Daftar Pejabat Pemerintahan Paling Bersih (Bagian III)

Dua pejabat pemerintahan telah dibahas di postingan sebelumnya, lalu siapa lagi pejabat lainnya yang termasuk dalam daftar ini. Mari kita simak bersama.
Pejabat berikutnya yang termasuk ke dalam daftar pejabat paling bersih adalah Satrio Budihardjo Joedono.

Satrio “Billy” Budihardjo Joedono (lahir di Pangkalpinang, Bangka, 1 Desember 1940; umur 72 tahun) adalah seorang ekonom Indonesia. Beliau menamatkan pendidikan tingkat atas di Kolese Kanisius.

Billy menjabat sebagai Menteri Perdagangan (1993-1995). Sebelum Departemen Perdagangan dijadikan satu oleh Presiden Soeharto dengan Departemen Perindustrian menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) pada tahun 1996, serta menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan 1998-2004.

Semasa memangku jabatan menteri perdagangan, di ruang kerjanya tersusun guci keramik dan beberapa lukisan.Tapi, ia mengaku membeli secara kredit, terhadap benda kegemarannya.”Saya tak mampu membelinya,”ujarnya.

Mitos tentang kesederhanaan Satrio Budihardjo Joedono?biasa dipanggil Billy?ini memang sudah lama tersebar. Di masa Soeharto, dia adalah satu-satunya menteri yang tinggal di apartemen sempit di kawasan Radiodalam, Jakarta Selatan, dengan televisi 14 inci dan sebuah sedan tua. Kalaupun sekarang anak Prof. H.R.M. Marsidi Joedono itu tinggal di sebuah rumah besar di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, itu karena ketika Billy diberhentikan sebagai Menteri Perdagangan (1995), penggemar cerutu Monte Cresto itu ditawari Pertamina membeli sebuah rumah besar tapi sudah agak rusak dengan harga sekitar setengah miliar rupiah (1996).

Mitos lainnya tentang Billy adalah ia pejabat yang lurus dan bersih. Dulu, sebagai Menteri Perdagangan, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini menentang monopoli PT Bogasari Flour Mills atas tepung terigu dan praktek Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh (BPPC), yang dikuasai Sudono Salim dan Tommy Soeharto. Ketika menjadi Ketua BPK, Billy pernah menolak menyerahkan audit versi panjang (long form) Bank Bali ke DPR karena di dalamnya ada informasi yang dilindungi Undang-Undang Kerahasian Bank?ada alur rekening keluar-masuk dari Bank Bali yang isinya menyangkut nama-nama sejumlah orang penting. “Kita tidak bisa membangun demokrasi dengan melakukan pelanggaran hukum,” kata lulusan Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, ini. Sejak diangkat menjadi Ketua BPK pada September 1999, doktor administrasi publik dari Universitas New York di Albany, AS, ini sudah memberi gereget pada lembaga auditor negara ini.

Alhasil, setiap semester, BPK mengeluarkan laporan hasil audit yang menggemparkan karena mencantumkan daftar penyimpangan dan kebocoran. Gebrakan BPK yang terbaru adalah soal audit bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). BPK menerjunkan tim audit ke sejumlah bank penerima BLBI untuk melakukan audit investigasi tentang siapa yang terlibat dan apa modus atas kesalahan yang terjadi. BPK juga telah memeriksa sejumlah pejabat di BI yang telah memberikan dana BLBI kepada bank-bank swasta. Hasilnya mencengangkan. Dari total dana BLBI yang mengucur, yaitu Rp 144,5 triliun, hanya 9,5 persen atau Rp 12,2 triliun yang jelas jaminannya. Banyak pihak yang kagum atas kerja Billy di BPK. Tapi, menurut dia, pujian itu berlebihan. Inilah wawancara lengkap Leanika Tanjung dan fotografer Bernard Chaniago dari TEMPO dengan Billy, selama dua jam, di ruang kerjanya di lantai 9 Gedung BPK, Jakarta.

Kesederhanaan pun memayungi rumahnya.Saat masih tinggal di kompleks perumahan menteri,ruang tamunya tidak beraroma kemewahan.Di ruang tamu rumah bernomor 25 itu,hanya terlihat rangkaian bunga di meja tamu. Di garasi, ada tiga mobil. Cuma satu yang dimilikinya,mobil tua. Sedangkan dua lainnya mobil inventaris sebagai menteri dan pinjaman BPPT.

Kesederhanaannya sempat merisaukan. Ini lantaran Billy akrab dengan tas kerja yang warna cokelatnya telah memudar. Petugas pun menggantikannya dengan tas baru saat ia menghadap ke Istana. Ia menerima tas pemberian tersebut tetapi tetap membawa tas lusuhnya. Bahkan, ia tidak canggung mengempit tas lusuh ataupun risih dengan menteri perdagangan dari negara lain, saat pertemuan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, November 1994 Lelaki yang karib dipanggil Billy ini pun dikenal tegas dan lurus. Ia tidak melayani dokumen yang tak memenuhi persyaratan lengkap. Billy pun dikenal cermat dalam mengunyah laporan bawahan. “Selamanya dua kali dua adalah empat, bukan delapan,” ini prinsip hidupnya. Sumber

Artikel Menarik Lainnya:

12 Pasar Tradisional Jakarta Diremajakan
Memilih Sistem Jaringan Untuk Kasir
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)
Perusahaan Lokal Hanya Akan Jadi Boneka Ritel Asing

Leave a Comment