Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi, menjelang perayaan Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, produk fesyen menguasai pasar konsumsi sekitar 55-60

Natal dan Tahun Baru
“Sisanya oleh makanan dan minuman baik olahan atau produk segar. Hal itu berbeda dengan saat Ramadhan yakni makanan dan minuman lebih besar,” kata Ketua Data dan Informasi Pasar Aprindo Roy N Mandey di Jakarta, Sabtu (12/12).
Dia menerangkan, selama Ramadhan, konsumen cenderung berbelanja makanan dan minuman lebih besar, selain untuk kebutuhan pokok, juga untuk oleh-oleh mudik dan stok berbuka Puasa. “Kalau Natal dan Tahun Baru, kecenderungannya adalah berpenampilan baru mulai dari baju, sepatu, hingga aksesoris,” tutur Roy.
Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Subagyo mengatakan, permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru diperkirakan hanya naik 5-10%. Permintaan itu tidak sebesar pada saat Ramadhanyang bisa melonjak hingga 30%. Subagyo menambahkan, selama menjelang Natal dan Tahun Baru, pasar juga dikuasai oleh produk tertentu, seperti minuman.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama PT Sarinah Jimmy M Rifai Gani. “Memang ada peningkatan permintaan untuk Natal dan Tahun Baru kali ini meski tidak signifikan atau flat dibandingkan 2008. Mungkin, sekitar 5-10%. Untuk minuman juga demikian, baik untuk wine, minuman golongan A, B, atau C,” kata Jimmy di Jakarta, Sabtu.

Gerai Produk Fashion
Terkait minuman beralkohol (minol), jelas dia, peningkatan terbesar biasanya terjadi setiap Natal dan Tahun Baru dibandingkan musim liburan lainnya dalam setahun. Sebab, kata dia, pada saat Natal dan Tahun Baru, terjadi kenaikan kunjungan wisatawan manca negara.
“Untuk minol impor ini memang pasarnya adalah turis asing karena harganya yang mahal. Sarinah sudah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi permintaan dan menghindari kelangkaan,” ujar dia.
Jimmy menambahkan, kenaikan permintaan dengan tingkatan serupa juga dialami oleh produk-produk department store Sarinah.
MDS Naik 50%
Sementara itu, Matahari Department Store (MDS) menargetkan, penjualan selama Natal dan Tahun Baru melonjak sekitar 40-50% dibandingkan bulan reguler. Pada November 2009, MDS membukukan penjualan sekitar Rp 500 miliar. Sehingga, selama Januari-November 2009, penjualan MDS diperkirakan mencapai Rp 6,2 triliun.
“Untuk Desember atau momen Natal dan Tahun Baru, MDS optimistis bisa mencapai penjualan sekitar Rp 800 miliar-1 triliun atau naik 40-50% dari bulan reguler.
Meski tidak semua merayakan Natal, tapi konsumen MDS juga tetap berbelanja produk fesyen untuk penampilan baru menjelang Tahun Baru,” ungkap Roy yang juga Vice President Corporate Communication PT Matahari Putra Prima Tbk (induk usaha MDS).
Sementara itu, unit bisnis Matahari di bidang ritel makanan, Hypermart ditargetkan mampu meningkatkan penjualan sekitar 30-40% pada saat Natal dan Tahun Baru. Selama Januari-November 2009, penjualan bisnis makanan Matahari diprediksi mencapai Rp 5,8-5,9 triliun. (sumber : investor daily)







