Penetrasi agresif gera-gerai ritel modern di Indonesia masih berpeluang digenjot pada tahun depan. Retailer Service Director Nielsen Yongky Susilo menilai, peritel modern di Indonesia masih berpeluang membuka gera-gerai baru, bahkan ke kota-kota strategis di luar Jakarta.Berdasarkan survei Nielsen, Indonesia menempati posisi terakhir di antara delapan negara Asia dengan jumlah penetrasi gerai ritel modern terbesar. Survei tersebut dikhususkan untuk ritel modern sektor bisnis makanan, tidak termasuk gerai department store.
Survei itu memaparkan, penetrasi gerai ritel modern bisnis makanan di Indonesia sebanyak 52 unit untuk satu juta penduduk. Sementara itu, Korea Selatan menempati posisi teratas dengan penetrasi 504 unit untuk satu juta penduduk. Tiongkok berada setingkat di atas Indonesia dengan penetrasi gerai sebanyak 74 unit untuk satu juta penduduk.
“Peluang ekspansi ritel modern di Indonesia masih sangat besar. Penetrasi yang bisa digarap masih terbuka, terutama untuk menjangkau 40% penduduk urban di Indonesia. Aksi-aksi protes ekspansi toko yang selama ini terjadi justru menghambat proses untuk maju. Padahal, keberadaan ritel modern justru membantu konsumen dengan harga yang lebih rendah,” kata Yongky di Jakarta, pekan lalu.
Dia menambahkan, konsumen selalu akan berkunjung ke pasar tradisional dan ritel modern. Hanya saja, lanjut dia, alokasi pengeluaran kemungkinan berbeda dan itu merupakan pilihan konsumen. “Ekspansi gerai juga akan membuka lapangan kerja sehingga mendorong peingkatan pendapatan masyarakat,” kata Yongky. Di sisi lain, dia mengatakan, ekspansi gerai itu bergantung pada ketersediaan infrastruktur, seperti listrik yang memadai di lokasi-lokasi yang dibidik.
“Ketersediaan infrastruktur listrik di kawasan Timur Indonesia seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua masih 20-40% dari penetrasi yang ada. Angka itu lebih rendah dari penetrasi di kawasan Indonesia Barat dan Tengah yang berkisar 60-70%,” tutur dia.Secara terpisah, Wakil Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Henryanto Komala mengatakan hal senada. Menurut dia, Alfamart tetap melanjutkan ekspansi karena masih berpeluang besar.
“Ekspansi masih terbuka dan itu akan membuka peluang bagi perkembangan usaha. Untuk Alfamart, penetrasi satu gerai ditujukan membidik sekitar 2.00 kepala keluarga. Jadi, peluang masih sangat besar,” kata Henryanto kepada Investor Daily.







