Mesin Kasir | Barcode | Ritel

Entries tagged as ‘grosir’

Retail Besar Menjamur, Medan Terancam Jadi Kota Buruh @ Mesin Kasir

Juni 6, 2009 · 1 Komentar


Banyaknya investor asing dan nasional yang besar-besar masuk ke Kota Medan justru menjadi ancaman kota metropolitan di Sumut ini menjadi kota buruh.

Pemimpin Bank Indonesia (BI) Medan Romeo Rissal Panjialam mengatakan hal itu pada acara ‘BMPD Nite’ yang digelar santai di kolam renang Garuda Plaza Medan Kamis [12/02] malam.

Gubsu H Syamsul Arifin, SE bersama Asisten II Ekbang Drs Djaili Azwar hadir pada acara serius tapi dikemas santai ini yang membuat para peserta dari kalangan perbankan, termasuk Kabid Ekonomi dan Moneter BI Medan Maurids H Damanik juga lebih rileks. Apalagi diakhir acara disuguhi durian Bangkok yang lezat dengan iringan musik keyboard. Romeo menjelaskan retail raksasa seperti hypermart, carrefour, Indomaret, Alfamaret yang menyebar masuk ke pasaran Medan mengkhawatirkan kondisi kota ini ke depan. Untuk Indomaret saja di Sumut ada 40 dari rencana sekira 300. Secara nasional Indomaret ada 2.000.

Menurutnya, memang retail raksasa itu menguntungkan secara ekonomi. Pemerintah dapat memetik pajak dari sana, tenaga kerja banyak pula terekrut. Tak bagusnya karena investor itu pusatnya di Jakarta. Sedangkan dari sisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), justru menjadi ancaman yang pada gilirannya mereka hanya menjadi buruh di retail raksasa tersebut. Jadi kedatangan retail raksasa itu bukan mau memajukan ekonomi rakyat Sumut

Tasikmalaya sebagai contoh, dulunya kota bisnis para UKM, tapi setelah retail raksasa masuk, kota itu sekarang menjadi kota buruh. Masyarakat di sana banyak yang bekerja di retail raksasa dan meninggalkan UKM-nya.

“Kita tidak mau Medan seperti Tasikmalaya menjadi kota buruh. Oleh karena itu, perbankan perlu lebih memperhatikan dan fokus terhadap UMKM ini,” tegasnya.

Menurut Romeo, fungsi perbankan harus kembali kepada intinya yakni sebagai intermediasi di mana bank mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali melalui kredit ke sektor riil. Jadi bank jangan bermain di ‘alam ghaib’, kalau tak pandai-pandai malahan bisa hancur.

Romeo menilai sekarang banyak bank yang bermain di alam ghaib seperti bermain derivatif sampai 4 miliar dolar AS. Tiga perusahaan kalah bermain valuta asing tapi bank justru memproteksi nasabahnya.

Adalagi delapan perusahaan datang ke BI Medan, mereka main 20 juta dolar AS hingga 40 juta dolar AS. Untuk Sumut sendiri ada empat bank asing dan bank milik asing yang terlibat dalam permainan itu. “Jadi bank kembalilah kepada fungsinya sebagai intermediasi, tidak melakukan kegiatan di luar fungsinya,” tegas Romeo.

Ia menyarankan fokus ke UMKM lebih penting mengingat 80 persen ekonomi Sumut basisnya UKM. Oleh karena itu, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi rakyat, diperlukan beberapa upaya.

Tahun ini sampai Maret ada 50 ‘BMTMart’ yang menyebar di beberapa tempat dengan menjual produk kerajinan rakyat. Namun yang baru mau ikut ada 39 BMT. Intinya jangan menjual produk nasional saja, melainkan harus produk lokal. Soal lokasi, tidak sulit karena anggota BMT banyak seperti di Berastagi anggotanya ada 5.000. Di Sumut sendiri ada 180 BMT.

Selain itu, meluncurkan ‘Kampoes Digital’ sebagai pusat UMKM yang nanti akan mencetak 300 wirausahawan baru. Satu UMKM mendapat bantuan Rp8 juta.
oleh:berita sore

Kategori: artikel · berita · bisnis · econimic · konsumen · mall · marketing · mesin kasir · mini market · sektor riil · waralaba
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

12 jurus memenangkan persaingan franchise @ Mesin Kasir

Juni 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pasar franchise Indonesia tahun 2009 diwarnai dengan sikap kehati-hatian franchise lama. Mereka cenderung lebih selektif memilih mitra (franchisee) dan keinginan mengelola jaringan dengan model yang lebih ringkas. Investasinya pun cenderung naik. Di samping itu para pendatang baru juga banyak yang masuk ke pasar yang sebelumnya belum tersentuh franchise lama. Kesemua itu melahirkan jurus-jurus baru memasuki pasar franchise 2009. Jurus-jurus apa saja yang digelar para franchisor itu untuk memenangkan persaingan? Berikut di jurus-jurus baru

1. Memperkenalkan produk baru

Sejumlah franchise baru lahir dengan menyasar produk yang sebelumnya belum ada yang mem-franchise-kan. Aladin’s Restaurant, misalnya, menawarkan produk makanan khas India ke pasar franchise Indonesia. Dengan asumsi masyarakat Indonesia banyak yang menyukai film India, Imron Sulaiman yakin restoran Aladin’s-nya akan banyak peminat. Masih ada produk dan layanan baru yang masuk ke pasar franchise Indonesia sdeperti Gilang Ramadhan Studio Drummer yang menawarkan kursus bagi calon penabuh drum.

