Appsi: Pasar Tradisional Harus Dikelola Secara Profesional

Pasar Tradisional Harus Berbenah Untuk Bisa Bersaing Dengan pasar Modern

Pasar Tradisional Harus Berbenah Untuk Bisa Bersaing Dengan pasar Modern

Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia (Appsi) meminta, pengelolaan pasar tradisional dilakukan secara profesional. Sehingga, pasar tradisional dapat mendominasi sistem ritel nasional.

“Pengelola pasar tradisional  mulai saat ini harus mengubah pola manajemen yang diterapkan selama ini. Pengelola jangan lagi hanya memungut retribusi tapi tidak peduli dengan kondisi bangunan yang mulai rusak,” tutur Sekretaris Jenderal Appsi Ngadiran kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (5/7).

Dia memaparkan, manajemen pengelolaan pasar tradisional di Indonesia difokuskan hanya untuk menambah pendapatan daerah. Kemudian, kata dia, dana tersebut hanya dinikmati oleh pejabat terkait bersama pengelola. Di satu sisi, kata dia, bagi pengelola yang penting adalah memperoleh gaji.

Sementara itu, lanjut Ngadiran, pedagang tradisional masih harus menanggung beban harga kios yang mahal. Menurut dia, untuk kios sayur atau daging berukuran 1×1,5 meter, pedagang harus membayar hak pakai senilai Rp 25-30 juta. Sedangkan harga  untuk kios pedagang mas atau pakaian berukuran 2×2 meter lebih dari Rp 100 juta.

“Selama ini, sistem pengelolaan pasar tradisional membuat kami sakit hati. Selain harus membayar retribusi, kami juga harus mengeluarkan modal besar hanya untuk kios,” jelas dia. Selain itu, butuh dana untuk pengadaan barang. Kalau tidak mampu, terpaksa meminjam ke rentenir karena pinjaman dari bank susah mengalir.

“Bagaimana lagi kami mau untung dan melunasi cicilan uang kios?,” ungkap Ngadiran.

Padahal, lanjut dia, ketika pedagang tidak sanggup melunasi pembayaran hak pakai kios atau tidak mampu membayar retribusi, hak pakai kios akan dialihkan ke pihak lain. Kios tersebut akan dijual dan hasil penjualan setelah dipotong pembayaran hutang dan lain-lain, dikembalikan kepada pemilik sebelumnya. “Itu pun kalau memang pengelola mau mengembalikan. Kira-kira apakah itu adil?,” tukas dia.

Di sisi lain, Ngadiran menegaskan, pedagang tradisional juga harus mulai membenahi pola perdagangan agar lebih profesional. “Selama ini, dengan alasan klasik untuk meraih untung, pedagang tradisional kadang menipu lewat timbangan atau harga. Sekarang, pedagang tradisional harus berubah cara yang seperti itu. Kalau pedagang juga tidak mau berbenah, sudah pasti mereka akan mati,” tutur Ngadiran.

Tegas
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah pusat seharusnya tegas memerintahkan pejabat, Pemerintah Daerah, atau pengelola pasar untuk mengatasi masalah tersebut. Menurut dia, keberpihakan pemerintah harus diwujudkan dengan kepedulian nyata bagi pedagang tradisional.

“Selain itu, kami berharap, dana-dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN sebaiknya dimanfaatkan untuk penyuluhan dan pencerdasan pedagang. Mungkin, kalau dana pembinaan BUMN terkait khawatir pedagang tidak mampu mengembalikan, tapi kalau dana hibah seharusnya dapat digunakan untuk itu,” kata Ngadrian.

Sebelumnya, lembaga survey Nielsen menegaskan, kehadiran ritel modern bukan penyebab runtuhnya pasar tradisional. Selain itu, berdasarkan riset tentang perkembangan ritel di Indonesia, Nielsen meyakinkan, hingga saat ini, pasar tradisional masih mendominasi sistem ritel nasional. (Investor)

Artikel Menarik Lain:

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Appsi: Pasar Tradisional Harus Dikelola Secara Profesional”

  1. Kunjungi website kami http://www.pasarsegar.com. Tersedia kios, ruko dan lapak yg sangat cocok untuk berdagang atau sekedar investasi di pasar tradisonal yg berkonsep modern dengan 4 pilihan lokasi (JABODETABEK : Bintaro dan Depok. SULAWESI : Makassar dan Manado)

Leave a Reply