JAKARTA. Memenuhi janjinya untuk merangkul pasar tradisional, hari ini (22/2) Carrefour Indonesia Perusahaan Ritel Asal Perancis menggelar pelatihan bagi pedagang pasar tradisional di beberapa titik di Jakarta. Pelatihan yang diikuti sekitar 60 pedagang pasar itu diadakan di Institut Carrefour Indonesia yang berada di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

“Kami memberikan materi dengan tema Personal Hygiene for Food Handler,” terang Hendri Satrio, External Communication Carrefour. Materi pelatihan sendiri diberikan langsung oleh National Hygiene Manager Carrefour Indonesia.

Direktur Urusan Korporat Carrefour Irawan Kadarman menjelaskan, kegiatan yang dilakukan Carrefour tersebut merupakan tindak lanjut dari kucuran kredit yang diberikannya kepada unit usaha kecil yang selama ini masih masuk dalam kategori non pemasok.

“Setelah melalui beberapa tahap pelatihan, pedagang pasar bisa menjadi pemasok,” cetus Irawan. Irawan menjelaskan, selama ini kendala pedagang kecil untuk bisa menembus pasar ritel adalah kemampuan volume, jaminan kualitas, dan jaminan kelangsungan pasokan.

Irawan berjanji, Carrefour yang telah mengucurkan kredit kepada sekitar 3.000 pedagang sejak 2007 silam, akan melanjutkan terus program pelatihannya. “Setelah soal higenitas, kami akan lanjutkan dengan soal penataan, kemasan, perencanaan keuangan, dan perencanaan inventory,” terang Irawan.

Terkait dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai ada hal yang lebih mendesak untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Hal mendesak yang menjadi kebutuhan para pedagang pasar tradisional tersebut adalah akses berdagang. “Pedagang pasar membutuhkan akses untuk bisa mendapatkan barang dari pemasok besar,” kata Ngadiran, Senin (22/2).

Menurut Ngadiran, selama ini pedagang kecil hanya memiliki akses pasokan dari pedagang kecil. Sehingga, harga yang didapat pun menjadi lebih besar dibandingkan harga yang didapat peritel besar dari pemasok besar. Akibatnya pedagang kecil level pasar maupun warung-warung di kawasan pemukiman menjadi kalah bersaing.

“Kalau jualan dengan margin yang proporsional pasti kalah dengan ritel yang jual lebih murah, kalau jual murah agar konsumen tertarik bisa rugi sendiri,” cetus Ngadiran.

Ngadiran mengatakan, kondisi pedagang kecil yang harus bersaing dengan pedagang besar membuat persaingan menjadi tidak sehat. Ia mencontohkan, selain soal harga pedagang pasar kalah bersaing dalam hal kenyamanan. Tidak heran konsumen pun cenderung pergi ke ritel besar untuk membeli produk yang sama namun dengan harga yang lebih murah itu.

Carrefour

Carrefour

Belum lagi perlakuan pembayaran oleh pemasok yang tidak seimbang. Menurut Ngadiran, peritel besar bisa mendapatkan kemudahan pembayaran kepada pemasok dengan siklus tertentu, sementara pedagang kecil harus selalu membayar secara langsung. “Kami juga membutuhkan keberpihakan dalam hal itu,” ucap Nadiran.

Karenanya selain memberikan pelatihan usaha, Ngadiran juga mendesak kepada Carrefour untuk memberikan akses pedagang kecil untuk mendapatkan barang dari pemasok besar. “Tidak cukup hanya soal higenis yang dibahas, yang lebih mendesak adalah bagaimana mendapat barang dengan harga yang bersaing,” tandasnya. (sumber : kontan online)