2. Screening mitra lebih ketat

Pada tahap awal ketika franchisor mencari mitra (franchisee) begitu datang calon investor segera disambar untuk dijadikan mitranya. Setelah berjalan sekian lama ternyata banyak mitra yang gagal unit franchise-nya. “Rata-rata mereka itu hanya investasi sedangkan pengelolaannya diserahkan pada pihak lain. Itulah sumber kegagalannya,” kata sejumlah franchisor. Untuk menghindari ini sejumlah franchisor menerapkan seleksi calon franchisee yang lebih ketat pada tahun ini. “Kami bukan mencari mereka yang punya uang tetapi mencari mereka yang mau jadi pengusaha,” ujar salah seorang franchisor.

3. Mengubah model/ukuran investasi

Paket murah memang memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi ditambah dengan periode balik modal yang pendek. Namun dari pengalaman para franchisee, paket investasi kecil ini ternyata keuntungan yang diperoleh juga tak bisa diandalkan untuk menutupi gaji jika ia keluar dari pekerjaannya. Karena itu paket ini tidak terlalu menggugah mereka untuk segera jadi pengusaha. Bahkan banyak di antara franchisee-nya yang meninggalkan usahanya dan mencari usaha lain atau kembali berkonsentrasi menjadi karyawan.

Sedangkan di pihak franchisor paket ini juga memerlukan perhatian dan tenaga lebih banyak sementara pemasukan yang diperolehnya dianggap tidak seimbang dengan tenaga yang dikerjakannya. Karena itu beberapa di antara mereka meningkatkan paket investasinya. Dari gerobak, sekarang meningkat dengan menawarkan paket mini kafe atau restoran. Peningkatan paket ini lebih banyak di industri makanan. Karena itu franchise-franchise lama cenderung menawarkan paket investasi yang lebih mahal (dan lebih besar ukuran gerainya), sementara paket-paket kecil dimasuki para pendatang baru dengan jenis produk yang berbeda.

4. Menambah brand

Ada kecenderungan franchise yang sudah berkembang baik dengan jumlah gerai yang banyak cenderung menambah brand baru sebagai salah satu cara ekspansi bisnisnya. Pertimbangan mereka, karena penambahan jumlah gerai untuk brand franchise pertama sudah optimal dan sulit melakukan ekspansi bisnisnya dengan menambah gerai baru. Karena itu pilihannya kemudian dengan melahirkan brand baru baik yang seindustri dengan franchise pertama atau tidak. Jika langkah ini sudah dilakukan umumnya untuk menambah merek ketiga dan seterusnya jadi makin cepat. Prosesnya bisa menciptakan brand sendiri atau mengakuisisi ide dan bisnis yang sudah ada.

5. Mengadopsi bisnis legendaris

Ada sejumlah franchise baru yang produk dan jasanya merupakan barang lama. Umumnya franchise ini dikembangkan oleh mereka yang sebelumnya sudah mengembangkan franchise.

6. Mengubah pola penanganan mitra

Salah satu poin yang umumnya diadopsi franchise-franchise yang lahir tiga tahun ke belakang adalah dengan adanya rapat periodik para franchisee. Namun karena belakangan sebagian menganggap ajang pertemuan ini tak konstruktif membangun bisnis, sejumlah franchise mulai meninggalkannya. Sekarang mereka lebih memilih melakukan kunjungan langsung ke masing-masing mitra (franchisee) yang dirasa lebih efektif dibanding rapat franchisee.

7. Paket sistem zona atau master franchisee

Untuk lebih memudahkan penanganan operasional jaringan franchise (dengan jumlah gerai yang banyak dan umumnya untuk paket investasi yang relatif rendah) pola dengan mengangkat satu wakil franchisor (agen atau master franchisee) di satu wilayah menjadi pilihan yang makin banyak yang menggunakan.

8. Go International

Jumlah franchise Indonesia yang membuka cabang di luar negeri makin banyak. Ekspansi ini tak hanya untuk mencari mitra tetapi juga menjadi alat untuk mempopulerkan brand yang bersangkutan di dalam negeri. Sedangkan dilihat dari pendapatannya relatif sama dengan di dalam negeri. Artinya dengan investasi yang sama apa yang diperoleh di dalam negeri tak jauh beda.

9. Paket lebih mahal

Paket investasi lebih mahal tak berarti ukuran gerai lebih besar. Belajar dari sejumlah franchisor, ada beberapa franchise yang mengubah besaran nvestasi karena investasi yang ditawarkan selama ini dianggap terlalu murah. “Buktinya mereka terlalu cepat balik modal,” kata seorang franchisor.

10. Go franchise
Sejumlah perusahaan besar mulai menawarkan franchise untuk menjual produknya langsung pada konsumen. Sebenarnya sudah sejak lama ini terjadi. Bogasari, misalnya, menawarkan paket-paket usaha makanan. Sekarang perusahaan besar yang melakukan ini makin banyak.

11. Fokus luar Jawa

Makin banyak franchise asal Jabodetabek yang mengembangkan bisnisnya ke luar Jawa mulai dari Medan, Batam, Pontianak hingga ke Papua. “Selama ini kita menganggap uang numpuk di Jakarta. Ternyata orang daerah pun banyak uangnya,” ujar ketua umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Perkumpulan Wali) Levita Supit.

