di pasar tradisional dan warung karena ada manfaat di sisi sosial dengan bertemu dan bertegur sapa kepada pedagang