Ritel Buka 24 Jam Dinilai Masih Belum Sesuai Dengan Budaya Masyarakat
Nielsen Indonesia menilai pola operasi 24 jam terhadap gerai modern, terutama supermarket dan hipermarket masih tidak sesuai dengan prilaku belanja masyarakat saat ini.

Salah satu gerai yang buka 24 jam di Indonesia
Direktur Servis Ritel The Nielsen Indonesia Yongky Susilo mengatakan jika supermarket dan hipermarket buka 24 jam malah akan rugi sendiri, mengingat kebiasaan konsumen yang masih enggan berbelanja sejumlah barang pada tengah malam hingga dini hari.
“Kalau supermarket dan hipermarket buka 24 jam akan rugi sendiri. Siapa mau belanja besar pada dini hari, kecuali minimarket dan convenience store terutama yang ada di kota besar, karena ada saja kebutuhan satu atau dua barang oleh konsumen di wilayah yang tidak pernah berhenti aktivitasnya,” kata Yongky hari ini.
Berkaitan dengan sikap pemerintah yang kurang setuju dengan pembatasan jam operasi supermarket atau pasar modern seperti yang dikemukakan Wapres Boediono, Yongky juga mengatakan tidak perlu sampai mengubah Perpres No. 112/2007 yang di dalamnya mengatur jam buka dan tutup toko modern.
Yongky menilai sekalipun ada pembatasan jam buka gerai modern, perpres perpasaran dinilai masih fleksibel karena ada klausul diperkenankannya peritel membuka tokonya lebih lama asalkan meminta izin pada pemerintah daerah setempat.
“Tidak usah dicoret [pembatasan jam buka toko modern di Perpres No. 112/2007], kalau ada kalusul yang fleksibel,” kata Yongky.
Seperti diketahui belum lama ini Wapres Boediono mengatakan kurang setuju jika pemerintah harus membatasi jam beroperasi supermarket atau pasar modern, kendati dengan alasan memberikan kesempatan berkembang bagi pedagang kecil dan pasar tradisional.

Lho sekarang soalnya dimulai dari pelabuhan udah dilakukan pelayanan 24 jam. Satu hari 2 kali ganti sif.
Kalo gak salah pelabuhan tanjung perak surabaya. Dan ternyata yang siap hanya 1 bank…
Bener banget tuh kalo budaya kita belum siap beraktifitas 24 jam