12. Menggunakan jasa konsultan

Kebanyakan franchise kecil dikelola sendiri oleh pendirinya. Ketika jaringannya makin besar jasa konsultan diperlukan terutama untuk menyeleksi calon franchisee-nya. Namun pada umumnya para konsultan franchise diperlukan untuk membangun konsep franchise yang akan mereka jalankan. (Untuk selengkapnya, lihat di Majalah DUIT Edisi No.03/IV/Maret 2009).
Sumber : www.lintasberita.com

Kategori: artikel · berita · bisnis · econimic · ritel · sektor riil · ukm · waralaba
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

Depdag Kaji 600 Proposal Revitalisasi Pasar Tradisional @ Mesin Kasir

Mei 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Departemen Perdagangan (Depdag) saat ini mengkaji 600 proposal dari 300 daerah di seluruh Indonesia untuk program revitalisasi pasar tradisional. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag Gunaryo, pengajuan revitalisasi dalam proposal-proposal tersebut beragam mulai dari rehabilitasi total, pertambahan luasan, atau sekadar renovasi fisik.

Pasar Beringharjo Salah Satu Dari Pasar Induk Tradisonal Di Indonesia

Pasar Beringharjo Salah Satu Dari Pasar Induk Tradisonal Di Indonesia

“Untuk program revitalisasi pasar tradisional, saat ini masih dalam pembahasan dewan anggaran di Departemen Keuangan. Kalau panitia anggaran DPR sudah setuju, yang pasti, kami berharap implikasi revitalisasi pasar dapat beroperasi mulai Oktober-November 2009,” tutur Gunaryo di Jakarta, Selasa (5/5).

Dia menambahkan, dana yang akan disalurkan ke masing-masing proposal tergantung daerah lokasi pasar dan kasus yang diajukan. Dia memperkirakan, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 3 miliar. Dana untuk revitalisasi pasar, lanjut Gunaryo, berasal dari stimulus fiskal, dana alokasi khusus (DAK), dan dana perbantuan.

“Mekanismenya, proposal-proposal itu akan dibahas bersama pemda (pemerintah daerah). Untuk penentuan dana, proposal-proposal itu harus melalui persetujuan dari Dinas PU (Pekerjaan Umum, red). Karena Dinas PU pasti mengetahui standar terkait dana untuk rehabilitasi dan kebutuhannya,” jelas Gunaryo.

Pasar Johar Semarang, Salah Satu Pasar Tradisonal Legendaris

Pasar Johar Semarang, Salah Satu Pasar Tradisonal Legendaris

Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah pusat meminta pemda mulai 2010 meningkatkan anggaran untuk pemeliharaan pasar tradisional.

Berdasarkan survei Nielsen, pertumbuhan pasar tradisional pada kuartal pertama 2009 sekitar 5,5% dibandingkan periode sama 2008. Pada Maret 2009, pasar tradisional bertumbuh 0,3% dibandingkan bulan yang sama 2009.

Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan ritel modern yang mencapai 12,7% pada kuartal pertama 2009. Sedangkan pada Maret 2009, ritel modern meningkat 11,2% dibandingkan bulan yang sama 2008.

Menanggapi hal itu, Gunaryo mengatakan, pertumbuhan pasar tradisional tidak dapat dinilai hanya dari satu fisik pasar saja. Namun, harus ditelaah perkembangan para pedagang pasar tradisional itu sendiri. “Kalau surveinya dilakukan dengan seperti itu, baru bisa dibandingkan. Jangan hanya dari satu pasar saja dan mengabaikan banyak pedagang tradisional di dalamnya,” ucap Gunaryo.

Persaingan pasar modern dan tradisional makin ketat. Mau tak mau pasar tradisional harus berbenah diri. Revitalisasi menjadi sebuah keharusan. Kalau tidak, pasar tradisional yang menjadi penggerak ekonomi daerah bakal merana ditinggalkan pembeli.

Sosok lain Pasar Palmerah Jakarta

Sosok lain Pasar Palmerah Jakarta

Sekretaris Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Guritno Kusumo mengatakan, sebanyak 86 pasar tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia mulai dibangun dan direvitalisasi sejak dua bulan lalu. Namun, ada beberapa pasar yang tidak memenuhi syarat.

“Kami terpaksa memindahkan ke titik pasar tradisional lain yang lebih siap dan memenuhi syarat. Ada 8 pasar yang tidak memenuhi syarat lalu dipindahkan dan sekarang sudah tidak ada masalah,” katanya di Jakarta, Kamis (14/5).

Kementerian UKM menargetkan program tersebut akan rampung dalam setahun ke depan. “Target selesai tahun ini karena membangun fisik jadi kira-kira perlu waktu satu tahun,” katanya.

Pasar Palmerah

Pasar Palmerah

Sebelumnya, Kementerian Negara Koperasi dan UKM menyetujui usulan 78 pasar tradisional untuk direvitalisasi pada 2009 dari target 91 titik pasar dan 13 sarana pedagang kaki lima (PKL) di seluruh Indonesia.

Melalui dana stimulus perekonomian yang jumlahnya Rp 12,2 triliun, Kementerian Negara Koperasi dan UKM mendapat alokasi dana Rp 100 miliar untuk program revitalisasi pasar tradisional dan pedagang kaki lima. Oleh karena itu, pihaknya segera merevitalisasi 91 titik pasar tradisional di 87 kabupaten.

