Kalangan pelaku usaha ritel di Tanah Air meningkatkan jumlah stok tiga hingga empat kali dari kondisi normal seiring dengan pertumbuhan penjualan selama 3 bulan ke depan yang diperkirakan rata-rata naik dua sampai tiga kali.
Sementara itu, penjualan selama 3 bulan ke depan, Juni-Agustus, diperkirakan akan mencatat kontribusi yang cukup signifikan sehingga mampu menyokong target penjualan ritel modern tahun ini Rp100 triliun.

Salah satu gerai mini market, sudah saatnyakah mempersiapkan stok saat ini
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool mengatakan penjualan selama Juni-Agustus berpotensi mewakili 50-60% dari total target ritel modern di bawah Aprindo tersebut. Kontribusi terbesar berasal dari produk fashion yang juga diperkirakan menguasai pangsa pasar hingga 50-60%.
“Kami sudah melakukan rencana dan program promosi termasuk belanja stok. Setiap peritel sudah dari jauh-jauh hari berbicara dengan suplier untuk tingkatkan stoknya. Momentum 3 bulan ini sangat penting karena mewakili penjualan hingga 50-60% dari target kami,” kata Benjamin di sela-sela acara Kebangkitan Sarinah, hari ini.
Benjamin optimistis pertumbuhan penjualan selama 3 bulan tersebut mampu mendongkrak target penjualan ritel modern yang telah dipatok karena ada tiga momentum penting yakni lebaran, liburan sekolah, dan back to school.
Adapun sampai Mei, penjualan ritel modern telah mencatat kenaikan sebesar 10%-15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Penjualan ritel modern ini disokong oleh penjualan produk pangan dan nonpangan yang masing-masing tumbuh 10%-15%. “5 Bulan ini pangan dan nonpangan tumbuhnya sama, dua-duanya tumbuh 10%-15%.” Pertumbuhan penjualan ini dipicu oleh situasi ekonomi dan politik yang mulai kondusif dan ekspansi pembukaan toko dan gerai baru yang kian agresif. “Tahun lalu banyak pembukaan toko baru yang ditunda ke tahun ini.”
Dia melanjutkan pertumbuhan penjualan itu disokong oleh penjualan toko di luar wilayah Jabodetabek sebesar 60% dan sisanya sebesar 40% disumbang oleh penjualan toko di wilayah Jabodetabek. “Kontribusi dari luar Jabodetabek lebih tinggi karena banyaknya toko meskipun pembeliannya dalam jumlah kecil, sementara di Jabodetabek gerainya sedikit tapi pembeliannya banyak,” jelasnya.
Benjamin menambahkan penguasaan pangsa pasar produk lokal dalam gerai ritel modern kini telah mencapai 90%. Di department store sendiri, penyerapan produk lokal saat ini telah mencapai 95%. Sisanya 5% merupakan produk kosmetik, sepatu, dan mainan yang merupakan produk impor. “Yang lainnya sudah didominasi produk lokal,” sambungnya.
Sampai akhir tahun, kata Benjamin, pertumbuhan peritel di kisaran 5 hingga 10 toko. Kecilnya pertumbuhan retailer ini, sambungnya, justru terjadi di daerah-daerah kawasan timur Indonesia seperti Jayapura dan Ambon. “Keterbatasan kita banyak seperti di Jayapura dan Ambon. Sebenarnya ritel di sana tumbuh tapi terkendala lahan.
Sumber: Bisnis Indonesia




June 10th, 2010
mesin kasir
Posted in Uncategorized
Tags: 