Liburan Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, Omset Ritel Naik 10 Persen

Persaingan mal di Jakarta dan sekitarnya makin ketat seiring bertambahnya mal yang diprediksi jumlahnya telah mencapai 130 buah, terbanyak di dunia. Gaya hidup masyarakat Jakarta yang gemar berbelanja membuat mal-mal selalu dipadati pengunjung, khususnya pada hari libur.

"penjualan ritel saat natal"Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stafanus Ridwan mengatakan, jumlah mal di Jakarta terus bertambah karena adanya kebutuhan yang cukup tinggi. “Sebagian besar masyarakat ibukota menghabiskan waktu weekend dan hari libur dengan pergi ke pusat-pusat belanja,” katanya kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (24/12).

Ini disebabkan mal-mal di Jakarta mampu menghadirkan beragam konsep wisata belanja untuk menarik minat pengunjung, seperti tempat kongkow, teater 21, dan berbagai wahana permainan anak-anak. Bahkan, pengelola mal acapkali menggelar event khusus dengan mendatangkan artis ternama.

Di sepanjang jalan Sudirman, berderet mal-mal yang menyajikan beragam konsep, seperti Plaza Semanggi, Senayan City, FX Plaza, EX Plaza Indonesia, Grand Indonesia Shopping Town, dan Mall of Indonesia. Di Kelapa Gading, sejumlah mal bersaing ketat seperti Kelapa Gading Square, Mal Kelapa Gading, Mal Artha Gading, dan Kelapa Gading Trade Center. Di kawasan Serpong dan sekitarnya ada Supermal Lippo Karawaci, Wall Trade Center, Summarecon Mall Serpong, dan lainnya.

Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Andreas Kartawinata mengatakan, Lippo akan membangun pusat perbelanjaan dengan konsep yang bervariasi, seperti Pejaten Village dan PX Pavilion@Rhe St. Moritz yang berlokasi di kawasan The St Moritz Penthouse&Residence, Puri Indah, Jakarta Barat. PX Pavilion akan diisi oleh penyewa utama (anchor tenant) yang bergerak di bidang gaya hidup dan hiburan, antara lain zonasi makanan dan minuman, fine dining lounge, dan nightlife. Saat ini 90% tenant sudah menempati PX Pavilion dan diharapkan terisi 100% pada 2010.

Persaingan mal bakal makin seru dalam dua hingga tiga tahun ke depan, ketika sejumlah proyek superblok yang dilengkapi pusat perbelanjaan di kawasan Casablanca dan Kuningan selesai dikerjakan. Kawasan ini kabarnya akan dijadikan kawasan belanja mirip Orchard Road Singapura.

Namun, para pengembang mengaku tidak gentar membuka mal baru meskipun persaingannya sangat ketat. ”Persaingan yang ketat membuat para kompetitor berupaya mempercantik dan memperkuat konsep untuk menarik konsumen,” kata General Manager Podomoro City Alvin Andronicus.

Segmentasi Pasar

Kiat agar pusat perbelanjaan ramai dikunjungi konsumen, kata Alvin, terletak pada segmentasi pasar yang jelas, konsep yang ditawarkan, dan lokasinya strategis. ”Pengembang harus menentukan siapa dan bagaimana target pasarnya,” ujarnya. Selain itu, kata dia, lokasi sangat menentukan keberhasilan mal tersebut. Membangun pusat perbelanjaan di dalam perumahan mewah memberikan keuntungan tersendiri karena komunitasnya mempunyai daya beli sangat tinggi.

Yang tak kalah penting adalah menawarkan konsep belanja yang menarik. ”Belakangan ini, pengembang makin kreatif, yakni memadukan konsep shopping destination dengan leisure dan entertainment untuk memenuhi kebutuhan masyarakat megapolitan,” katanya.

Hal senada diungkapkan Direktur Utama Summarecon Johannes Mardjuki. ”Ada beberapa wilayah yang potensial untuk pengembangan ritel, seperti Serpong dan Kelapa Gading,” katanya. Ia menjelaskan, potensi ritel semakin baik jika berada di tengah-tengah permukiman elite kelas menengah ke atas.

Namun, survei PT Cushman & Wakefiels menunjukkan, persaingan yang ketat membuat sejumlah pusat perbelanjaan tak bisa memenuhi target tingkat hunian. Pada kuartal III-2009, tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta sebesar 80% dengan jumlah pasokan mencapai 3.300.000 M2, sedangkan permintaannya sekitar 2.510.000 M2.

"ritel indonesia"

Fakta ini bisa menggambarkan bahwa properti ritel kelebihan pasokan. Sebagian kalangan menyebut bisnis ritel di Jakarta sudah jenuh. Tetapi menurut Stefanus Ridwan kebutuhan mal masih cukup tinggi, hanya saja sejumlah mal gagal membuat konsep yang baik untuk menarik para tenant. ”Kecepatan pengeloa mal beradaptasi mengikuti tuntutan life style masyarakat sangat memengaruhi tingkat kunjungan sekaligus meningkatkan penjualan,” katanya.

Menurut dia, cukup banyak pengelola mal yang lamban membenahi desain dan produk. “Kondisi itu tidak hanya dialami mal-mal lama, tetapi juga mal baru yang tidak cepat berbenah mengikuti perubahan,” jelasnya.

Selain perubahan, kata Stefanus, setiap mal perlu membangun karakteristik tertentu yang membedakannya dengan mal lain. Ia mencontohkan pusat perbelanjaan di Mabunkong, Thailand, yang dikenal para turis sebagai pusat jajanan (snack) seperti abon, ikan teri atau kerupuk.”Keberhasilan pengelola mencitrakan kawasan ini seolah-olah turis asing belum ke Thailand kalau belum mengunjungi Mabunkong, menjadikan kawasan ini selalu ramai” kata dia.