Namun, hanya 78 yang dinyatakan memenuhi syarat sedangkan sisanya terpaksa harus dialihkan ke daerah lain karena tidak memenuhi kriteria yang diminta. Misalnya saja di Buleleng, Bali, yang terpaksa dialihkan ke kabupaten lain karena tidak siap.

Berbeda dengan nasib 86 pasar tradisional tadi yang direvitalisasi, para pedagang di Pasar Koja Baru, Jakarta Utara sejak bangunan pasar itu dibongkar pada 28 Januari lalu, pendapatan mengalami penurunan sekitar 80% akibat sepinya pengunjung.

Ketua Dewan Pembina Keluarga Besar Pedagang Pasar Koja Baru Edi Nawawi, mengatakan sebelum pasar itu dibongkar pendapatan sehari rata-rata mencapai Rp 1,5 juta. Namun, sejak para pedagang menempati tempat penampungan sementara pendapatan Rp 300 ribu per hari saja susah.

Menurutnya, tempat penampungan sementara para pedagang yang disediakan PD Pasar Jaya sudah tidak layak lagi karena pada saat turun hujan atap-atapnya bocor. ”Sementara saat cuaca cerah, hawa panas menyengat sehingga membuat para pedagang gerah berjualan dan para pengunjungpun mulai enggan mengunjungi pasar itu,” katanya.

Pengamat ritel, Handaka Santosa mengatakan selain pemerintah merevitalisasi dan membangun pasar tradisional, yang harus dipikirkan adalah bagaimana sektor ritel kecil bisa bersaing di tengah kompetisi yang ketat. Ia memberikan gagasan terbentuknya kantor pembelian bersama atau buying office agar ritel kecil bisa menghadapi ritel modern asing.

Handaka mencontohkan, pelaku pasar ritel membeli super mie 1-2 box saja. Sedangkan pengusaha kuat membeli 1.000 box sehingga harganya lebih murah dan harga jual ke konsumen juga lebih murah. “Seharusnya Kementrian UKM membuat kantor pembelian bersama, buying office,” ucapnya.

Kembali ia mencontohkan, di Jakarta Barat terdapat Pasar Slipi, Palmerah, dan Pasar Tanjung Duren. Suplai ketiga pasar tersebut seharusnya berasal dari satu kantor pembelian bersama.

”Fakta sudah berbicara, tinggal 60% konsumen memilih pasar tradisional. Jangan sampai tahun depan tinggal 55% dan tahun berikutnya 50%. Lama-lama tinggal berapa belas persen seperti yang terjadi di Singapura.” pungkasnya. [E1]

(eme) Sumber:Investor dan Inilah

Kategori: bisnis · ritel · sektor riil
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Depdag Siap Tindak Pe-Ritel Nakal @ Mesin Kasir

Mei 12, 2009 · 1 Komentar

Departemen Perdagangan (Depdag) akan menindak tegas peritel nakal. Namun Depdag tak bisa bertindak langsung mencabut izin mereka. Jika ada peritel yang terbukti melanggar Perpres No. 112/2007 atau Permendag No.53/2008, maka Depdag akan merekomendasikan kepada pemerintah daerah (pemda) untuk mencabut izin usaha peritel bersangkutan.

Kompleks Pertokoan dimana Banyak Terdapat Ritel Modern

Kompleks Pertokoan dimana Banyak Terdapat Ritel Modern

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan dalam Negeri Depdag Gunaryo menandaskan, pihaknya memang tidak punya kewenangan mencabut izin usaha sebuah peritel. Depdag hanya bisa memberi rekomendasi pencabutan izin kepada pemda selaku pemberi izin. “Pelaksanaannya tergantung pemda, saya kira mereka juga akan hati-hati menerapkannya,” ujar Gunaryo, akhir pekan lalu.

Mengenai bentuk pelanggaran yang bisa dijatuhi sanksi pencabutan izin, berbeda-beda tergantung peraturan daerah setempat di mana posisi peritel tersebut berada.

Dalam Perpres No.112/2007, pemerintah membatasi biaya syarat perdagangan hanya 7 jenis, yaitu potongan harga reguler, potongan harga tetap, potongan harga khusus, potongan harga promosi, biaya promosi, biaya distribusi, serta biaya administrasi pendaftaran barang. Sementara, Permendag No.53/2008 menentukan nilai maksimal fixed rebate (potongan harga tetap), conditional rebate (potongan harga khusus), dan listing fee.

Rekomendasi bersama

Tindakan bagi peritel yang memungut biaya di luar kedua aturan tersebut, baru bisa diambil berdasar laporan yang masuk ke Forum Bersama yang dibentuk Depdag. Forum tersebut terdiri dari peritel, pemasok, pengelola pasar tradisional, toko modern, dan pemerintah.

Gerai Ritel Kelas Hipermarket

Gerai Ritel Kelas Hipermarket

Namun Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Rudy Sumampouw tidak setuju jika forum memberikan rekomendasi seperti itu. “Forum kan sebagai mediasi mencarikan solusi, kasih kesempatan dong peritel untuk ikut ketentuan pemerintah,” ujarnya.

Untuk permasalahan trading term, Gunaryo mengatakan mendukung sepenuhnya pengusutan yang dilakukan KPPU. “Ini sudah menjadi kebijakan pemerintah dalam sektor ritel,” tukasnya.

