BAK invasi militer, begitulah agaknya perkembangan bisnis eceran di negeri ini. Terutama di kota-kota besar, tiap jengkal tanah kosong segera disulap jadi pusat perbelanjaan, dari yang mini sampai yang berskala hipermarket. Tak ada kawasan yang luput, dari lokasi kelas satu di pusat kota sampai ke pinggiran.
Direktur Retail dan Pengembangan Bisnis AC Nielsen, Yongki Susilo, mengatakan pertumbuhan pasar modern tahun ini diprediksi lebih pesat dari 2004 karena semua peretail besar melakukan ekspansi. Carrefour dan Makro, misalnya, akan menambah gerainya dari 15 unit menjadi 20 unit, Hypermart dari lima unit menjadi 15 unit, dan Giant dari 10 unit menjadi 15 unit. “Pembangunan minimarket lebih gila lagi, meski jumlahnya sudah ribuan,” kata Yongki.
Minimarket Alfamart, yang kini berjumlah sekitar 1.000 unit, akhir tahun ini akan bertambah menjadi 1.500 unit lebih. Indomaret juga akan bertambah dari 1.000 menjadi 1.500 unit. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), Handaka Santosa, mengatakan dari sisi gerai komposisinya adalah minimarket 80 persen, supermarket lima persen, department store (toko serba ada) lima persen, hanya satu persen hipermarket, dan sembilan persen gerai lain-lain seperti apotek, optik, dan koperasi.
Melihat pertumbuhannya, yang paling subur memang minimarket. Mereka menerapkan strategi “jemput bola”. Tak mengherankan jika Kelompok Salim dan Sampoerna saling berebut lokasi di daerah-daerah permukiman melalui Indomaret dan Alfamart. Alfa Retailindo lebih memfokuskan bisnis di minimarket ketimbang hipermarket. “Kondisi lalu-lintas perkotaan yang makin padat akan memaksa konsumen mencari gerai terdekat,” kata Komisaris Alfa Retailindo, Djoko Susanto.
Sebaliknya, Matahari justru lebih terfokus mengembangkan hipermarket. Menurut Manajer Humas PT Matahari Putera Prima, Dewi Susilowati, Matahari akan membangun 12 hipermarket baru di beberapa daerah seperti Depok, Batam, Solo, dan Makassar.
Saat ini Matahari baru memiliki enam hipermarket, tapi dalam lima tahun ke depan ditargetkan 50 hipermarket. “Kami melihat tren belanja masyarakat cenderung ke hipermarket,” katanya. Selain hipermarket, Matahari masih memiliki 44 unit supermarket dan 79 gerai department store.
Dibandingkan dengan yang lain, Hero terlihat cukup konservatif. Pengusaha bisnis pasar swalayan ini tetap konsisten mengembangkan usahanya di sektor itu. Juru bicara PT Hero Supermarket, Vivien Goh, mengatakan tahun ini Hero cuma menambah lima gerai Hero, menjadi 104 unit.
Hero juga akan membangun 20 minimarket Starmart, menambah yang sekarang 43 unit. Perusahaan yang kini dikuasai perusahaan Hong Kong (Dairy Farm) ini juga menambah 20 apotek Guardian menjadi 101 unit. “Dana yang kami anggarkan untuk membangun gerai baru itu Rp 150 miliar,” kata Vivien.
Menjamurnya pembangunan gerai baru itu, menurut Handaka, didorong oleh pertumbuhan penjualan, atau omzet pasar modern, yang semakin pesat. Sekalipun menghadapi krisis ekonomi pada pertengahan 1997, omzet anggota Aprindo terus meningkat dari Rp 13 triliun menjadi Rp 33 triliun pada 2001. Bahkan tahun ini omzet diprediksi akan naik hingga Rp 45 triliun, atau tumbuh 30 persen dibandingkan dengan 2004 sebesar Rp 35 triliun. “Pada 2004 omzet retail mencapai 15 persen dibanding 2003,” ujarnya.
Dari omzet 2004 itu, kata Handaka, kue terbesar, atau 45 persen, dinikmati supermarket dan hipermarket. Dari pengamatan Handaka, uang yang dibelanjakan konsumen membeli kebutuhan pokok di kedua jenis gerai itu memang lebih besar. Apalagi jumlah pengunjung konsumen ke kedua gerai itu juga lebih banyak dibandingkan dengan yang lain.
Untuk minimarket, meski jumlahnya sekitar 2.000 unit, kue yang dinikmati hanya 20 persen. Sisanya dibagi ke jenis pasar lain. Omzet satu peretail besar saja diperkirakan mencapai Rp 3 triliun-5 triliun setahun. Pertumbuhan omzet itu, kata Handaka, sesungguhnya bukan didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat.