Mal di Indonesia, kata Stefanus, sebenarnya sangat berpotensi untuk dikenal di dunia karena memiliki produk unik dengan harga lebih murah dibanding luar negeri. Apalagi, sewa ruangnya jauh lebih murah dibandingkan Singapura atau Malaysia dengan perbandingan 1 banding 5. Mangga Dua, misalnya, dikenal turis asing sebagai tempat belanja barang-barang berkualitas dengan harga terjangkau.

“Ini berarti harus ada kerja ekstra dari pengelola mal, pemerintah, dan asosiasi agar pusat perbelanjaan di Indonesia dikenal hingga luar negeri dan menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata belanja layaknya Singapura, Hongkong, dan Malaysia,” katanya. Di Singapura, sekitar 50% pembeli di mal adalah turis asing, Hong Kong 60%, dan Malaysia sekitar 30%.

Jalan-Jalan di Mal

Kegemaran masyarakat di Indonesia berpergian ke mal ternyata tidak otomatis mendongkrak penjualan ritel mengingat sebagian besar mereka cenderung berjalan-jalan atau kongkow, bukan untuk berbelanja. Kondisi ini mendorong pengelola mal menyediakan porsi food and beverages (F&B) berupa stan makanan lebih besar dibandingkan lainnya, misalnya Cilandak Town Square (Citos) yang dikenal sebagai tempat kongkow.

Ini diakui oleh Media Relations SCTV Nugroho Agung Prasetyo. Hampir setiap ada waktu luang ia mengaku ke Senayan City karena dekat dengan kantornya. “Tapi, lebih sering jalan-jalan, sekadar cuci mata atau mengantar teman berbelanja. Lumayan, menghilangkan stres, apalagi pengunjung di sini banyak yang cantik, ” katanya.

Ruth Mokalu, karyawan perusahaan PR PT Prasasta mengatakan, ia menyukai mal yang menyediakan tempat kongkow yang asyik. “Aku senang ke mal yang banyak barang murah tapi fashionable dan juga harus ada tempat kongkownya,” katanya. Beberapa mal yang disukai Ruth antara lain Pondok Indah Mal dan Mal Ambasador. Dua mal tersebut, menurut dia menawarkan barang-barang murah tapi fashionable. Selain itu juga bisa dijadikan tempat kongkow atau meeting kecil dengan klien.

Penjualan Naik

Dalam menyambut Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, sebagian besar mal di Jabodetabek menggelar program diskon untuk meningkatkan penjualan. “Selama Natal dan Tahun Baru, penjualan di ritel modern naik sekitar 5-10% untuk produk makanan dan minuman (mamin) dan sekitar 15% untuk produk fesyen, “ kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin J Mailool usai peluncuran program Pojok Demo Sahabat UKM di Jakarta, Rabu (23/12).

Vice President Corporate Communication PT Matahari Putra Prima Tbk Roy N Mandey menuturkan, penjualan Matahari Department Store (MDS) ditargetkan melonjak sekitar 40-50% dibandingkan bulan reguler. Pada November 2009, MDS membukukan penjualan sekitar Rp 500 miliar sehingga secara akumulatif (Januari-November 2009), penjualan MDS diperkirakan mencapai Rp 6,2 triliun.

“Untuk Desember atau momen Natal dan Tahun Baru, MDS optimistis bisa mencapai penjualan sekitar Rp 800 miliar-1 triliun atau naik 40-50% dari bulan reguler. Meski tidak semua merayakan Natal, konsumen MDS juga tetap berbelanja produk fesyen untuk penampilan baru menjelang Tahun Baru. Karena itu, MDS selalu menawarkan program-program spesial kepada konsumen,” ungkap Roy.

Sementara itu, unit bisnis Matahari di bidang ritel makanan, Hypermart ditargetkan mampu meningkatkan penjualan sekitar 30-40% pada saat Natal dan Tahun Baru. Selama Januari-November 2009, penjualan bisnis makanan Matahari diprediksi mencapai Rp 5,9 triliun. Di sisi lain, penjualan produk fesyen berkontribusi sekitar 55-60% dari produk konsumsi.

Sementara itu, Managing Director Alfamart Pudjianto mengestimasi, penjualan ritel minimarket dan supermarket selama Natal dan Tahun Baru naik sekitar 5% dibandingkan bulan reguler. “Yang paling besar adalah penjualan produk makanan ringan (snack/ kudapan) dan produk fesyen,” katanya.

Pemilik perusahaan garmen merek Hammer, Eddy Hartono mengatakan, meski produk fesyen mendominasi pasar Natal dan Tahun Baru, hal itu ditentukan oleh model dan merek. “Penjualan produk Hammer selama Natal dan Tahun Baru ini bisa naik sekitar 20% dibandingkan momen sama tahun 2008,” kata Eddy.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan mengatakan, penjualan makanan dan minuman hingga akhir 2009 diperkirakan naik 10% dibandingkan omzet 2008 yang diprediksi mencapai Rp 505 triliun. (Investor Daily)

Artikel Menarik Lainnya:

Penjualan Nestle kembali turun @ mesin kasir
Pukul 00.00 WIB, Harga Pertamax Turun
Pelajaran Menghadapi Komplain Konsumen
Peritel Modern BerLomba Naikkan Pasokan Sampai 50% Dengan Last Bite

Leave a Comment