Terkait penanganan laporan yang masuk, Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi mengatakan masing-masing pihak punya dasar hukum yang berbeda. “Kita saling melengkapi saja,” katanya.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dapat dukungan dari Departemen Perdagangan terkait penelusuran persyaratan dagang yang dilakukan peritel modern. Gunaryo, Sekretaris Ditjen Perdagangan Dalam Negeri menyebutkan, Departemen Perdagangan (Depdag) juga sudah membentuk tim bersama yang terdiri dari pemasok peritel hingga KADIN untuk bersama-sama menuntaskan permasalahan ritel yang ada di Indonesia. “Kami terus melakukan komunikasi agar permasalahan ritel seperti trading term dapat diselesaikan,” ujarnya kepada KONTAN, Kamis (7/5).

Menurut Gunaryo, Depdag mendukung sepenuhnya KPPU untuk mengusut permasalahan trading term atau syarat perdagangan peritel modern. “Kami dukung karena memang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam sektor ritel,” ujarnya.

Dia menegaskan, forum bersama yang kini dibentuk antar berbagai stakeholder merupakan amanat Perpres No. 112/2007 dan Permendag No. 53/2008. “Forum ini terbentuk bukan atas inisiatif siapapun, namun amanat Permendag,” ujarnya. Dia memang mengakui telah menerima banyak laporan mengenai pelanggaran peritel modern yaitu menerapkan biaya syarat perdagangan yang tinggi meski sudah dilarang. “Saya terima laporan yang masuk via email,” ujarnya.

Hanya saja, Depdag tak bisa serta merta memanggil peritel. “Mekanismenya tak mesti dipanggil, bisa juga dengan memberikan keterangan tertulis terlebih dahulu,” ujarnya. Meski begitu jika bukti pelanggaran peritel modern sangat jelas, Depdag bisa saja memberikan sanksi terberat, seperti mencabut izin usaha. Sedangkan KPPU akan memberi denda yang tinggi jika peritel masih menerapkan syarat perdagangan yang memberatkan. “KONTAN”

Kategori: artikel · berita · ritel
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bisnis Ritel: Pengunjung Masih Tetap Ramai @ Mesin Kasir

April 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Konsumen akan menahan diri membeli barang sekunder dan tersier. Perusahaan ritel pun menyusun rencana mengantisipasi penurunan daya beli dan persaingan yang makin ketat. Industri ritel diperkirakan tumbuh rata-rata 15%.
Akibat krisis, beberapa orang mengaku menunda rencana membeli mobil. Begitu juga dengan rencana mengganti sofa dan membeli TV LCD, semua harus dijadwal ulang. Mereka lebih memprioritaskan pemakaian dana untuk mencukupi kebutuhan primer, seperti pangan dan konsumsi harian lainnya.

Inovasi bisa membantu ritel untuk bertahan di masa krisis

Inovasi bisa membantu ritel untuk bertahan di masa krisis

Menurut Irawan D. Kadarman, general corporate affairs PT Carrefour Indonesia, sejak 2008, komposisi penjualan produk pangan makin dominan, terutama pasca-kenaikan harga BBM pertengahan tahun lalu. “Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen hanya membeli kebutuhan primer,” kata dia. Sayangnya, Irawan enggan menyebutkan berapa besar angka kenaikannya. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa kondisi demikian akan terus terjadi pada 2009.

Pernyataan Irawan ini sesuai dengan prediksi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang mengatakan bahwa pertumbuhan ritel di Indonesia masih berada di kisaran 10%–15%. Ini untuk ritel yang menjual jenis fast moving consumer goods (FMCG), yang di dalamnya ada produk makanan dan minuman, toiletries, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Meski Krisis Beberapa Ritel Tetap Panen dan Ramai

Meski Krisis Beberapa Ritel Tetap Panen dan Ramai

Adapun pertumbuhan untuk ritel non-FMCG, seperti department store atau penjualan barang elektronik, hanya akan tumbuh 5%–10%. “Barang yang nonprimer, seperti pakaian dan alat-alat elektronik, memang akan kena imbas krisis lebih besar, karena konsumen melakukan pengetatan bujet,” ujar Yongky Surya Susilo, direktur retailer service PT ACNielsen Indonesia. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pertumbuhan industri ritel sangat tergantung pada fluktuasi tingkat inflasi. Yongky sendiri meyakini tingkat inflasi pada 2009 hanya akan berkisar 6%–7%, sesuai prediksi pemerintah.

Menurut Rudy R.J. Sumampouw, sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, semester I-2009 akan menjadi awal yang berat bagi industri ritel. “Pada semester I, seluruh pelaku usaha ritel akan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah,” kata dia. Namun, untuk semester selanjutnya, Rudy memprediksi pertumbuhan bisnis akan berangsur normal. “Asalkan, selama Pemilu 2009 tidak terjadi kekacauan,” imbuh dia.

Senada dengan Rudy, Yongky pun memprediksi pertumbuhan ritel akan terus tinggi jika pemilu berjalan lancar. “Menjelang Pemilu 2009, consumer confidence akan makin baik. Hal ini tercermin dari tiga kali pemilu yang sudah pernah digelar yang aman dan tidak terjadi kerusuhan. Pemilu dinilai mampu memberi harapan terhadap sebuah perubahan,” jelas Yongky.

