Resesi global yang telah berlangsung sekitar satu tahun akan segera berakhir, bahkan kemungkinan sudah berkahir, lebih cepat dibanding prediksi sebelumnya. Demikian proyeksi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dipublikasikan, Kamis (3/9). Chief economist OECD Jorgen Elmeskov menandaskan, pemulihan kemungkinan lebih kuat dibanding prediksi sebelumnya. Prediksinya itu cukup beralasan lantaran ia dasarkan pada prediksi beberapa negara ekonomi maju.
“Dibanding dengan ekspektasi sebulan yang lalu, kami sekarang telah mengalami pemulihan, mungkin terjadi lebih awal dan kemungkinan sedikit lebih kuat. Pasalnya kondisi keuangan telah meningkat secara pesat lebih dari yang kami asumsikan beberapa bulan yang lalu,” ungkat dia.
Prediksi OECD memperlihatkan, pemulihan ekonomi pada kuartal III-2009 yang dipicu oleh produk domistik bruto (PDB) di Amerika Serikat (AS) dan di 16 negara kawasan Eropa lainnya. Kuatnya prediksi pemulihan tersebut lebih dipicu oleh pertumbuhan di Jerman dan Prancis.
Prediksi itu menunjukan ekspansi tahunan di AS pada kuartal III tahun ini sebesar 1,6%, 0,3% di kawasan Eropa, dan 1,1% di Jepang. Taksiran terhadap pemulihan di sejumlah negara tersebut pada umumnya lebih optimis dibanding asumsi pada Juni lalu.
Lonjakan yang dimulai dengan pemulihan cepat dan dramatis di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan berbagai negara emerging market lainnya di Asia pada kuatal II tahun ini, menurut Elmeskov, lebih disebabkan oleh paket stimulus ekonomi pemerintah dan sebagai imbas dari suku bunga yang sangat redah di seluruh dunia. Ketika OECD memprediksi kelanjutan kontraksi ekonomi pada kuartal III di Inggris dan Italia, dan lonjakan disusul oleh kemerosotan pada kuartal IV di Jepang, OECD menilai bahwa kelompok negara indutri yang tergabung dalam G-7 lebih baik dibanding sebelumnya.
Kendati demikian, agenda pertemuan negara-negara Kelompok 20 (G-20) pada pekan ini di London, masih akan terfokus pada pembahasan berbagai langka untuk menggelontarkan dana stimulus triliunan dolar dan reformasi sistem keuangan internasional.
Dalam pertemuan tinggkat menteri keuangan (Menkeu) itu, AS akan mengusulkan kerangka untuk meningkatkan standar modal perbankan internasional. Selain membahas penggelontaran paket stimulus, perundingan itu juga akan memulai proses pergantian standar Basel II menjadi upaya yang lebih luas.
Modal Solid
Menkeu AS Timothy Geithner menandaskan, kesepakatan modal yang solid adalah bagian penting untuk membuat sistem keuangan menjadi lebih stabil. Langkah yang akan diambil adalah dengan membatasi risiko kegagalan yang lebih besar yang berpotensi dialami oleh suatu institusi besar. Kesepakan itu, kata Geithner, akan dikembangkan di bawah pengawasan Badan Stabilias Keuangan, badan internasional yang baru-baru ini dikembangkan di negara-negera ekonomi berkembang atau emerging economic seperti di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, dan Brazil. Dalam pertemuan di Brussels, Belgia, Rabu (2/9), para menteri keuangan Uni Eropa mengatakan, sebanyak 16 negara Eropa yang menggunakan mata uang euro telah melewati masa terburuk dari resesi. Namun, mereka menolak untuk menghentikan segerah bantuan moneter dan fiskal.
Seorang pejabat Inggris menandaskan, para menkeu G-20 akan sepakat untuk tidak mengentikan stimulus dalam waktu dekat. “Dan setiap orang berpikir terlalu dini untuk menyatakan kemenangan,” kata dia. (rtr)








2 tanggapan so far ↓
KangBoed // September 7, 2009 pada 3:16 pm
pertamaaaaaaaaaaaxzz
KangBoed // September 7, 2009 pada 3:17 pm
hehehe perasaan dampaknya sekarang mulai terasa sekali