Waspadai Serbuan MAMIN Tengah Tahun Saat Pemberlakuan ACFTA

MAMIN (Makanan Minuman)
Pengusaha makanan dan minuman (mamin) skala kecil dan menengah menghadapi ancaman serius. Sebab, pada pertengahan tahun nanti mamin impor, terutama dari Tiongkok, diperkirakan menyerbu pasar lokal. Membanjirnya mamin impor merupakan konsekuensi dari pemberlakuan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area).
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Jatim Yapto Willy Sinatra menuturkan, pemberlakuan ACFTA akan memukul pelaku usaha mamin dalam negeri. ”Memang tidak semua tergerus. Tapi, khusus pelaku sektor kecil dan menengah akan kesulitan bersaing dengan serbuan mamin impor. Berbeda dengan pelaku usaha besar yang justru volume ekspornya naik sehingga mengerek omzet,” katanya kemarin (28/3).
Menurut dia, lemahnya daya saing produk lokal disebabkan volume dan tampilan produk. Sebab, volume mamin impor yang menyerbu dalam negeri sangat besar. Apalagi, pabrik mamin luar memang memiliki kapasitas besar dalam memproduksi mamin. Selain volume, tampilan packaging sangat memengaruhi permintaan.
”Nah semua bergantung kepada konsumen. Kalau menurut mereka lebih menarik mamin impor, tentunya akan beralih membeli produk asing itu. Tapi, kalau produk lokal bisa bersaing, tentu kedatangan mamin impor tidak jadi persoalan. Diperkirakan, mamin impor akan merebut 15-25 persen pasar mamin Jatim,” tuturnya.
Hingga kini dampak impor mamin memang belum terasa. Namun, diperkirakan serbuan mamin impor akan dirasakan pelaku usaha Juni nanti. Sejumlah barang impor pun kini tengah bersiap masuk ke tanah air. ”Jumlahnya tak sedikit, satu kontainer berukuran 20 feet bisa penuh. Mulai berdatangan Juni nanti,” katanya.
Dia mengatakan, kapasitas produksi usaha sektor kecil dan menengah relatif lebih kecil, yakni 25 persen dari total market dan sisanya 75 persen digarap pabrikan besar. (sumber : jawa pos.co.id)