Sayangnya, kata Yongky, banyak pelaku bisnis ritel yang terlalu panik menghadapi tidak menentunya kondisi di tengah krisis. Padahal, sejatinya, permintaan masih akan tetap tinggi. “Imbas krisis global ini membuat pelaku bisnis ritel sudah cemas duluan. Padahal, kita belum terkena dampak yang sebenarnya,” keluh dia. Rudy pun mengungkapkan hal senada, yakni adanya kepanikan di tingkat produsen karena distributor mengurangi order di saat permintaan konsumen masih tinggi. Menurut dia, sikap wait and see masih akan terjadi hingga paro pertama 2009.
Perubahan Gaya Belanja

Kendati pertumbuhan diprediksi akan mencapai 15%, bukan berarti pelaku bisnis ritel tak mendapatkan tantangan. Carrefour, misalnya, terus berbenah menghadapi menurunnya daya beli masyarakat. Belum lagi kompetisi antarpengusaha ritel yang juga makin ketat. Irawan pun menuturkan langkah yang diambil perusahaannya. Di antaranya, menjual barang dengan harga yang kompetitif, menyediakan produk yang lebih beragam, serta menciptakan suasana belanja yang nyaman. “Ketiga hal inilah yang mendasari inisiatif kami membuat berbagai program marketing yang berorientasi pelanggan. Di tiap gerai, kami menawarkan produk sesuai dengan karakter konsumen di wilayah tersebut,” ungkap dia.

Saat ini, hipermarket berlabel Carrefour ini sudah memiliki lebih dari 43 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang, dan Makassar. Namun, penambahan gerai masih tetap masuk dalam target ekspansi Carrefour. Jelas Irawan, “Kenaikan penjualan dari gerai existing dan pembukaan gerai baru menjadi faktor penting dalam pertumbuhan Carrefour Indonesia.”

Yongky optimistis pertumbuhan ritel masih tinggi, karena masih adanya pelaku industri yang terus melakukan ekspansi usaha. Tak bisa dimungkiri, rule of the game dalam industri ini adalah menambah gerai sebanyak mungkin. Hanya saja, Rudy mengatakan bahwa ekspansi pada tahun ini tidak akan sederas tahun-tahun sebelumnya, karena adanya ancaman krisis. “Misalnya, yang tadinya akan berekspansi dengan membuka 20 gerai, lalu karena krisis diubah menjadi hanya 10 gerai,” tandas Rudy. Hal ini terjadi karena perbankan memperketat likuiditas yang membuat pengembang kesulitan mendapatkan kucuran dana untuk membangun pusat-pusat perbelanjaan. Alhasil, peritel pun menunda hasrat untuk membuka gerai di mal atau pusat perbelanjaan.

Hal yang menarik, ACNielsen memprediksi pertumbuhan minimarket justru akan mencapai 30%. Adapun hipermarket masih terus tumbuh pada kisaran 20% dibandingkan tahun lalu. “Pemain besar di kelas minimarket, seperti Indomaret dan Alfamart, bukannya ngerem, malah akan tancap gas selama 2009. Sebab, membuka minimarket jelas lebih mudah, terlebih dalam hal penyediaan lokasi,” imbuh Yongky.

Selain itu, gaya belanja sebagian konsumen juga mengalami pergeseran, dari yang semula memilih berbelanja di supermarket atau hipermarket, sekarang beralih ke minimarket. Penyebabnya, tentu saja, karena alasan irit biaya. “Konsumen akan cenderung membeli dalam jumlah sedikit atau produk yang dikemas dengan ukuran yang lebih kecil. Dan, karena letaknya di dekat rumah, maka mereka akan lebih irit ongkos,” pungkas Yongky. *Warta Ekonomi*

Kategori: artikel · bisnis · krisis ekonomi · krisis keuangan · ritel · sektor riil
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

70% Konsumen Kurangi Pengeluaran @ Mesin Kasir

April 6, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

oleh : Sepudin Zuhri

(bisnis.com): Sekitar 70% konsumen mengurangi pengeluaran dalam menghadapi krisis global saat ini, menurut hasil riset Ipsos.

Penelitian itu dilakukan di Jakarta terhadap 585 responden ibu rumah tangga kelas menengah ke atas. Selain mengurangi pengeluaran, 53% konsumen berusaha menambah pendapatan untuk meningkatkan pendapatan.

Direktur Pelaksana Ipsos Indonesia Iwan Murty mengatakan keadaan konsumen di Indonesia tidak jauh berbeda dengan konsumen di negara Asia Pasifik.

“Konsumen berusaha mengurangi pengeluaran terutama kebutuhan tersier. Produsen harus tanggap dengan perilaku konsumen itu,” ujarnya dalam jumpa pers hari ini.

Menurut dia, produsen harus mampu memberikan nilai tambah tanpa perlu memotong harga secara permanen. Ipsos merupakan perusahaan riset pasar berskala internasional terbesar ketiga di dunia dengan kekuatan pada sisi inovasi untuk setiap produknya.

Pengurangan belanja kebutuhan rumah yang dilakukan konsumen tersebut, katanya, akan semakin memperbesar penurunan pertumbuhan ekonomi.

Kategori: artikel · econimic · grosir · ukm
Tagged: , , , ,

Industri Ritel Indonesia, Krisis Menjepit Ritel Premium @ Mesin Kasir

Maret 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Krisis membuat bisnis ritel kelas kelas atas atau premium semakin tertekan. Daya beli masyarakat menurun sementara biaya operasional membengkak membuat persaingan di bisnis ini semakin ketat. Sebagian memilih menahan laju ekspansi, sebagian mundur.