Pendapatan per kapita kita hanya US$ 1.000, sekitar sepertiga pendapatan per kapita Thailand. Pertumbuhan itu lebih didorong oleh gaya hidup (life style) masyarakat yang makin mengikuti tren, baik tren produk maupun tren belanja ke pasar modern. “Tak peduli isi kantong. Yang kaya bisa beli merek mahal, yang miskin beli merek murah,” katanya.
Bagi Yongki, pemicu kenaikan konsumsi itu tak hanya life style, tapi juga pengaruh promosi yang semakin gencar, dan tingkat inflasi yang stabil dalam dua tahun terakhir. Karena itu, tak aneh bila hasil survei AC Nielsen terhadap 47 kategori barang konsumsi (fast-moving consumer goods) menunjukkan pertumbuhan penjualan produk di pasar modern pada 2004 mencapai 20 persen dibandingkan dengan 2003.
“Tahun ini pertumbuhannya bisa lebih tinggi lagi,” katanya. Kenaikan harga bahan bakar minyak bulan lalu diyakini tak terlalu berpengaruh terhadap konsumsi produk itu. Sayangnya, cerita sukses retail modern ini menjadi kabar buruk bagi pedagang pasar tradisional. Omzet para pedagang kecil ini dirasakan semakin tergerus oleh maraknya kehadiran pasar modern.
Yongki tak menutup kemungkinan pertumbuhan penjualan 47 kategori barang konsumsi itu oleh pedagang pasar tradisional akan semakin kecil. “Setiap tahun bisa turun 1-2 persen,” ujarnya. Handaka juga menyebut pangsa pasar retail modern dari total penjualan retail mencapai 30 persen. Pangsa pasar ini diperkirakan akan naik 1-2 persen setiap tahun seiring gencarnya pembangunan pasar modern.
Tapi tak hanya pedagang kecil yang merana. Pemasok (supplier) pasar modern, khususnya yang memiliki usaha kecil dan menengah (UKM), rupanya tak ikut bergembira di tengah kegairahan peretail modern. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern, Susanto, berkembangnya retail modern, terutama peretail asing seperti Carrefour, tak membuat pemasok UKM menjadi sejahtera.
Barang dagangan yang mereka pasok dikenai bermacam-macam biaya (fee) yang sangat memberatkan. Misalnya untuk listing fee saja bisa mencapai Rp 1 juta-3 juta per item per gerai. Susanto mencontohkan, bila 10 persen dari 35 ribu item barang di Carrefour dikenai listing fee Rp 1,5 juta saja, berarti Carrefour bisa menangguk dana Rp 47,25 miliar.
Dana sebesar itu sudah cukup untuk mengembalikan investasi pembangunan satu gerai Carrefour dalam waktu cepat. Itu belum ditambah biaya-biaya lain agar bisa menjadi pemasok di Carrefour. Ini menunjukkan Carrefour dan pengelola bisnis eceran lain sesungguhnya hidup dari pemasok.
Namun, Direktur Marketing Carrefour, Joseph V. Buntaran, menilai pernyataan Susanto itu tak berdasar. Sebab, biaya yang dikenakan Carrefour terhadap pemasok ditetapkan atas dasar negosiasi, termasuk besarnya fee. “Bila ada kesepakatan, kami akan menagih pemasok sesuai dengan hasil kesepakatan itu,” katanya.
Penerapan biaya juga tidak per item, tapi berdasarkan kesepakatan itu. Ada pemasok yang dikenai fee, ada juga yang tidak, tergantung sukses-tidaknya sang pemasok. “Tapi kenyataannya banyak pemasok yang sukses,” kata Joseph.
Bagi Handaka, penerapan biaya, khususnya listing fee, sebenarnya sesuatu yang biasa di retail modern. Hanya, jangan sampai terlalu mahal. “Tapi, bila memang biaya memasok di satu retail modern terlalu mahal, tidak perlulah memaksakan diri,” ujarnya.
Soal pengembalian investasi, Handaka menilai tingkat pengembalian investasi retail modern bisa cepat, tapi juga bisa lambat. Bahkan ada yang bisa bangkrut. Semua bergantung pada pemilihan lokasi, pemilihan barang yang dijual, strategi bersaing, dan kualitas karyawannya. Jadi, tidak gampang berbisnis retail, apalagi bagi pemain baru.
Menggoda Tren Belanja
Juni 20, 2009 · 1 Komentar
Kategori: artikel · berita · bisnis · econimic · ritel · ukm · waralaba
Ditandai: artikel, belanja, bisnis, economi, pasar, retail, ritel, shopaholic, shopping








1 response so far ↓
KangBoed // Juni 22, 2009 pada 4:04 pm
hehehe… belanja paling asyiik cuma duitnya susaaaaah
Salam Sayang