Di tengah gempuran hebat produk China ke Tanah Air, Indonesia menegaskan tetap ikut memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010. Itu berarti hanya dalam waktu sepuluh hari lagi, pasar kita bakal kian dikepung oleh produk China, baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.

Di negara maju seperti Australia saja, produk Cina masih dikenakan pembatasan
Lalu, apa salahnya dengan produk China? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia lagi, selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan produk dalam negeri, bahkan lebih buruk.
Produk China juga masih diragukan keamanannya bagi kesehatan. Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah sehingga produk dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati.
Saat ini hampir semua jenis produk China melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia.
Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya mencapai 8,55%.
Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81% menjadi 11,37%.
Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah.
Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak.
Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China.
Belum terlambat bagi pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan itu. Dengan melihat masih compang-campingnya industri manufaktur kita, ada baiknya bila Indonesia menunda implementasi perdagangan bebas dengan China itu. Modal nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur. (Editorial Media Indonesia)
Kita tidak bisa bayangkan dengan kondisi iklim bisnis yang kurang didukung penuh oleh pemerintah karena biaya ekonomi tinggi yang disebabkan banyaknya pungli dan panjangnya perijinan maka bisa diprediksi akan banyak sektor bisnis riil yang bakal gulung tikar dengan serbuan produk Cina, dan berapa banyak pengangguran akan tampak didepan mata yang berdampak pada masalah sosial








14 tanggapan kepada “Kalau Belum Siap Kenapa Memaksa Siap [ Perdagangan Bebas Asean - Cina ]”
Artono
Desember 22nd, 2009 pukul 21:39
Saatnya kita Berbenah…. Konsekwensi Kapitalisme Global….. harus dihadapi…. the first step is CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI…
paul
Desember 23rd, 2009 pukul 14:04
masa kita takut bersaing sih?kpn kita mau maju?lagian bagus donk harga2 jd murah,biar ga ada pedagang yang semaunya sendiri mainin harga….
ANDOKO LASMONO
Januari 5th, 2010 pukul 10:53
Apakah industri sepatu juga ikut terpuruk bagi home industi
Lintar
Januari 6th, 2010 pukul 14:16
pasara bebas kenapa takut??? enak lho produk yg kita beli akan sangat murah, buat para pengusaha Indonesia jadikan ini tantangan. kalo emang takut jangan jadi pengusaha. dari pada kita beli barang sangat mahal karena pajak yg sangat tinggi, sementara hasil pajaknya gak jelas pemanfaatannya. 100 hari SBY yg paling sukses adalah Pembelian Toyota Crown buat paara mentri dari hasil pajak rakyat miskin.
bound
Januari 9th, 2010 pukul 21:39
PR buat pemerintah dan para pejabatnya
jika ingin dampak positif dari perdagaan bebas ini mka buat lah suatu lembaga yang memberikan kredit resmi dari pemerintah untuk para pengusaha baik kecil maupun besar
amin FIA
Januari 11th, 2010 pukul 09:21
apa sebenarnya yang dipikirin pemerintah,,, sudah wirausahawan dalam negeri masih sedikit dan pada mulai bangkit eeee malah ikut perdagangan bebas dengan china
djoko
Januari 12th, 2010 pukul 09:23
kemajuan memang harus qt hadapi, tapi klw bangsa qt belum siap knp qt harus memaksakan???? jangan sampai hanya kepentingan dari beberapa pihak saja yang ingin mengeruk keuntungan SEBESAR- BESARNYA melupakan kaum “mayoritas” (rakyat miskin) di Negeri ini.
Chris
Januari 18th, 2010 pukul 09:35
Bila kita tak ingin maju maka tolaklah perdagangan bebas. bila kita menghendaki negara kita bisa bersaing dengan negara lain, siapkan dirimu untuk menghadapi pasar bebas
inzie
Januari 18th, 2010 pukul 12:24
Saya heran dengan pemerintah!!!
secara, Indonesia dari dulu selalu mengalami krisis ekonomi, pelestarian tak bisa di manfaatkan dengan baik, sekarang di tambah lagi dengan adanya PASAR BEBAS, jika memang siap bersaing,. lakukan dengan penuh tanggung jawab. jangan bertindak sebelum berfikir dalam suatu tindakan.!!!
Friston
Januari 18th, 2010 pukul 20:54
Perdagangan bebas tidak akan menjadi sebuah masalah jika komoditi Indonesia dengan china itu dapat saling bertukar dan bukan justru bersaing hebat. Komoditi di indonesia itu banyak kesamaan dengan komoditi di China, sehingga terjadilah hukum rimba siapa kuat di yang menang. Berbeda dengan jepang, komoditi mereka berbeda dengan Indonesia sehingga masih bisa saling bertukar..
Robert
Februari 11th, 2010 pukul 13:04
Siap atau tidak kita harus menerima kenyataan ini. Mari kita bekerja secara produktif sehingga tidak hanya menjadi konsumen saja.
iwan
Mei 20th, 2010 pukul 13:54
negara dengan tanah yg subur ,kaya dgn sumber alam mngapa harus terpuruk……mngapa kekayaan indonesia harus dkeruk oleh koruptor….dasaaaaaar …….MISKIN YAAA TETEP AZAA MISKIN……
dewi
Juni 8th, 2010 pukul 16:14
SDA kaya tapi NEGARA TETAP MISKIN………………………
suatu hal kalau mau memulai jangan terlalu di paksakan ntar malah semakin BURUK
mala
Juni 20th, 2010 pukul 12:00
komoditas yg dihasilkan memang sama tapi yg membedakan itu operasionalnya . operasional komoditi perusahaan2 di indonesia sudah mahal, suku bunga bank selalu tinggi (mnyebabkan harga2 jd mahal) etc . beda dg china yg biaya operasionalnya lebih murah . jadi harga komodity yg dihasilkan pun otomatis lebih murah di banding indonesia terang saja produk2 china lebih banyak beredar dan lebih laris di tengah2 masyarakat. pertanyaan nya skr adalah,, bgmna cara perusahaan2 atau sebut saja kita lah sbg masy. berusaha untuk lebih mencintai produk dlm negeri ? dan apa strategi perusahaan2 spya produknya ttp mampu bersaing dg prduk2 china ditengah2 pasar bebas ini?
itulah Pr bagi pengusaha2 lokal….