Pemain di sini harus menyesuaikan diri. Yang terbaru adalah Parisian, department store premium milik PT Matahari Putra Prima. Beberapa gerai Parisian sudah kembali berubah wajah menjadi Matahari yang menyasar kelas menengah atas. Sebelumnya, sebagian gerai Parisian merupakan bekas gerai Matahari. Danny Kojongian, Direktur Komunikasi Korporat PT Matahari Putera Prima, pengelola Parisian, mengaku perusahaannya terkena imbas ketatnya persaingan ritel premium yang ceruknya sangat kecil. “Kami sadar, kekuatan kami ada di kelas menengah atas, bukan di high class,” ungkapnya, Selasa (17/3). Alhasil, Matahari memutuskan membatalkan rencana mengembangkan 15 gerai Parisian tahun ini. Sebagai gantinya, Matahari mengembangkan gerai Matahari New Generation yang tingkatannya selevel lebih rendah dari Parisian. Saat ini, gerai ini sudah ada empat di Jakarta. Meski begitu, Danny menampik anggapan bahwa penutupan Parisian lantaran ia tergencet peraturan pengetatan produk impor, khususnya garmen. “Kami memajang produk garmen lokal. Tapi, kami memang harus berhati-hati melihat penurunan daya beli masyarakat,” katanya. Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool memastikan pengaruh kebijakan pengetatan impor tekstil dan produk tekstil (TPT) bagi bisnis ritel masih kecil. “Dari total barang yang dijual peritel, 90% merupakan buatan lokal,” ujarnya yang juga Presiden Direktur PT Matahari Putera Prima.

Dewi Kertanegara, Direktur PT Star Maju Sentosa, pengelola Star Department Store milik Grup Summarecon mengiyakan hal ini. “Kami mengambil sebagian besar merek dan produk buatan dalam negeri,” ungkapnya. PT Mitra Adi Perkasa (MAP), pengelola beberapa department store premium, juga memilih menahan ekspansi. “Maaf, saya tidak bisa berkomentar,” elak Ratih D. Gianda, Group Head of Investor Relations MAP. Aprillia Ika, Anastasia Lilin Y, Yudo Widiyanto KONTAN

Kategori: artikel · krisis ekonomi · krisis keuangan · ritel · sektor riil · waralaba
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Laba Carrefour 2008 turun 45% @ Mesin Kasir

Maret 12, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Carrefour SA, peritel terbesar Eropa, melaporkan labanya merosot 45% tahun lalu akibat melemahnya penjualan dan penurunan harga.

Pendapatan bersih turun menjadi 1,27 miliar euro (US$1,6 miliar) dari 2,3 miliar euro pada 2007, ungkap perusahaan yang berbasis di Paris tersebut. Laba perusahaan, termasuk pajak 126 juta euro, lebih rendah dari estimasi rerata 15 analis sebesar 1,82 miliar uero. Laba operasional bertahan pada level 3,3 miliar euro.

Carrefour mengurangi target penjualan dan labanya dua kali pada fiskal tahun lalu dan menempatkan Lars Olofsson menggantikan Jose Luis Duran sebagai chief executive officer (CEO).

Perusahaan itu terpukul oleh menurunnya tingkat kepercayaan konsumen di Prancis–pasar terbesarnya–mendekati titik terendah di Desember. Keadaan ini memaksa peritel itu menurunkan harga.

“Carrefour tetap merupakan salah satu perusahaan di sektor tersebut yang diperkirakan memperoleh keuntungan terkecil. Sebagian besar perusahaan di sektor tersebut juga mengalami penurunan penjualan dan keuntungan,” ujar analis Jaime Vazquez dari JPMorgan Chase & Co.

Laba bersih dari recurring operaion turun 33% menjadi 1,26 miliar euro, lebih kecil dari 1,81 juta euro seperti diprediksi rerata 11 analis dalam survei Bloomberg. Estimasi median untuk aktivitas kontribusi yaitu sebesar 3,32 miliar euro.

Harga saham Carrefour meningkat 58 sen atau 1,3% menjadi 44,02 euro di perdagang Paris kemarin. Harga saham tersebut turun 17% tahun ini, melanjutkan penurunan 48% di 2008. Source: Bisnis Ind & Bloomberg

• Sales ex‐VAT: up 5.9% at €87bn (+6.4% at constant exchange rates)
• 2008 Activity Contribution: up 0.3% at €3,300m
• Non recurring charges: €524m including €396m of impairment charges
• Net income from recurring operations, Group share: ‐32.8% at €1,256m
• Free cash flow: €1.9bn vs. €691m in 2007
• Proposed dividend unchanged at €1.08 per share


Kategori: artikel · bisnis · ritel
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Hypermarket Tunda Ekspansi @ mesinkasir

Maret 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

SURABAYA – Jaringan hypermarket di bawah Grup Matahari, Hypermart, memutuskan menunda rencana pembukaan dua gerai baru di Surabaya dari semula tahun ini menjadi tahun depan. Itu terkait dengan perlambatan pembangunan dua proyek pusat perbelanjaan atau mal.

Regional General Manager Hypermart Arifin Mulyawan mengakui, ekspansi perusahaannya harus mengikuti penyelesaian dua mal itu. Rencananya, Hypermart akan membuka gerai baru di Grand City di kawasan Gubeng dan Lenmarc di kawasan Bukit Darmo, Surabaya barat.

”Hingga saat ini, rencana ekspansi Hypermart di Surabaya ya baru di dua tempat tersebut,” katanya saat dihubungi kemarin (4/3).

Dia mengaku, pihaknya juga belum punya rencana ekspansi di kota lain di Jatim. Terakhir, Hypermart membuka gerai di Madiun pada 15 Januari lalu. ”Tahun ini ekspansi di Jatim agak melambat karena melambatnya penyelesaian mal,” tuturnya. Ekspansi hanya dilakukan di Jakarta, Jawa Tengah, Jogjakarta, Lampung, dan Kalimantan Timur.

