Pemda Dinilai Kurang Serius Kembangkan Pasar Tradisional

Peneliti Ritel Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Rizal Halim mendesak pemda konsisten mempertahankan pasar tradisional serta memperbaiki bangunan pasar yang hampir 70%-80% berumur lebih dari 20 tahun.

Pasar Keputran Surabaya, Sekarang hanya menjadi momok tidak sedap dan biang kesemerautan di tengah kota

Pasar Keputran Surabaya, Sekarang hanya menjadi momok tidak sedap dan biang kesemerautan di tengah kota

Rizal mengharapkan pemda tidak bersikap sebaliknya yaitu menjalankan kebijakan yang tidak kreatif dengan mengubah peruntukan pasar tradisional di lokasi strategis menjadi bangunan peruntukan lain seperti hotel dan mal.

“Kalau sampai pedagang tergeser karena pasar tradisionalnya diubah peruntukannya menjadi hotel atau mal itu keliru, karena bisa memberi dampak sosial yang luar biasa,” kata  Rizal hari ini.

Menurut dia, hilangnya lahan pasar tradisional menyebabkan banyak orang tidak lagi memiliki kegiatan untuk mendapatkan uang. Yang pada gilirannya bisa menimbulkan aktivitas yang negatif.

Sejalan dengan pertumbuhan pembangunan di satu wilayah yang menyebabkan lokasi pasar tradisioal menjadi strategis, lanjut Rizal, merupakan keuntungan yang diperoleh pedagang yang telah merintis usahanya di sana sejak puluhan tahun.

“Jika daerah kemudian tidak mau berpikir dan tidak kreatif, begitu ada investor yang berminat untuk membangun hotel dan mal langsung dipersilakan. Harusnya pasar tradisional yang diperbaiki bukan diganti jadi hotel,” kata Rizal.

Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 11.000 pasar tradisional di Indonesia, dengan jumlah pedagangnya mencapai 12,5 juta orang.

Seperti diketahui pada Senin, 29 Maret 2010, ratusan pedagang berunjuk rasa menuntut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo segera memperbaiki pasar tardisional agar bisa bersaing dengan pasar modern yang kini bermunculan.

Tuntutan itu menyusul makin lemahnya daya saing pasar tradisional menghadapi toko modern yang mengakibatkan tujuh pasar tutup yaitu Pasar Blora, Cipinang Baru, Kramat Jaya, Cilincing, Muncang, Prumpung Tengah, dan Pasar Sinar Utara. Sumber: Bisnis Indonesia

Artikel Menarik Lainnya:

Re-branding Hero Supermarket menjadi Giant @ mesin kasir
Minimarket Tanpa Ijin Marak Bermunculan di Surabaya
Survei Bloomberg: 'Harga Emas Akan Turun Drastis'
Laci Kasir (Cash Drawer) "tips memilih yang sesuai dengan kebutuhan" @ Mesin Kasir

1 Comment

  1. rini says:

    tlg email sy jgn di published
    Saya setuju dgn Pak Rizal,agar pemerintah segera meremajakan pasar,asal harganya jgn melangit,shg begitu psrnya bagus yg untung bukan pedagang tapi para investor shg harg beli dan kontrak kios melangit pedangang hanya bisa menjerit.

Leave a Comment