Menurut dia, Hypermart juga tidak akan menjadi independent store. Tapi, tetap bergabung dengan mal karena dinilai lebih menguntungkan dalam menjaring konsumen. Hanya, pihaknya tetap mengoptimalkan gerai yang ada.

Store General Manager Hypermart Royal Plaza Anton Sujiono menyebut, selama dua bulan pertama tahun ini transaksi harian di gerainya menurun sekitar 5 persen. ”Biasanya, setiap hari tercapai dua ribu transaksi,” ungkapnya. Penjualan groceries tetap mendominasi (60 persen). Disusul produk nonfood 25 persen, dan produk fresh 15 persen.

Untuk memacu transaksi, Hypermart menawarkan diskon khusus bagi pemegang kartu MCC (Matahari Club Card). Ini berlaku pada 26 Februari hingga 1 Maret lalu. ”Responsnya bagus. Rata-rata transaksi mencapai 6.500 per hari,” jelasnya.(jan/dwi) (Jawa Pos, March 4th 2009)

Kategori: artikel · ritel
Tagged: , , , ,

Aturan Trading Term Terbuka untuk Revisi @ Mesin Kasir

Februari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Komisi VI DPR mengingatkan, pemerintah hendaknya menciptakan hubungan yang adil antara peritel moder, pasar tradisional, dan pemasok. Oleh karena itu, pemerintah harus merevisi bila pelaksanaan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) RI No 53/M-DAG/PER/12/2008 tidak sesuai dengan tujuan itu.


Hal itu diungkapkan Ketua Komisi VI DPR Toto Daryanto seusai rapat kerja dengan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Dalam rapat itu, Mendag menjelaskan, penerbitan Permendag 53/2008 bertujuan untuk menjaga keseimbangan posisi antara ritel modern, ritel tradisional, dan pemasok sehingga tercipta hubungan yang adil. “Jika dalam pelaksanaannya tidak sesuai tujuan, aturan itu akan direvisi,” tegas Toto.

Sebelumnya, kalangan pemasok yang tergabung dalam Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (Apgai) menyatakan keberatan dengan aturan itu. Aturan itu justru menyulitkan Apgai untukmembuat kontrak dengan departement store. Sebab, Departemen Perdagangan (Depdag) keliru menempatkan department store dalam penetapan aturan itu.

Keberatan juga disampaikan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dan Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo). APPSI menilai, aturan itu tidak mengakomodasi kepentingan pasar tradisional, tetapi lebih banyak mengatur trading term antara ritel modern dan pemasok.

Padahal, menurut Aprindo, aturan trading term sangat merugikan pebisnis ritel karena merinci batasan nilai dan persentasenya. Batasan itu mencakup potongan harga tetap (fixed rebate), potongan harga khusus (conditional rebate), dan biaya administrasi pendaftaran barang (listing fee).

Dalam rapat kerja kemarin, Komisi VI DPR mempertanyakan alasan Departemen Perdagangan yang mengatur secara rinci trading term. Sebagai pedoman, Mari Elka Pangestu menjanjikan, Permendag tentang pedoman penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern itu bersifat fleksibel. “Ketentuan itu harus disesuaikan dengan kontrak businnes to businnes (B to B) yang terjadi,” jelas Toto.

Komisi VI DPR akan mengawal implementasi permendag itu sekaligus mengevaluasi dan memantaunya. “Kami memegang omongan Menteri Perdagangan yang mengatakan bahwa peraturan itu adalah sebagai pedoman yang tidak akan mengganggu fleksibilitas azas kebebasan berkontrak B to B,” kata Toto.

Komisi VI DPR juga memberikan kesempatan kepada Forum Komunikasi yang akan dibentuk untuk menyelesaikan persoalan yang timbul akibat peraturan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mari Pangestu menegaskan, Permendag 53/2008 tidak mengabaikan kebebasan berkontrak antara B to B.

Dia berdalih, peraturan itu justru memberi keberpihakan terhadap pemasok yang tergolong usaha mikro kecil dan menegah (UMKM). “Pada saat terjadi kontrak B to B, peraturan itu bisa dijadikan sebagai pedoman,” ujar Mari.

Bila kemudian terjadi persaingan usaha tidak sehat, masalah itu akan diselesaikan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). “Memang tidak semua pihak bisa puas dengan peraturan itu. Tapi, kata kuncinya, peraturan itu adalah pedoman,” kata Mari.

Pada 30 Desember 2008, Aprindo telah mengirimkan surat kepada Mendag Mari Elka Pangestu guna meminta solusi terkait aturan trading term. “Keberatan kami belum dijawab tertulis dan akhirnya dijawab dengan membentuk Forum Komunikasi,” ujar Ketua Umum Aprindo Benjamin J Mailool.

Komisi VI DPR mempertanyakan fungsi forum komunikasi yang diatur dalam permendag tersebut. Forum tersebut mestinya difungsikan tidak sekadar menerima dan menyampaikan masukan dari pihak terkait seperti fungsi help desk. Forum Komunikasi harus bisa efektif dan betul-betul menyelesaikan masalah dengan memperhatikan kepentingan semua pihak. ***(Investor)

Kategori: artikel · bisnis · econimic · grosir · mall · ritel · sektor riil · ukm · waralaba
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,